Episode 6
***
ARKISHA
.
Gue selesai beresin piring, terus mandi deh, abis itu ganti baju pake dress lain plus syal di leher.
Gue ke balkon, persis di luar jendela kamar gue, terus duduk di trotoar mini sambil ngeliatin ke luar. Mata gue fokus ke bintang-bintang.
Pikiran gue melayang ke omongan Bibi siang tadi. Gimana sih dia mikir gue bakal nikah. Gue baru dua puluh lima tahun, baru lulus kuliah juga belum lama. Gue tau budaya gue emang gak masalah nikah muda, tapi gue masih ngerasa banyak yang pengen gue capai, dan gimana gue yakin bisa jatuh cinta sama pria lain?
Gue tau dulu gue sama Shak masih bocah, tapi lebih dari itu, gue beneran ngerasa sesuatu sama dia.
Gue masih asik mikir sampe gak sadar Veera udah ada di kamar gue, sampe dia ngomong.
"Jangan bilang lo masih ngelamun pas udah malem gini?" tanya dia, dan gue kaget sampe hampir loncat, megangin bagian dada tempat jantung gue.
"Lo bikin kaget, Veera. Ya ampun, lo lebih parah dari Pihu sama Kuhu," seru gue, ngeluarin napas panjang yang gak gue sadari gue tahan.
"Kok bisa sih lo masuk ke sini?" tanya gue, berdiri dari trotoar dan jalan masuk ke kamar. Gue nyalain lampu, terus ke meja rias buat lepas gelang-gelang gue yang tersisa.
"Bibi tau gue di sini," jawab dia, loncat ke kasur gue kayak kontainer sampah yang diturunin.
Gue ketawa kecil sebelum jawab, "Veera, ada apa sih?"
Gue sama Veera udah temenan dari lama banget. Kita kayaknya dibesarin bareng. Walaupun Veera setahun lebih tua dari gue, tapi kita hampir keliatan seumuran. Veera dari keluarga berada, dan mereka juga punya pengaruh di masyarakat. Seringkali gue mikir kenapa kita masih temenan, soalnya gue ngerasa dia bisa dapet yang lebih baik dari gue.
"Archi, lo gak bakal percaya siapa yang gue liat pas pulang kuliah," kata dia dengan mata berbinar, dan gue bisa nebak dia lagi kesengsem sama orang ini.
"Emang lo ngapain di kampus?" tanya gue, tapi dia gak mau jawab.
"Bukan itu intinya. Harusnya lo nanya siapa yang gue liat, bukan dari mana gue. Coba ngikutin, Archi," dia merengek, keliatan kesel.
"Terus siapa yang lo liat kali ini? Putra gubernur?"
"Lebih bagus dari itu. Gue cuma liat sekilas pas dia lagi nyetir mobilnya, dan gue yakin banget pria ini yang terbaik buat gue," komentarnya.
Gue muter mata. "Lo ngomong gitu ke setiap cowok yang lo temuin. Terakhir kan Putra Tiwari, dan lo lupa keributan yang lo bikin sebelum itu soal Mohit? Lo sampe bikin tulisan buat ngejauhin cewek-cewek lain dari dia."
"Tch," dia mendecih. "Gue tau lo gak bakal percaya, tapi gue ngerasa jantung gue berdebar di sini," dia narik tangan gue dan naruh di dadanya. "Kayaknya gue jatuh cinta," tambahnya sambil muter-muter di kamar.
"Andai semudah itu," kata gue.
"Percaya deh, Archi, lo bakal jatuh cinta mati-matian sama cowok ini kalau lo liat sendiri."
"Setidaknya salah satu dari kita punya hari yang menyenangkan," kata gue sambil menghela napas.
"Ceritain. Apa yang terjadi?"
"Pas gue pulang dari pasar, mobil nyipratin lumpur ke dress gue. Dan pemiliknya yang gak sopan malah marah-marah ke supirnya yang minta maaf karena salah," gue ngoceh sambil nyeritain semuanya yang terjadi.
"Gak sopan banget," dia kaget.
"Dan pria yang gak berbudaya itu nanya ke gue apa emang gitu cara wanita India dibesarin, cuma karena gue nunjukin kesalahannya."
"Untung aja gak kejadian pas Pihu sama Kuhu ada di sana. Dia gak bakal bisa cerita lagi," katanya sambil mikir, dan kita berdua ketawa ngakak.
"Terus sekarang dia di mana?"
"Siapa?"
"Si cowok idaman?" tanya gue.
"Susah banget ngomong sama lo. Gue tau gue bakal ketemu dia lagi, jadi lo gak usah khawatir. Ngomong-ngomong, besok lo mau ngapain?" Dia bertanya.
"Gue mau nari di kuil. Besok ada festival," jawab gue dengan senang.
"Gue mau ikut wawancara besok. Ayah gue punya temen pengusaha terkenal, dan dia setuju gue kerja di perusahaannya sebagai sekretaris anaknya, tapi gue tetep harus lulus wawancara dulu."
"Selamat ya, Veera," kata gue, terus meluk dia erat banget.
"Makasih."
"Kalo lo dapet kerjaannya, gue yang pertama ngasih lo permen," jawab gue sambil nyubit pipinya.
"Pasti." Dia ngaku, terus buru-buru pake sandal. "Selamat malam, Archi," dia cium pipi gue sebelum lari keluar kamar gue, turun tangga ke rumahnya sendiri.
Gue matiin lampu langsung setelah dia pergi dan masuk ke selimut, terus tidur deh.
.
***
SAM
.
Gue bangun dari kasur dan mandi. Ya Tuhan, gue gak cocok buat hidup kayak gini, tapi gue kejebak di sini. Harus gimana lagi. Hari ini hari kedua dari tantangan yang katanya, dan gue udah capek banget.
Gue gak sabar pengen balik dari ritual doa ini biar bisa ngelakuin apa yang Payal bilang dan nyari guru yang bagus.
Gue pake celana panjang dan kaos, terus tata rambut gue, lengkapin penampilan pake sepatu boots. Puas sama penampilan gue, gue ambil kamera dan turun ke bawah.
"Selamat pagi, Sam. Ayo sarapan," Payal bilang begitu dia liat gue turun tangga.
"Makasih, Payal," kata gue sambil senyum. Gue mau duduk di sebelah ADI pas Charu nyegat.
"Ini buat Adi." Dia naruh semangkuk bubur di depannya sambil duduk di sebelahnya. Gue udah mendidih karena marah.
"Bibi bilang kamu suka bubur, jadi aku buatin. Aku juga buatin semangkuk kheer ini. Coba deh," desaknya.
Gue hampir narik dia dari kursi, tapi Payal ngehentiin gue tepat waktu.
"Gak sepadan," katanya. "Lo gak perlu mulai berantem buat nunjukin sesuatu. Percaya deh."
Gue buang napas dan duduk di kursi lain.
Gak lama kemudian, semua orang turun buat sarapan dan kita semua makan dalam diam, meskipun makanannya keliatan aneh dan rasanya beda dari yang biasa gue makan, tapi gue tetep makan.
Setelah makan, Adi narik kursinya ke belakang dan bangun dari meja makan.
"Aku mau siap-siap buat doa," dia bilang ke ibunya, dan sebelum dia bisa jawab, dia cium pipi gue yang bikin dia makin marah tapi bikin gue salah tingkah, yang bikin Charu gak suka, terus dia naik ke atas.
Gue tatap matanya, tapi dia buang muka, sama sekali gak peduli sama gue.
"Payal, apa semua persiapannya udah selesai buat ritualnya?"
"Udah, ibu," jawab Payal, dan gak lama kemudian semua orang selesai makan.
Mereka bawa nampan yang gue tau itu piring persembahan dan ngisi dengan berbagai macam barang, terus Adi gabung sama kita di ruang tamu.
"Kamu udah siap sepenuhnya?" Dia nanya gue, dan gue ngangguk.
"Apa dia ikut sama kita?" ibunya nanya.
"Ada masalah?" Dia menyela.
"Gak ada sama sekali."
"Oke kalau gitu, ayo pergi," dia bilang ke dia, dan kita semua keluar. Ibu naik mobil sama Paman Kushaan dan Charu, sementara gue naik sama Payal dan Adi.
"Jangan biarin dia bikin lo kesel."
"Kata orang yang makan makanan musuh. Gue denger kok, Tuan," jawab gue, dengan nada sarkasme.
"Dan itu karena Payal yang bikin?" Dia jawab, dan gue kaget.
"Tapi..."
"Makanya gue bilang jangan berantem sama dia. Dia cuma berusaha buat narik perhatian Adi. Ibu nyamperin gue di dapur dan bilang jangan bilang apa-apa."
"Makasih, Payal," kata gue sambil senyum, dan dia sentuh pipi gue dengan sayang.
"Adi sayang sama kamu. Yakinlah," dia menasihati gue.
"Dan ini," dia naruh syal di tangan gue.
"Pas ritual, kamu harus nutupin kepala. Biar ibu gak bikin masalah di kuil."
"Ini cantik banget," kata gue tulus. "Makasih banyak, Payal."
Adi akhirnya nyalain mesin dan kita keluar dari rumah menuju kuil.
.
.
Cinta dengan Manfaat
.