Bab 42
Arianna masuk ke kamarnya dengan sedih. Dia bertanya-tanya kenapa semuanya tiba-tiba jadi salah, ya… hidup memang bukan taman bunga, selalu ada pasang surut tapi apa harus sesulit ini?
Kapanpun dia pikir semuanya udah balik seperti semula, sesuatu pasti salah lagi. Dia mikir apa dia kena kutuk atau semacamnya.
Malam tiba dan Oliver belum balik, dia udah pergi sejak sore dan gak ngejawab teleponnya. Arianna mikir apa yang kakeknya kasih tau sampe dia bereaksi kayak gitu.
Caranya dia cium keningnya dan pergi tanpa suara, dia tau ada yang salah, dia mau ambil langkah drastis tapi apa?
Arianna mondar-mandir di kamar mereka, dia terjaga sampe tengah malam dan pas akhirnya mutusin buat tidur, Putri kecil bangun dan mulai nangis.
Butuh hampir satu jam buat bikin bayinya tidur lagi, pertama dia harus nyusuin, terus goyang-goyangin dia pelan di boks sampe dia tidur.
Arianna terus tidur, empat jam kemudian, pagi datang dan dia harus bangun. Dia sakit kepala parah dan matanya sakit karena terjaga setengah malam.
Arianna nyoba nelpon nomor Oliver beberapa kali lagi tapi dia gak jawab. Dia pergi dan nanya ke pelayan tapi mereka bilang tuan muda gak pulang semalam.
Arianna mau nelpon Sammy dan cari tau apa dia tau keberadaan sahabatnya tapi pas itu juga, Sammy dateng ke rumah nyari Oliver. Semua bingung dan khawatir.
Sammy nebak dia pasti nyampe di bar jadi dia pergi nyari dia. Dokter dateng kepagian buat ngecek Kakek Go, dia bilang orang tua itu makin parah dan susah nafas.
Arianna nyoba ngecek dia tapi dia ngeyel gak mau ketemu siapapun selain cucunya, tapi akhirnya dia ngebolehin Nora masuk. Arianna sedih sama perbuatannya, dia kan menantu tapi dia lebih milih ketemu orang asing daripada dia.
Dia gak tahan rasa malunya jadi dia balik ke kamarnya sambil nangis. Dia cuma berdoa semoga orang tua itu sembuh walau dia gak mau ketemu dia seumur hidupnya.
Hapenya bunyi dan dia ngecek ID penelepon, berharap itu Oliver tapi ternyata sahabatnya, Rosie. Pas banget dia butuh ngobrol
Dia langsung mencet tombol hijau. 'Hei,' dia ngomong pelan.
'Um… kenapa, sih? Suaranya kayak baru kehilangan gigi,' Rosie bercanda.
'Yah, lebih parah dari itu. Kakek Go sakit banget dan Oliver pergi semalam, dia belum balik dan gak angkat telepon, aku khawatir banget, sis,' katanya dengan suara bergetar, berusaha nahan air mata.
'Apa? Tunggu, apa yang terjadi? Kapan? Gimana?' dia nanya.
'Semuanya terjadi cepet banget, sis; Kakek Go tiba-tiba mulai teriak kemarin, kita coba bawa dia ke rumah sakit tapi dia gak mau jadi Zach ambil hapenya dan nelpon dokter,' Arianna cerita.
'Oke, jadi apa kata dokter dan kenapa Oliver pergi?'
'Aku gak tau, sih. Kakek Go gak ngebolehin kita masuk kamarnya pas dia lagi ditangani dokter, terus dokter kasih tau kita kalau dia nolak makan atau minum obat buat bikin dia sembuh. Oliver balik dan masuk buat ngomong sama dia, aku gak tau apa yang mereka diskusikan tapi pas Oliver keluar, dia keliatan sedih dan frustasi. Dia cuma cium keningku dan pergi.'
'Aku tau orang tua itu bakal nyusahin, jangan salahin aku kalau pengen dia mati,' Rosie ngomong dengan nada sinis.
'Jangan ngomong gitu, Rosie, dia kan kakeknya Oliver dan satu-satunya keluarga dekat yang tersisa, berarti penting buat suamiku jadi dia juga penting buatku,' kata Arianna buat belain dia.
'Oke, terserah kamu deh, jangan sampe stres gara-gara itu. Aku yakin suamimu bakal baik-baik aja, dia orang yang kuat dan dia bakal nemuin jalan keluar dari masalah ini,' Rosie yakinin.
'Aku harap gitu, Rosie, aku harap banget, aku gak tau kenapa tapi aku punya firasat gak enak soal ini.'
'Gak papa, oke, kalau semuanya jadi gak terkendali. Ingat aja kalau aku selalu ada buat kamu, aku bakal ngelakuin apapun yang aku bisa buat bikin kamu aman dan bahagia.'
'Aku tau itu, sis; kalau ada orang di hidup ini yang bisa aku percaya dengan hidupku, itu kamu, Rosie.'
'Awn, aku jadi salting,' Rosie ngomong sambil cekikikan.
'Andai aku juga bisa, tapi wajahku gak kenal senyum. Baiklah, aku bakal ngomong sama kamu nanti kalau ada perkembangan baru,' Arianna menyimpulkan.
'Oke, sampai jumpa… aku cinta kamu.'
'Aku lebih cinta kamu, sis,' dia bilang di akhir pembicaraan dan nutup teleponnya.
Dia rebahan di kasur dengan punggung menghadap ke bawah dan pas itu juga, pintunya kebuka. Dia duduk dan liat Oliver masuk.
Dia langsung berdiri dan nyamperin dia, dia masih pake kemeja formal yang sama yang dia pake kemarin, tapi kancing jasnya semua kebuka. Dia bisa nyium bau Alkohol di badannya, dia pasti nyampe di bar semalam.
'Oliver, kenapa? Kamu baik-baik aja? Kamu dari mana aja?' dia nanya dengan terbata-bata.
'Aku baik-baik aja, Arianna, aku oke, gak perlu khawatir,' katanya dengan suara tenang.
Arianna gak bisa nebak ekspresi di matanya, tapi dia yakin kesedihan adalah salah satu emosi yang ada.
'Kamu bilang kamu baik-baik aja, tapi kamu gak keliatan baik-baik aja di mataku, kenapa kamu pergi minum semalam dan gak balik?' dia nanya.
'Aku… aku cuma butuh udara buat jernihin pikiran tapi lupain aja soal itu,' jawabnya.
Arianna menghela nafas dan nyoba bantuin dia buka jasnya. 'Kamu harus jenguk Kakek, dia gak dalam kondisi yang baik sama sekali dan dia masih nolak makan. Aku coba ngecek dia tapi dia nolak ketemu aku, walau dia ngebolehin Nora masuk,' dia laporin.
'Sebenernya, Arianna, ada sesuatu yang perlu aku kasih tau kamu,' katanya dengan berbisik, kayak dia takut ngomongnya keras-keras.
'Apa itu Oliver, kamu keliatan khawatir? Bodohnya aku, tentu aja kamu harus khawatir, mengingat semuanya yang lagi terjadi sekarang.'
'Um… Arianna, aku… aku mau…' dia berhenti dan nunduk.
'Kamu mau apa Oliver, tolong ngomong sama aku,' katanya, sekarang mulai gugup.
'Bisa kamu bantu aku, Arianna, aku mau minta sesuatu yang susah dari kamu,' dia ngasih tau.
'Apa itu Oliver? Aku bakal bantu kamu dengan cara apapun yang aku bisa, tolong kasih tau aku apa yang kamu butuh aku lakuin.'
Oliver berhenti dan narik nafas dalem-dalem, 'Tolong tanda tangan surat-surat ini,' katanya dan ngeluarin amplop dari sakunya.
Arianna ngambil amplop itu dan ngebukanya pelan. 'Apa ini?' dia nanya dengan ekspresi bingung sambil ngebukanya.
'Arianna, ini… ini…' dia gagap, gak bisa nyelesaiin kalimatnya.
Arianna ngebuka surat-surat di amplop itu dan kata pertama yang matanya temuin bikin dia melebarkan mata.
'Apa? Cerai?' dia bergumam dan nutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ekspresi kaget terukir di wajahnya.
'Ya, Arianna, aku mau cerai.'
Bersambung!!