Bab 55
Kakek Go buka matanya pelan-pelan karena cahaya. Dia kedip dua kali sebelum matanya menyesuaikan diri dengan terangnya lingkungan sekitar. Orang pertama yang dia lihat adalah Oliver, yang pasang muka poker. Terus, dia juga sadar kalau Nora berdiri di dekat pintu.
Saat itu juga dia ingat semua yang terjadi sebelum dia pingsan. Dia ingat lihat menantu kesayangannya di kasur sama orang asing di rumah mereka sendiri.
Dia masih kaget sama semua yang dia lihat, masih susah buat percaya. Matanya gak mungkin salah lihat, Nora jelas-jelas selingkuh dari cucunya di rumah tangga mereka sendiri. Dia gak pernah sesedih ini sama siapa pun.
"Kamu!" sembur dia sambil mau duduk, tapi langsung jatuh lagi karena sakit nyebar di dadanya.
"Santai, Kakek. Kamu masih belum baik," kata Oliver dengan serius, wajahnya datar tanpa emosi. Padahal dia beneran khawatir sama orang tua itu.
"Dia ngapain di sini? Usir dia sekarang juga," gumamnya dengan suara lemah.
"Gak perlu, aku udah mau pergi kok. Aku benci rumah sakit," ejeknya terus pergi.
Kakek Go kaget banget, dia gak mau percaya ini Nora yang dia kenal. Nora yang dia bawa ke cucunya buat jadi istri. Apa yang udah terjadi sama dia?
"Aku seneng Kakek akhirnya lihat warna aslinya dia. Satu-satunya penyesalanku adalah Kakek lihatnya di waktu yang salah," kata Oliver pelan terus duduk di samping orang tua itu.
"Oliver, kamu gak bakal percaya apa yang aku lihat… Aku… Aku lihat dia sama laki-laki lain, di kasur pernikahanmu," setengah teriak dia.
Oliver ketawa kecil, sama sekali gak kaget. "Santai, Kakek. Pertama, itu bukan kasur pernikahan karena aku gak pernah tidur di situ, apalagi tidur sama dia. Kedua… Aku udah tahu dia selingkuh, aku udah beberapa kali denger dia teleponan sama selingkuhannya," jelas Oliver.
"Apa? Dan kamu gak pernah mau cerita sama aku?" tanya Kakek Go.
"Jujur, Kakek. Apa Kakek bakal percaya kalau aku cerita?" tanya Oliver.
Kakek Go diam, dia tahu Oliver bener. Dia gak bakal percaya kalau dikasih tahu tanpa bukti. Dia udah percaya banget sama Nora karena hubungannya sama Kakeknya Nora. Kok dia bisa sebodoh itu biarin dia manfaatin dia?
Dia udah nyakitin cucunya sendiri dan nge-blackmail cucunya sampai kehilangan satu-satunya hal yang dia hargai dalam hidup, cuma buat cewek gak tahu diri. Dia mulai ngerasa bersalah sama semua yang dia lakuin.
"Aku beneran bego, aku gak tahu apa kamu bakal maafin aku karena udah ngerusak hidupmu. Aku pikir aku lakuin yang terbaik buat kamu, aku pikir aku mikirin kepentingan terbaikmu waktu aku ambil keputusan itu. Aku gak tahu kalau aku dibohongin."
Oliver menghela napas. "Gak apa-apa, Kakek. Gak ada gunanya nangisin susu yang tumpah. Kerusakannya udah terjadi, aku udah kehilangan Arianna dan anak perempuanku, dan sekarang aku nikah sama Nora," katanya sambil membuka telapak tangannya dengan ekspresi cuek.
"Tapi kita masih bisa benerin semuanya, Nak. Kamu harus cerai sama Nora sekarang juga. Aku bisa bantu kamu nemuin Arianna, mau di mana pun dia berada di dunia ini. Aku bisa pakai koneksiku buat nyari dia, tolong biarin aku bantu," mohonnya.
"Kakek, Kakek yang nyuruh aku nikah sama Nora demi janji Kakek beberapa tahun lalu dan aku lakuin itu. Kalau Kakek mau aku cerai sama dia, ya udah aku lakuin. Tapi soal Arianna, itu keputusan dia buat menghilang. Dia gak mikir perlu cerita sama aku dia mau bawa anakku ke mana. Bahkan tanpa koneksi Kakek, aku bisa nemuin dia kalau aku mau, tapi dia jelas gak mau dicari, dia gak mau sama aku lagi jadi ya udah aku biarin aja," katanya.
Kakek Go menghela napas menyesal. Dia marah banget sama dirinya sendiri karena apa yang udah dia lakuin, kok dia bisa sebegitu butanya sama kebenaran?
Arianna adalah belahan jiwa Oliver, dia adalah separuhnya dan mereka ditakdirkan buat bersama. Dia adalah cewek yang bawa hal positif ke dalam hidup cucunya, tapi dia malah nyuruh Oliver ngejauhin dia. Dia udah ngambil senyum cucunya.
Kakek Go ngerasa pengen nangis. "Oke Oliver, tolong siapin surat cerainya. Aku mau cewek itu keluar dari rumah Gomez sekarang juga."
Oliver ngangguk tanpa senyum, cerai sama dia gak ada bedanya buat dia. Dia bahkan hampir lupa kalau dia udah nikah.
* * * * * * * * * *
Sammy masuk ke kantor Oliver dan kaget lihatnya kosong. Masih sore jadi dia gak mungkin udah cabut ke bar. Dia cek kalau Oliver ninggalin catatan, tapi gak ada.
Oliver hampir gak pernah keluar dari kantornya akhir-akhir ini, dia cuma keluar malam dari mana dia langsung ke klub. Klub yang sama di mana dia ketemu Arianna. Udah setahun sejak dia pindah, tapi dia masih belum bisa move on.
"Aneh," gumam Sammy terus mau pergi. Dia tahu gak bijak kalau nelpon Oliver karena dia gampang tersinggung akhir-akhir ini. Lebih baik jangan bikin dia marah.
Saat itu juga teleponnya bunyi dan dia berharap itu Oliver, tapi pas dia cek ID penelepon, dia sadar itu Rosie. Dia senyum tiga detik, terus senyumnya hilang. Dia baru ingat dia udah janji makan siang bareng, tapi sekarang udah hampir jam empat sore.
Dia jawab teleponnya dengan enggan, "Halo, putri tidur," panggilnya, nge-drag kata-katanya dengan gugup.
"Panggil aku gitu sekali lagi, aku colok mata kamu," balasnya.
"Wah, kamu ganas, aku suka," dia tertawa kecil. Ya, setahun udah cukup bikin dia berani sama dia, meskipun mereka belum serius. Seharusnya hubungan mereka udah makin panas kalau dia gak jadi pengecut.
"Kamu mau kasih alasan apa sekarang? Aku udah dandan satu jam, nungguin kamu jemput aku sesuai janji," rengeknya.
"Um…" gumamnya, berusaha nyari alasan dengan cepat. Dia lihat sekeliling kantor dan ide muncul di pikirannya.
"Oh, gini, CEO-nya hilang, aku gak tahu dia ngilang ke mana dan aku gak bisa pergi tanpa izin dia. Kamu tahu lah gimana Oliver akhir-akhir ini, dia bakal marah banget sama aku."
"Ya udah, terserah," potongnya, "Tapi kamu harus ganti rugi malam ini…" tambahnya.
"Oh, tapi gimana caranya?" tanyanya.
Dia menghela napas kecewa, "Itu terserah kamu, telepon aku kalau kamu udah nemuin jawabannya," jawabnya.
Sammy bisa ngerasain kalau dia udah kesal sama dia. Ya, dia emang punya temperamen dan dia udah biasa sama itu. Orang malang itu harus hadapin masalah temperamen bosnya yang sadis dan pacarnya yang psikopat.
"Kamu tahu gak? Aku punya ide," kata dia sambil senyum.
"Apa?" Rosie menggerutu dari seberang.
"Aku pikir kita bisa makan malam di rumahmu malam ini," jawabnya dengan senyum.
"Beneran? Wah, asyik tuh, bawa soda ya kalau datang," katanya dengan semangat.
"Tentu aja. Masak yang enak ya, aku datang dengan perut kosong," dia nyengir.
"Siap, sampai jumpa. Aku mulai masak sekarang, dan mending jangan bikin kecewa lagi, atau kamu gak bakal baik-baik aja."
"Oke, pacar ganas ku," dia tertawa. Dia cekikikan dan dia tutup teleponnya.
Ya, kayaknya dia harus nyari bosnya, terus makan malam buat berdua yang mau gagal. Semoga mereka bisa lakuin sesuatu lebih dari cuma saling pandang dan ciuman kecil malam ini.
Bersambung