Bab 36 Mengatakan Aku Mencintainya
Aku gak tau harus ngomong apa, aku bener-bener gak bisa berkata-kata.
"Koreksi kalau aku salah, tapi dia kan saudara cewek yang kamu kira udah meninggal, kan?"
"Iya." jawabnya sambil ngangguk, kayaknya dia masih susah percaya.
"Dia kenal kamu gak, gimana perasaan kamu pas ketemu dia?"
"Kenal kok, aku seneng banget ketemu dia, tapi dia gak mau ada urusan apa-apa sama aku." katanya sedih sambil ngehela napas.
"Yakin nih dia orangnya? Gimana kalau ada yang ngerjain kamu." orang-orang minta bantuan penyihir buat hal-hal kayak gini, dan orang yang tau tentang mereka bisa aja nyamar jadi Aria.
"Aku yakin banget. Ada tanda lahir yang kita berdua punya, dia punya kok." jawabnya. Apa itu tanda lahir bentuk bulan sabit itu?
"Yang ada di dada kamu itu, kan?" tanyaku, dan dia gak jawab.
"Kebanyakan nanya deh, Lee." dan begitu deh percakapan kita selesai. Masa sih satu pertanyaan aja udah kebanyakan?
Aku mutusin buat gak mikirin itu lagi, "jadi, kamu mau ngapain?" tanyaku penasaran.
"Aku punya banyak banget yang harus dikerjain, Lee, aku bahkan gak tau harus mulai dari mana." dia kedengeran frustrasi banget, jadi Alpha emang bikin stres, aku aja jarang ketemu ayah.
"Kerjain aja yang menurut kamu penting. Kamu bisa balik lagi ke yang lain nanti." saranku, dan dia ngangguk bilang bakal gitu.
Aku gak mau ganggu dia lagi, tapi aku baru inget sesuatu. "Ya ampun, dia kan pasangan Chase, ya?"
"Iya, dan dia gak mau ada urusan apa-apa sama dia. Dia keras kepala banget." keluhnya.
"Nanti juga luluh. Mungkin dia marah sama kamu, kamu harus ngobrol sama dia."
"Iya deh, tapi sekarang tidur aja. Hari ini udah bikin stres."
"Iya. Aku seneng banget kita baik-baik aja sekarang." kataku, dan dia senyum.
"Aku yang paling seneng." katanya sambil senyum, dia emang jarang senyum, tapi kalau dia senyum tuh bikin aku gila dan seneng.
"Selamat malam, tesoro mio." katanya sambil nyium kepalaku pas kita pelukan.
Aku gak bisa berhenti senyum sampe akhirnya ketiduran.
Udah tengah malam, aku kebangun dan Damon gak ada di sampingku, aku cek sekeliling kamar, tapi tetep gak nemuin dia. Aku mutusin buat nyari dia pake indra penciumanku. Aku berhenti pas denger suara-suara.
"Aria, aku minta maaf, aku gak maksud ninggalin kamu di sana, maafin aku. Kita bakal pergi bareng sekarang."
"Aku gak mau ada urusan apa-apa sama kamu, dan untuk terakhir kalinya aku bukan Aria, aku bukan saudara kamu."
"Aria, dengerin aku, kamu harus ngerti."
"Ngerti apa sih, aku benci kamu, Damon. Kamu gak peduli sama aku, kamu ninggalin aku di sana."
"Jangan ngomong gitu, aku peduli sama kamu, kamu saudara cewekku satu-satunya keluarga yang aku punya, dan aku sumpah demi kamu aku balik lagi buat kamu." kata Damon, dan kedengerannya dia pengen nangis.
"Oh, ada tamu nih." katanya, dan aku sadar aku udah ketahuan. Gawat.
"Lee, ngapain kamu di sini?" tanyanya agak marah.
"Maaf, aku gak nemuin kamu di kasur, terus nyariin kamu pake indra penciuman." jawabku jujur.
"Aah, dia pasanganmu. Kamu belum nanda-in dia, kan?" tanyanya sambil ketawa.
Dia ngeliatin aku dari atas sampe bawah. "Aku kenal kamu, aku sering banget liat wajahmu."
Kok dia bisa kenal aku?
"Dia... oh, ini menarik. Kamu adiknya Loranda." katanya sambil senyum licik.
"Kamu populer banget ya, ada hadiah buat kepala kamu, dan aku bakal dapetin itu." sebelum aku sempet nanya maksudnya, selnya dipaksa kebuka.
Dia nyerang aku, dan Damon ngejauhkan dia. "Jauhin dia."
"Lepasin aku." perintahnya marah, matanya berubah warna jadi merah. Ada apa sih sama dia?
"Tenang." perintah Damon marah.
"Dia bakal mati, Damon, aku bisa liat. Nasibnya udah deket." apa dia udah jadi peramal sekarang, bikin bingung aja. Dia keliatan normal sekarang.
"Gak bakal ada apa-apa sama dia, aku pastiin itu."
"Kamu bisa, tapi kita berdua tau kamu gak bisa." katanya, dan Damon cuma ngehela napas.
"Gak usah bahas itu. Aku kasih kamu kamar, kamu harus tidur." kata Damon sambil ngelus dia.
"Aku kangen kamu, Damon." katanya, dan aku bisa liat air mata netes dari matanya. Apa dia bipolar?
"Aku kangen kamu, Aria, setiap hari." katanya sambil ngapus air matanya.
Ini canggung, aku seneng mereka baik-baik aja sekarang. Dia mungkin baik.
"Lee, balik ke atas ya, aku mau bawa Aria ke kamarnya." katanya, dan aku ngangguk.
Aku masuk ke kamar, dan semua jendelanya kebuka. Aku celingak-celinguk berharap gak ada orang di sana, aku geledah kamar berharap nemuin sesuatu, dan aku nemuinnya. Ada di atas meja, kertas putih kecil dengan pesan yang bertuliskan.
"Dan di hari bulan menutupi matahari, ku akan menunggu hatinya, ku akan membakar."
Aku takut, hembusan angin bikin aku menggigil. Terus di hari itu aku akan menunggu. Aku mencoba untuk menanggapi situasi dengan santai. Aku gak tau kalau Loranda bisa bikin sajak. Aku mulai nutup jendela, dan pas itu Damon masuk.
Dia keliatan agak baik-baik aja sekarang, ada senyum tipis di wajahnya, itu bikin aku seneng. Aku gak mau dia tau tentang surat itu, aku gak mau dia khawatir, dia udah banyak hal yang dia khawatirkan.
"Lee, aku tanya kamu lagi, kamu megang apa?" katanya sambil mendekatiku.
"Gimana kabarnya Aria, apa dia udah tidur sekarang?" tanyaku.
"Jangan hindari pertanyaan aku." katanya dingin.
Aku ngehela napas, kita baru aja baikan dan aku udah janji gak bakal ngerusak ini. "Ini surat, mungkin dari Loranda." kataku sambil ngasih surat itu ke dia.
Badannya gemeteran pas dia baca, aku bisa liat betapa marahnya dia, dan aku juga tau dia takut.
"Kamu gak papa, Lee, ada orang di sini pas kamu masuk? Gimana dia bisa masuk sih?"
Dia marah, jadi aku nyamperin dia, nyium pipinya, dan megang tangannya. "Aku gak papa, Damon, gak ada siapa-siapa di sini."
"Aku gak bakal kehilangan kamu, Lee, apa pun yang terjadi aku bakal mati sebelum aku biarin apa pun terjadi sama kamu."
"Jangan ngomong gitu, udah deh, kita tidur aja." kataku sambil megang tangannya, nuntun dia ke kasur.
Pas kita udah tiduran, dia meluk aku erat. "Aku bakal berjuang buat kamu, Lee, selama aku masih hidup, aku gak bakal biarin apa pun terjadi sama kamu." katanya sambil ngelus wajahku.
"Aku tau, Damon, jadi sekarang kita tidur aja." kataku, dan dia ngehela napas. Yang dia gak tau, aku yang harus lindungin dia, karena dia bakal mulai dari orang yang paling aku sayang.
Ya ampun, aku cinta Damon. Aku bahkan belum sadar. Aku cinta dia, dan dia cinta aku. Aku mutusin buat ngomong sebelum terlambat.
"Aku cinta kamu, Damon." kataku, dan kepalanya langsung nengok.
"Aku tau." katanya sambil senyum, dan aku senyum.
"Kok kamu bisa tau sih, aku baru sadar." keluhku, dan dia cuma ngangkat bahu.
"Tidur yang nyenyak, Mi Reina." katanya, dan aku senyum.
"Kamu gak pernah bilang apa artinya." kataku sambil bikin lingkaran di dadanya.
"Artinya ratuku." jawabnya sambil senyum, dan jantungku serasa salto.
"Dan kamu rajaku." kataku, dan dia bilang dia satu-satunya dan menarikku ke ciuman.
Pagi berikutnya aku bangun dengan senyum di wajahku, tapi pas aku inget hal lain, aku hampir pusing. Aku celingak-celinguk, Damon gak ada di sampingku, dan aku cemberut. Aku pengen liat wajahnya pertama kali di pagi hari pas aku bangun.
"Selamat pagi, ratuku." Damon masuk dengan nampan berisi makanan, dan aku otomatis senyum. Dia perhatian banget, seneng liat dia kayak gini, tapi tau kita cuma punya beberapa hari bareng bikin aku patah hati. Akhirnya aku bakal bahagia.
"Selamat pagi juga, rajaku." kataku, dan dia senyum lebar.
"Aku bawain kamu sarapan, aku perhatiin kamu gak makan banyak kemarin." katanya, dan aku senyum. Aku cinta dia.
"Kamu mikirin aku, ya?" tanyanya sambil nyengir.
"Kagak deh, emang kenapa sih kamu mikir gitu?"
"Kamu senyum terus, dan mata kamu berbinar, ngeliatin mata aku, dan kamu keliatan seneng banget."
"Aku seneng, Damon, beneran seneng."
"Kamu gak tau betapa senengnya aku denger kamu ngomong gitu, akhirnya aku bikin kamu seneng, dan aku bakal ngabisin hidupku buat bikin kamu seneng." ketulusan dan cinta dalam nadanya hampir bikin aku nangis. Andai kita punya lebih banyak waktu. "Aku cinta kamu, Lee."
"Aku juga cinta kamu, Damon." kataku, dan pas aku kira kita bakal ciuman, kita mundur, aku tau aku mundur karena bau mulut pagi, dan sorot matanya bikin aku sadar dia lagi ngerjain aku.
Aku ketawa sebelum pergi ke kamar mandi, hari ini dimulai dengan baik, aku harap berakhir lebih baik lagi.