Bab 5 Mencoba melarikan diri
"Aku gak mau diem sedetik pun di tempat sialan ini," kataku dengan marah.
"Terus, apa yang bakal lo lakuin?" tanya Jonathan.
"Lo terus aja mancing dia, sialan. Mungkin aja dia mau ngelepas kita, tapi lo malah buka mulut dan bikin dia marah," kata Sam dengan marah.
"Ya, kalo kalian bisa terima sikap dia, gue sih jelas nggak bisa. Oh ya, kalian bisa diem di sini nunggu dia 'ngelepas' kalian," kataku, sambil pake tanda kutip pas ngomong 'ngelepas'.
"Gimana caranya kita keluar? Dia kan punya barang-barang kita, inget," kata Sam.
"Ya, nggak lama lagi," kataku.
"Jadi, rencananya gimana?" tanya Jonathan.
Para penjaga lagi nggak dengerin dan berdiri di luar sel, yang letaknya di sebuah ruangan. Jadi mereka di balik pintu dan nggak bakal nyadar gue kabur. Gue punya kekuatan buat nggak keliatan, tapi cuma bisa lima menit, jadi gue harus cepet soal apa yang mau gue lakuin.
Gue jadi nggak keliatan dan gue suka banget rasanya. Gue juga bisa nembus benda kayak hantu. Gue jalan nembus sel dan pintu, ngelewatin para penjaga yang bahkan nggak bisa liat gue. Gue berhenti, nyadar ada masalah. Gue nggak tau di mana kantornya atau di mana dia nyimpen barang-barang kita. Yang lebih parah lagi, gue nggak tau gimana caranya ke sana dan gue nggak punya waktu buat buang-buang waktu. Gue harus nemuin tempat itu cepet-cepet dan balik lagi ke sel setelah ambil barang-barang kita, semuanya dalam lima menit. Gimana caranya, ya?
Gue liat cowok yang masuk pas kita lagi ciuman, berdiri di depan pintu hitam besar sama beberapa penjaga lain. Gue harap itu kantornya dan gue jalan nembus pintu itu, dan bener aja. Dia lagi di kantornya ciuman sama orang yang gue kira Cici atau salah satu pelacurnya. Itu bikin gue sedikit kesel. Gue tau ciuman kita nggak berarti apa-apa buat dia, dan buat gue juga nggak terlalu berarti, tapi gue benci liat mereka berdua. Bukan cemburu, cuma benci.
Kayak apa yang mereka lakuin kemarin nggak cukup, gue harus nahan sakit sementara mereka seneng-seneng. Rasanya kayak ada yang ngiris perut gue berkali-kali, dan liat mereka ciuman lagi cuma bikin gue marah. Dia tau gue ada, tapi dia tetep aja nggak bisa berhenti jadi cowok jalang. Gue nggak kaget kalo ternyata ini caranya nyiksa gue, tapi emang perlu banget, ya?
Dia lagi ngecupin lehernya, dan dia lagi mengerang. Gue benci banget liat itu, dan itu bikin gue marah. Gue nggak bisa kontrol kekuatan gue, dan gue mulai bikin tornado kecil, bikin barang-barang terbang ke sana kemari, dan tanahnya goyang, ngontrol elemen udara dan bumi sekaligus. Mereka berhenti, liatin sekeliling.
"Ada apa?" tanya Cici ketakutan.
Gue manfaatin gangguan itu dan ngambil barang-barang kita sama senjata-senjata kita. Harusnya gue nggak biarin itu bikin gue kayak gini. Gue tenang, dan itu berhenti.
"Nggak ada apa-apa," jawab dia, nerusin apa yang mereka lagi lakuin.
Itu bikin gue marah, tapi gue kontrol. Gue jalan keluar. Gue nggak bakal biarin dia ngaruhin gue. Gue bakal keluar dari hidupnya sekarang, dan dia nggak bakal penting lagi. Gue bakal pergi dan lupa kalo gue punya pasangan, karena dia nggak berguna.
Gue balik lagi ke sel tanpa ketahuan dan masih sedikit marah. Sekarang setelah kita lewatin itu, kita harus hadapin hal yang paling sulit. Gimana caranya keluar dari keamanan mereka yang ketat tanpa ketahuan dan keluar dengan selamat.
"Sekarang, gimana caranya kita keluar dari sel?" tanya Jonathan, dan gue senyum sambil megangin jeruji. Nggak lama kemudian, jeruji itu mulai kebakar. Gue tau gue udah terlalu ekstrem, dan kita bakal ketahuan kayak gitu, tapi gue nggak mau diem di sini lebih lama lagi.
Nggak lama kemudian, jeruji itu roboh, bikin suara berisik, dan itu narik perhatian para penjaga yang masuk ke pintu.
"Gimana caranya?" tanya salah satu, natap sel yang udah roboh.
"Gue tunjukin," kataku. Gue mau bakar dia sampe mati, tapi gue putusin nggak jadi.
"Mau pada ke mana kalian?" tanya yang lain, nunjukin pistolnya ke kita, tapi Jonathan lebih cepet, nembak tepat di jantungnya.
Itu bikin takut, dan resmi mulai perkelahian. Tembakan mulai berdesingan dan alarm bunyi. Dia bakal ikut campur sekarang, dan kita harus keluar dari sini secepat mungkin. Ada panah ditembak ke gue, dan gue tangkep di udara, terus gue tembak balik ke orangnya. Seseorang nyerang gue pake belati, dan gue dengan gampang ngindarinnya, nusuk orang itu di kakinya, tapi itu nggak bikin dia berhenti nyoba. Dia nendang gue dan bikin gue kesandung. Gue jatuh dan bikin dia kesandung juga, dan pas dia udah di bawah gue, gue cepet-cepet guling dan nusuk dia di perut.