Bab 49
Kita balik ke rumah kumpul dan udah hancur gak bisa diperbaiki lagi. Rumahnya kebakar dan ada mayat di mana-mana. Beberapa orang mulai meraung-raung lihat mayat orang yang mereka cintai. Hatiku sakit tahu semua orang ini harus kehilangan nyawa mereka karena kita. Hatiku remuk berkeping-keping lihat orang nangis dan aku juga udah mau nangis. Aku tahu gimana rasanya kehilangan seseorang dan banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka, orang tua kehilangan anak-anak, dan istri kehilangan suami. Aku gak bisa gak merasa ini semua salahku dan aku tahu beberapa dari mereka mikir sama juga.
Damon, aku harus mastiin dia baik-baik aja. Lihat sekeliling, aku bisa lihat beberapa yang selamat lagi diobatin atau dibawa buat diobatin. Gak ragu lagi, ratusan nyawa udah hilang dan dua kali lipatnya luka-luka.
Aku gak ngerasain sakit yang serius jadi aku tahu dia masih hidup di suatu tempat. Aku juga harap Chase baik-baik aja dan orang-orang yang luka cepat sembuh.
Aku lihat Damon lagi ngomong sama beberapa orang dan begitu aku lihat dia, aku lari meluk dia, gak peduli lagi kalau tadi sedikit kesel sama dia.
"Lee, bagus banget kamu baik-baik aja. Aku udah cek ruang bawah tanah dan sekeliling tapi gak nemu kamu." Cara kita berpelukan bikin aku langsung nangis kejer. Aku bisa aja kehilangan dia, orang-orang kehilangan nyawa karena aku, berapa banyak lagi yang bakal kehilangan nyawa karena aku?
"Gak papa sayang, aku baik-baik aja, kita bakal baik-baik aja." Dia nenangin aku sambil ngelus dan nyium rambutku dan aku berhenti nangis dan baru sadar aku bahkan gak cek buat liat dia baik-baik aja.
"Kamu luka gak? Ada patah tulang gak? Kamu bisa jalan gak, ada darah keluar gak, ada yang sakit gak?" Aku nanya sambil meriksa setiap bagian tubuhnya.
Ada goresan di sana-sini di tubuhnya. Dia gak pake baju dan aku bisa lihat bekas cakaran di tubuhnya dan beberapa memar tapi selain itu dia kelihatan baik-baik aja.
"Gak usah khawatir sama aku." Dia cekikikan pelan, "Aku baik-baik aja, badanku juga sakit banget dan kepalaku juga tapi bakal cepat sembuh." Ekspresinya berubah sedih pas dia lanjut. "Banyak orang kehilangan nyawa dan banyak yang harus pulih dari masalah emosional dan fisik. Bagian tubuh hilang dan beberapa mungkin gak bisa gerakin bagian tubuh mereka, aku harap aku bisa lakuin sesuatu buat bantu mereka atau lebih baik lagi mencegah semua ini."
Aku gak bisa gak merasa itu salahku lagi. Kumpulannya gak akan ngalamin semua ini kalau aku gak di sini, kalau Loranda gak di sini. Apa kita cuma bawa bencana?
"Aku harap ada sesuatu yang bisa aku lakuin buat mencegahnya juga. Mereka nyerang kita cepat banget, gak ada persiapan apa pun dan kita gak siap fisik buat ini. Sakit banget tahu ini terjadi karena aku, mereka cuma bakal makin benci aku dan aku nyalahin diri sendiri. Mereka gak bakal mati kalau aku gak di sini, mereka gak bakal..." dia nyuruh aku diem sebelum aku bisa ngomong apa pun sambil naruh jarinya di bibirku.
"Ini bukan salahmu. Gak ada yang bisa dilakuin tentang itu. Kumpulan emang suka perang, gak ada yang salahmu. Aku gak bisa lindungin mereka, mereka kehilangan nyawa karena aku. Akulah yang mereka cari, mereka bakal nyerang lagi dan kali ini kita bakal siap. Kita bakal akhirin semua ini."
Apa aku denger dia bener? Dia yang mereka cari? Mungkin aku cuma kebanyakan mikir. Kumpulan lain nyerang, dia pasti lagi ngomongin mereka.
"Aku gak sabar pengen ini selesai, aku udah capek. Kita harus akhirin ini secepatnya." Gak ada lagi yang harus mati karena kita.
"Kita bakal. Tugas Alpha manggil, aku bakal ngomong sama kamu segera, kita beneran harus ngomong." Dia kelihatan serius dan sedih tapi dia bener. Kita beneran harus ngomong karena aku udah gak ngerti apa-apa lagi.
"Iya, kita harus, kita bakal ngomong pas kamu udah selesai." Aku bilang setelah dia nyium aku sebelum pergi.
Aku cuma harap aku gak bakal bereaksi berlebihan pas aku tahu rahasianya dan kita gak ngerusak hubungan karena udah ngalamin banyak hal dan kita bisa lewatin semua masalah ini, punya pasangan dan punya anak.
"Semuanya bakal baik-baik aja." Aku bilang sambil berusaha nenangin diri.
"Hei." Aku denger Chase manggil dan aku seneng dia baik-baik aja meskipun dia kelihatan lumayan parah. Dia pincang dan Aria lagi nyangga dia.
"Chase, bagus banget ketemu kamu." Aku bilang sambil senyum.
"Tentu aja, selalu bagus ketemu aku atau kamu kira aku udah pergi gitu aja?" dia bercanda dan aku ketawa. Untung banget dia baik-baik aja.
"Tentu aja enggak, kamu kan Beta yang perkasa sekarang." Aku bilang ketawa dan dia ikut ketawa juga.
"Mereka beneran ngelakuin banyak kerusakan Lee, Damon udah berusaha keras dan itu satu-satunya alasan kenapa mereka pergi, dia bisa bunuh salah satu penyihir dan Alpha yang kerja buat dia." Chase ngasih tahu dan meskipun aku tahu Damon kuat dan perkasa tapi sekuat itu buat bunuh penyihir? Itu udah level lain.
"Wow, keren banget." Aku bilang setelah jeda sebentar, kalau kita semua gabung kekuatan, kita bakal bisa hentiin mereka. Ini bisa selesai lebih cepat dari yang aku kira.
"Udah cukup, kamu gak boleh banyak ngomong, bibirmu bengkak dan wajahmu berantakan, ayo kita bawa kamu ke dokter." Aria bilang dan Chase muter matanya.
"Dia sama kayak Damon, gak nyangka ada dua orang kayak gitu." Dia bilang dan aku cekikikan.
Aku tahu Aria tahu aku punya banyak pertanyaan yang mau aku tanyain ke dia dan dia berusaha menghindarinya karena dia gak mau ngasih tahu apa pun ke aku tapi mau aku denger langsung dari Damon.
"Kamu sayang kita dan aku penasaran kamu bakal ngapain tanpa kita." Aria bilang iseng tapi dia cuma muter matanya.
"Aku bisa banget tanpa kalian berdua." Dia bilang bercanda dan dia mau mukul dia tapi mengingat kondisinya, dia cuma ngacak-ngacak rambutnya sedikit.
"Kita ketemu lagi nanti Lee, aku pikir Loranda lagi nyari kamu." Aria bilang pas mereka pergi, jalan ke arah rumah sakit.
Aku lebih dari sekadar penasaran pengen tahu apa yang mereka sembunyiin dan itu bikin aku agak gelisah. Aku pergi ke tempat Loranda dan mereka semua lagi bantu buat bersihin area dan jadi aku ikut juga dan pas kita selesai udah gelap. Ini hari yang bener-bener melelahkan.
Aku lagi jalan balik ke kamar kita buat segeran dan makan sesuatu nanti biar bisa ngobrol sama Damon tapi pas nyampe kamar aku bisa lihat dia dan Aria lagi ngobrol. Pintunya gak ketutup rapat jadi aku bisa lihat mereka dan denger mereka. Aku beneran gak maksud buat nguping tapi aku malah ngelakuin itu.
"Kamu harus kasih tahu dia sekarang, dia udah curiga banget dan aku gak bisa terus-terusan ngindarin pertanyaannya, kamu tahu."
"Aku bakal kasih tahu dia malam ini tapi jujur aku takut Aria, gimana kalau dia gak mau ngomong sama aku setelah itu, ini rahasia yang bener-bener besar, kamu tahu."
"Semua orang punya rahasia Axel, makin cepat kamu kasih tahu, makin baik buat kamu. Udah waktunya dia tahu, udah waktunya kamu ambil tempat yang seharusnya, Axel." Dia bilang dan saat itu juga aku nyambung semua titik-titik, udah ada cukup bukti, cukup bukti buat tahu kalau klaim aku bener.
Damon, bukan Axel, dia Raja Alpha yang sebenarnya !!!!!!
Hai cinta,
Gimana menurutmu tentang bab ini? Apa kamu nebak kalau dia yang sebenarnya? Gimana menurutmu dia bakal bereaksi? Share pendapatmu di kolom komentar.
Kalau kamu suka bab ini dan kamu suka bukunya sejauh ini, tolong vote, tambahin ke perpustakaan dan daftar bacaan dan juga share. Makasih.
Kalau kamu gak keberatan buat bikin sampul, tolong kirim pesan ke aku. Makasih.