Bab 37 Tidak Ingin Menandaiku
Damon dan aku lagi di restoran, makan malam. Ini kencan pertama kita dan aku semangat banget. Mungkin dia bahkan bakal menandai aku malam ini. Aku udah nggak sabar. Kita berdua ngobrolin masa kecil, hal-hal yang nggak kita tahu tentang satu sama lain dan dia tahu kalau ulang tahunku seminggu lagi. Dia sempat bilang mau ngadain pesta buat aku, tapi aku nolak. Aku benci ulang tahunku, itu hari di mana hidupku hancur.
Selesai makan malam, kita pulang, untungnya makan malamnya lancar. Aku udah setengah berharap Loranda muncul, tapi aku senang dia nggak datang. Damon dan aku sekarang ciuman panas banget, dia dorong aku ke kasur dan tiduran di atas aku, dan serigalaku menjerit kegirangan. Dia mulai ngecupin tubuhku, kenikmatannya nggak bisa dijelasin. Kenapa kita nggak lakuin ini dari dulu?
"Lee, kamu nggak tahu betapa aku pengen kamu," katanya sambil ngisepin leherku.
"Ya udah, punya aku, Damon," aku nyerahin diri ke dia dan ciuman kita makin dalam. Aku mau ini, buat jadi pasangan dia, punya tanda dia di leherku. Buat dia punya aku, di mana nggak ada orang lain yang punya.
Dan pas aku pikir dia bakal menandai aku, dia malah menjauh dari aku. Gimana nih? Kalau ini Loranda lagi ngerjain aku, aku nggak bakal maafin dia.
"Kenapa?" tanyaku khawatir sambil duduk tegak.
"Aku belum bisa lakuin ini, maaf, aku mau lakuin ini kalau waktunya tepat," katanya tenang.
"Emangnya kapan tepatnya? Pas aku udah mati?" tanyaku marah.
Aku pengen dia menandai aku, seluruh tubuhku ngidam dia, aroma tubuhnya bikin aku gila dan aku pengen banget punya tanda dia, tahu dia milikku, aku pengen dia menandai aku dan kawin sama aku. Setidaknya aku pantas dapat pengalaman itu.
"Jangan ngomong gitu," dia mendekatiku, nyium pipiku. "Aku cuma mau bikin ini spesial buat kamu. Aku nggak mau ngelakuin sesuatu yang nanti kamu sesalin."
"Aku pasti nggak bakal nyesel kalau kamu menandai aku, Damon. Aku ngerasa kamu nyembunyiin sesuatu dari aku. Aku nggak masalah kamu menandai aku sekarang, kamunya aja yang masalah," kataku marah. Aku tahu ada yang mikir aku lebay, tapi aku nggak. Berapa lama lagi aku harus nunggu? Kita saling mau, kenapa kita nggak bisa saling memiliki aja?
"Percaya deh, aku pengen banget menandai kamu, Lee..."
"Tapi..." tambaku sedih. "Lupakan, nggak apa-apa. Aku nggak mau tahu."
"Dan aku pikir malam ini bakal beda, sekarang kamu malah marah sama aku," katanya sambil megang tanganku yang aku tarik menjauh.
"Ya aku juga pikir bakal beda. Aku mau kamu, Damon, aku nggak tahu kamu ragu apa nggak, tapi aku yakin aku butuh kamu dan ini bukan karena aku takut mati," aku ngaku dan ada senyum di wajahnya.
"Aku mau kamu dalam segala cara dan aku bakal bikin kamu jadi milikku secepatnya. Aku cuma mau ini spesial buat kamu," katanya dan aku cuma ngangguk, nggak mau debat lagi. Hari ini pasti spesial buat aku kalau dia mau.
"Aku mau mandi dulu deh," kataku sambil jalan ke kamar mandi, tapi sebelum aku pergi dia nyium kepalaku dan senyum tipis.
Begitu masuk, aku mutusin buat nggak mikirin apa-apa dan biarin airnya nenangin aku. Aku keluar dan Damon udah nggak ada. Aku capek dan masih agak marah jadi aku biarin aja.
Pagi berikutnya aku bangun udah meluk Damon. Aku bahkan nggak tahu kapan dia masuk tadi malam. Aku meluk dia lebih erat, menghirup aromanya, aku nggak bisa berhenti mikir seberapa jauh hubungan kita kalau kita nggak keras kepala dari awal.
"Selamat pagi, cantik," sapanya dengan senyum lebar di wajahnya, bikin aku senyum juga.
Kita siap-siap buat hari itu terus turun ke bawah. Semua orang udah ngumpul di meja, ngobrol, bikin aku senyum. Chase dan Aria kayaknya akur, kalau dilihat dari cara dia megang dan mandang Aria. Aria emang baik, kita ngobrol enak karena cuma kita berdua cewek di grup ini. Kita saling berbagi pengalaman dan perjuangan, dan aku jadi tahu banyak tentang dia dan Damon. Aku tahu pasti mereka saling cinta dan aku iri sama mereka. Mereka perhatian banget satu sama lain, peduli satu sama lain, sedangkan kakakku malah berencana ngebunuh aku entah di mana.
"Gimana kalau kita semua jalan-jalan Sabtu ini?" usul Aria.
"Wah, kita juga bisa ngerayain ulang tahun Lee," celetuk Jonathan.
"Aku nggak mau. Kalian tahu gimana perasaan aku soal ulang tahunku," kataku, nolak ide itu.
"Itu hari kamu lahir. Hari dewi bulan memberkati aku denganmu. Itu patut dirayakan, kalau kamu nggak mau ngerayain, biar aku aja, karena aku bersyukur kamu lahir," cara dia ngomong bikin aku hampir nangis tapi aku malah senyum dan meluk dia, meskipun itu nggak berarti aku merayakan apa pun.
"Ayolah, kamu kan Luna. Kita bisa umumkan kamu sekarang dan semua orang bakal kenal kamu. Kamu kan belum pernah ketemu orang-orang di pack," kata Chase dan meskipun rencananya meyakinkan, aku nggak bakal nyerah.
"Jangan paksa dia soal apa pun," tambah Sam
Mereka cuma ngangguk dan kita lanjut ngobrolin apa aja. Damon harus pergi buat rapat pack. Chase dan Aria pergi ke kamar mereka, ninggalin aku sama Sam dan Jonathan aja. Dua orang yang sangat aku butuhin buat ngobrol.
Aku cerita tentang surat itu dan Jonathan panik, sementara Sam masih tetap netral.
"Kita harus gimana, kita udah nggak aman di sini," kata Jonathan.
"Aku tahu, makanya aku saranin kita pergi. Aku nggak mau nyeret Damon dan pack-nya dalam hal ini," kataku tenang, aku nggak mau orang-orang mati karena aku, aku nggak bakal maafin diri sendiri.
"Emang itu yang kamu mau?" tanya Sam hati-hati.
"Iya, aku udah mikirin baik-baik. Dengan begitu, Damon nggak kena masalah dan karena kita belum kawin atau ditandai, bakal lebih gampang buat dia move on kalau sesuatu terjadi sama aku. Kalau aku tetap di sini, dia bakal mempertaruhkan dirinya demi aku," kataku pelan, mikirin buat ninggalin dia aja udah nyakitin, tapi aku harus lakuin ini demi kita berdua.
"Jadi kapan kita pergi?" tanya Jonathan.
"Sabtu," jawabku.
"Serius, Lee, pas ulang tahunmu? Dia baru aja bilang kalau itu berarti sesuatu buat dia. Kamu nggak bisa ninggalin dia gitu aja," seru Jonathan.
"Bisa. Aku ngerasa ada firasat buruk tentang ulang tahun ini. Aku nggak mau yang ini lebih buruk dari yang lain," ungkapku.
"Nggak bakal. Bisa jadi yang terbaik. Kamu cuma terlalu pesimis," kata Sam.
"Ya, itu datang dari orang yang ngajarin aku buat nggak pernah berharap terlalu tinggi dan selalu ngarepin yang terburuk," sahutku.
"Kenapa ulang tahunmu, Lee, kenapa nggak lebih cepat?" tanya Jonathan dan aku ngalihin perhatianku ke dia.
"Aku mau mengakhiri semuanya di hari di mana semuanya dimulai."