Bab Sembilan Belas
Kita lanjut perjalanan sekitar dua puluh menit, jumlah orang yang gabung grup kita makin banyak tiap detiknya. Semua orang bilang ke aku kalau mereka senang banget akhirnya aku pulang, rasanya aneh. Mereka semua bilang aku akhirnya pulang, tapi ke tempat yang belum pernah aku lihat, gimana bisa dibilang rumah kalau aku belum pernah ke sana? Apa nanti rasanya kayak rumah? Atau aku bakal kangen rumah sampai nyebelin? Banyak banget pertanyaan, yang aku tahu jawabannya bakal muncul seiring waktu, ini kehidupan baru yang mau aku mulai, pasti banyak hal yang gak aku tahu.
Selama jalan ini, yang kita lewatin cuma pohon, pohon terus. Tapi sekarang aku mulai lihat pohonnya menipis dan ada tanah lapang di depan, pas kita sampai di tanah lapang itu, mulutku langsung kebuka. Ada kota yang tersembunyi, jauh lebih besar dari kota kita, tapi aku belum pernah dengar atau lihat kota ini. Aku lihat Cody, kaget banget sampai dia ketawa kecil, aku gak nyangka!
"Selamat datang di rumah Erika, ini kota utama untuk kawanan kita," Cody senyum sambil nuntun aku masuk ke tempat yang luar biasa ini, ada toko-toko dan sepertinya kita juga lewat sekolah, "bagian kota ini tempat semua anggota kawanan tinggal," jelasnya lagi pas kita sampai di persimpangan, di sisi kita ada jalanan rumah yang kayaknya panjangnya bermil-mil.
"Nah, kalau kita terus naik, rumah kawanan ada di depan sini dan semua bangunan penting dan rumah kita," Cody senyum nuntun aku, kita lewat banyak orang, mereka semua ngasih lambaian tangan dan sorak semangat pas aku lewat.
Gak bohong deh, ini mulai bikin aku kewalahan, apa mereka beneran senang lihat aku? Kita lanjut jalan, tepat di depan ada bangunan besar, orang-orang sibuk keluar masuk.
"Ini bagian utama dari kawanan, rumah kawanan," Cody jelasin dengan senang sambil nunjuk bangunan raksasa di depan aku, itu penjelasannya, "di sana ada lapangan latihan, tempat semua penjaga perbatasan dan petarung latihan," Cody nunjuk ke kiri rumah kawanan, ada lapangan besar dengan bangunan lain di ujungnya.
Kita mulai jalan ke kanan bangunan kawanan, kerumunan yang ngikutin kita berhenti di luar rumah kawanan dan mulai melambai ke kita pas kita pergi. Cuma ada aku, Cody, dan Scott yang jalan di jalur ini, aku penasaran kenapa mereka gak ikut.
"Nah, bagian ini punya kita, anggota kawanan biasa dilarang datang ke bagian ini, ini untuk Alpha dan Luna, Beta dan Gamma-nya," kata Cody sambil kita lanjut perjalanan, tepat di depan kita ada tiga bangunan.
Ukuran mereka juga besar, yang tengah paling besar. Mereka gak bersentuhan tapi juga gak jauh dari satu sama lain, aku gak bohong deh, ini rumah mewah banget.
"Ini rumahnya Alpha, Beta, dan Gamma," kata Cody pas kita berhenti, di depan setiap rumah ada gerbang besar.
Yang di kanan ada tanda tulisannya "Beta", yang di kiri "Gamma", dan yang di tengah "Alpha dan Luna".
"Ini tempat kita tinggal," kata Cody sambil nunjuk rumah tengah, yang juga paling besar di antara ketiganya.
"Kukira Alpha dan Luna tinggal di rumah kawanan," kataku, masih kaget sama ukuran rumah di depan aku, aku gak bohong deh kalau bilang ini rumah paling besar yang pernah aku lihat.
"Seseorang udah ngerjain PR-nya," Scott senyum dari samping Cody, jujur aku gak punya banyak pilihan kalau mau tetap update.
"Iya, itu hal yang umum di dunia manusia serigala, tapi aku mau kawanan ngerasa kalau rumah kawanan itu untuk mereka, bukan cuma rumah kita," Cody jelasin, yang sebenarnya manis banget, "jadi semua orang boleh masuk rumah kawanan, misalnya kalau ada pengembara yang mau mengubah hidup mereka dan berharap bisa gabung kawanan, kebanyakan Alpha bakal ngebuang mereka ke penjara bawah tanah sampai mereka ambil keputusan, aku biarin mereka tinggal di rumah kawanan, di mana kita bisa memantau dan lihat gimana mereka bersikap di sekitar anggota kawanan lainnya, itu beneran membantu mempercepat waktu aku ambil keputusan," Cody jelasin sambil Scott ketawa mundur ke arah rumahnya, tunggu, Martha bakal tinggal di sana!
"Itu dan Cody gak suka anggota kawanan keluar masuk rumahnya," dia ketawa sambil tetap mundur, Cody ketawa mengangguk pelan.
"Iya, dan itu, tapi kita juga punya tempat pribadi di mana kita bisa adain rapat dan cuma menjauh dari anggota kawanan," katanya membela keputusannya, "apa menurutmu raja punya orang sembarangan keluar masuk tempatnya?" Dia nanya sambil ngelihat ke aku dan Scott, Scott cuma ketawa geleng-geleng kepala, sementara aku buka suara.
"Dia punya pelayan dan pembantu di sana terus," kataku mengoreksi dia, Cody kelihatan kaget, natap aku tapi gak lama kemudian senyum.
"Yang dia bayar untuk ada di sana," katanya berusaha mencari celah di pernyataan aku, tapi aku jagonya dalam diskusi jenis ini.
"Kamu gak bayar anggota kawanan kamu untuk pekerjaan yang mereka lakukan?" Aku nanya, sebagian karena gak tahu, sebagian lagi buat membuktikan poin aku.
"Kamu nemu lawannya!" Scott ketawa sekarang berdiri di gerbang rumahnya, "Mending aku pergi deh, Martha bakal bunuh aku kalau aku gak nanya, apa dia boleh datang dan ketemu Erika nanti?" Scott nanya sambil buka gerbang, itu bikin senyum muncul di wajah aku pas dengar aku bisa ketemu Martha.
"Iya, kita semua bisa makan malam bareng di rumah kawanan," kata Cody, yang bikin aku pengen balik lagi ke percakapan kita sebelumnya, tapi aku tahan, senang bisa ketemu wajah yang familiar.
"Mending aku pergi deh, sampai jumpa nanti malam," Scott senyum sebelum berbalik dan jalan naik tangga masuk ke rumahnya.
Cody berbalik ke aku sambil senyum sebelum nuntun aku lewat gerbang rumahnya dan naik tangga, dia meraih saku belakangnya, ngeluarin kunci dan buka pintu.
"Selamat datang di rumah," dia senyum, biarin aku masuk duluan, aku senyum, nginjakkan kaki pertama di rumah, gede banget.
Pas kamu masuk ke rumah ada tangga besar yang mengarah ke, ya, atas. Lantai bawah semua terbuka, dengan dapur dan ruang makan di satu sisi, dan ruang keluarga/area duduk di sisi lainnya. Dari pintu teras di belakang, aku bisa lihat betapa besar kebun belakangnya. Semuanya itu cuma dari apa yang bisa aku lihat dari tempat aku berdiri, mungkin masih banyak lagi yang bisa dilihat di atas.
"Kamu tinggal di sini?" Aku nanya, kagum masih lihat-lihat, apa yang bisa dilakukan satu orang dengan semua ruang ini?
"Kita tinggal di sini, ini rumah kita," dia bilang ke aku sambil megang tangan aku, semua ini terlalu banyak buat dicerna.
"Aku baru tahu tentang kamu dan kita tadi malam dan aku udah di sini, rasanya kayak mimpi," kataku, dia cuma senyum sambil naruh ciuman di kepala aku, aku gak akan pernah terbiasa sama percikan yang muncul di seluruh wajah aku pas dia lakuin itu.
"Sejak aku nemuin kamu, cuma ini yang aku mau, kamu pulang sama aku, tempat kamu seharusnya berada, aku mikirin banyak cara aku bisa kasih tahu kamu tentang kita dan gimana aku bisa bawa kamu ke sini, cepet banget, tapi aku senang banget," dia senyum narik aku lebih dekat ke dia, aku cuma ngangguk masih mencerna sedikit bagian dari rumah, "petugas yang nyebrangin perbatasan kita kasih aku kesempatan, terima kasih untuk itu," dia berbisik, tapi aku cuma ngasih dia tatapan, aku gak ngaku tentang itu!
"Aku gak tahu kenapa kamu berterima kasih, aku gak ada hubungannya sama itu," aku berusaha bohong, tapi gak bisa nahan seringai yang terbentuk di bibir aku, "dia pantas mendapatkannya," aku bergumam, sedikit memalingkan muka, Cody cuma ketawa, dalam hitungan detik bibirnya ada di bibir aku, tapi aku menjauh.
"Aku butuh tur rumah," aku senyum manis sambil megang tangannya dan narik dia, dia mengeluh, tapi gak lama kemudian senyum, mulai nunjukin aku sekeliling.
Rumah baru aku.