Bab Tiga Puluh Lima
Aku duduk di ranjang, guling kanan kiri. Udah malem banget, badan capek, tapi aku gak bisa berhenti mikirin Reece. Cody belum balik dari ngejar dia. Kalo sesuatu terjadi, aku pasti bakal denger beritanya. Aku menghela napas, nyenderin kepala ke sandaran tempat tidur sambil natap keluar jendela. Bulan purnama, jadi langit kelihatan indah banget. Aku gak sendirian kan yang ngerasa santai pas liat bulan sama bintang? Dulu waktu Ibu pertama kali ilang, aku sering duduk di jendela, cuma liatin bulan. Ada bagian dari diri aku yang selalu berharap, dimanapun Ibu berada, dia juga lagi liatin bulan bareng aku. Jadi, secara teknis dia gak ilang. Aku tau, mungkin kedengeran aneh, tapi itu cara aku buat tetep punya harapan. Ternyata, dia udah ada di sini dari dulu.
Pikiran tentang Ibu mengingatkan aku, aku harus nemuin dia. Cuma dia yang punya kekuatan buat ngehentiin Ayah. Walaupun aku yang selanjutnya bakal jadi pemimpin kota ini, Ethan selalu bilang dia gak mau tanggung jawab itu, jadi ya udah, giliran aku. Sampai Ibu tanda tangan dokumen yang ngasih kota ke aku, aku gak bisa ngapa-ngapain buat ngehentiin Ayah. Kalian pasti mikir, kan kita kira Ibu udah meninggal, emang gak tanggung jawab kotanya jatuh ke aku? Jawaban singkatnya, nggak. Kita semua mikir dia udah meninggal, tapi tanpa jasad atau bukti yang mendukung kalau dia udah meninggal, di mata hukum dia masih hidup banget. Untung kita gak bilang dia udah meninggal, ya kan?
Raungan dari luar bikin aku kaget. Mungkin kedengeran aneh, tapi aku tau suara serigala Cody kayak gimana. Raungan itu gak kayak dia. Aku gak terlalu khawatir sesuatu terjadi sama Reece, soalnya lagi-lagi, itu gak kayak Cody. Aku rebahan lagi dan berusaha senyaman mungkin. Gak ada yang bisa nolak buat tidur kalo udah selonjoran kayak burrito! Rencana burrito aku berhasil, dalam beberapa menit, aku udah tidur pules.
"Kamu ngomongin apa sih?! Kenapa kita harus rencanain sesuatu?!" tanyaku, berusaha menjauh buat pulang. Tapi dia kasar narik tanganku, bikin aku balik lagi.
"Kamu pikir aku gak liat, kamu dan semua temen deket kamu berusaha nyusun rencana buat bikin aku dijauhin!" teriak Tristan, narik aku lagi ke arah danau. Aku gak mau semua ini!
"Kamu sama aku bisa bagus, Erika, tapi kamu terus aja biarin temen-temen kamu ngejauhin kamu dari aku, tapi udah gak bisa lagi!" Dia teriak sambil terus narik aku melewati rumput tebal. Aku hampir beberapa kali kesandung di jalan.
"Kamu sakit, Tristan, oke? Kamu harus cari bantuan, apa yang kamu omongin itu cuma ada di pikiran kamu. Dulu kita baik-baik aja, tapi kadang sesuatu gak berhasil dan gak apa-apa, biarin aku pergi," kataku berusaha lepasin tanganku dari genggamannya, tapi dia genggamannya kuat banget, gak mau lepas.
"Kamu gak dengerin!" Dia teriak, meluk aku erat dengan kedua tangannya, ngejebak tanganku di samping tubuhku jadi aku gak bisa ngelawan dia "kamu cuma perlu dengerin," katanya, narik aku ke tepi air. Aku nunduk dan ngeliat pantulan diriku yang ketakutan balik natap aku.
"Gak, Tristan, kamu gak mikir jernih!" aku teriak, berjuang melawannya saat dia berusaha menyeretku lebih dekat ke air.
Aku bangun dengan keringat dingin, ketakutan, dan gemetar. Aku lihat ke sampingku, Cody tidur nyenyak. Setidaknya aku tau dia pulang dengan selamat. Aku nenangin napas sebelum turun dari ranjang dan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Begitu di dalam, aku nutup pintu dan bersandar di konter. Udah lama aku gak mikirin kejadian itu. Aku rasa dengan semua yang terjadi, pasti bakal muncul lagi. Aku tau dia gak bisa nyakitin aku lagi, tapi rasa takut itu masih suka muncul. Aku bertanya-tanya, apakah ini akan hilang atau aku akan terus seperti ini?
Begitu aku udah tenang sepenuhnya, aku balik keluar kamar mandi. Cody udah bangun, duduk sambil natap aku. Aku ngasih dia senyum kecil sebelum balik lagi ke ranjang. Gak mungkin aku bisa tidur lagi karena takut memori itu muncul lagi. Tapi aku gak mau bikin Cody khawatir kalo aku nunjukin sesuatu yang salah, dan aku gak mau dia nanya-nanya tentang itu.
"Gimana Reece?" tanyaku sambil naruh selimut lagi ke kakiku. Rumah gak dingin, tapi gak ada yang ngalahin kehangatan dari selimut di pagi hari.
"Setelah banyak perdebatan, dia lebih baik dari pas dia pertama kali tau. Aku tau ini bakal susah, tapi kamu harus ngomong sama Ibu kamu. Cuma itu yang bikin dia tenang semalem," katanya, yang bikin aku menghela napas kecil. Aku berusaha ngasih semangat buat diri sendiri semalam tentang ketemu dia, aku rasa itu gak berhasil.
"Aku tau. Scott udah ngasih semua informasi tentang dia, jadi gak bakal susah buat nyari dia," aku menghela napas, bersandar lagi di sandaran tempat tidur. Nyari dia gak bakal susah, tapi perjalanan emosional yang akan aku lalui bakal susah. "Tapi aku lakuin ini buat Reece dan semua orang di kota. Semakin cepet kita bisa melewati semua yang terjadi baru-baru ini, semakin baik," aku tersenyum sambil menatapnya. Kita semua bisa optimis kadang-kadang.
"Kamu luar biasa," dia tersenyum balik ke aku. Aku cuma melakukan gerakan kecil, bilang aku tau. "Beneran, gimana sih caranya aku bisa dapetin kamu?" dia bertanya sambil menatapku dengan tatapan penuh cinta. Aku cuma tersenyum, terus nyium bibirnya.
Dia natap aku sebentar sebelum nyium bibirku lagi, lebih bergairah. Sekarang, aku bukan tipe yang mau bahas detailnya, tapi anggap aja akhirnya aku ditandai dan kita menyelesaikan proses perkawinan. Aku tau, sekali duduk!
Aku ada di dapur lagi bikin makan siang. Pagi ini kita punya acara yang seru, jadi kita gak sempat sarapan. Aku belum sempat masak sejak aku datang ke sini. Cody selalu ambil alih, atau kita pesta. Yang jangan salah, itu luar biasa, tapi aku emang suka masak dan ngerjain semuanya.
Cody turun dari tangga dengan senyum lebar di wajahnya. Senyum itu gak pernah hilang dari bibirnya hari ini.
"Aku udah bikin makan siang," kataku, sambil nunjuk piring berisi makanan. Dia tersenyum, ngambil sepotong tomat dan ngelemparnya ke mulutnya.
"Makasih, aku pengennya sih tetep di sini, tapi aku harus kerja. Kamu udah ganggu aku cukup banyak pagi ini," dia tersenyum sambil mengedipkan mata, terus masukin tomat lagi ke mulutnya. Aku ngeliat jam tanganku dan liat hari Minggu.
"Kamu gak harus kerja hari ini. Gak ada yang kerja hari Minggu, kecuali dokter, perawat, dan semua peran penting lainnya yang harus diisi orang," aku ngomong ngalor ngidul, tau aku gak bener-bener membuktikan poin aku di sini. "Tapi kamu jadi Alpha, berarti kamu gak harus kerja hari ini. Jangan coba bohong dan bilang itu beda di kehidupan kawanan, karena aku tau Reece. Hari Minggu dia gak keluar dari ranjang sampai tengah hari, dan setelah itu dia duduk di pantatnya nonton tv, jadi kalo dia dapet libur hari Minggu, kamu juga!" aku tersenyum sambil ngambil piringnya dan naruh di tangannya. Dia memutar matanya tapi tersenyum sambil duduk.
Aku berbalik, ngambil piringku dan duduk di sampingnya. Kita bisa makan siang bareng, daripada dia terus kerja. Dia ngasih aku senyum yang lebih lebar lagi sambil makan. Dia kelihatan menikmatinya!
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu bisa masak?" Dia bertanya, mengisi garpunya dengan lebih banyak makanan lagi. Aku cuma tertawa, menggelengkan kepala saat teriakan terdengar dari luar.
"Martha dan Scott, cuma itu yang mereka lakuin sejak Scott nemuin dia di rumah," Cody menjelaskan sambil berdiri buat ngambil makanan lagi. Wah, dia makan secepat itu! "Martha yang nyebabin semua perkelahian dan argumen semalam, dia pikir dia siapa, Houdini?" dia bertanya dengan nada sedikit kesal. Aku rasa orang-orang gak biasa dengan bagaimana Martha.
"Sebenarnya bukan salah dia, susah buat semua orang di waktu seperti ini," aku menghela napas, ngeliat piringku sedikit. Itu alasan aku punya memori tentang apa yang terjadi.
"Yang Martha sembunyiin dari Scott, kamu bagian dari itu?" Dia bertanya sambil duduk di sampingku. Aku menatapnya sebentar, mengangguk sedih saat pintu terbuka. "Pintu ditutup ada alasannya, Scott!" Cody berteriak kesal sambil menggenggam tanganku. Tapi bukan Scott yang masuk ke dapur, melainkan seorang pria dan seorang wanita.
"Ya, untuk dibuka," kata wanita itu sambil tersenyum dan menatap kami. Aku gak tau siapa orang-orang yang berdiri di depanku itu.
"Apa yang aku tau, pintu gak pernah ngehentiin kamu sebelumnya, Ibu," kata Cody, yang bikin mataku membelalak. Aku rasa aku ketemu orang tuanya.