Bab Dua Puluh Tiga
Pagi harinya, makan malam tadi malam tuh sesuatu yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Gue makan sayuran terus sepanjang malam, sementara Martha beneran nyobain beberapa pilihan yang lebih 'hidup', gue belum pernah lihat orang muntah sebanyak itu seumur hidup gue. Tapi secara keseluruhan, malam itu menyenangkan, gue jadi lebih kenal sama Scott, yang malah bikin gue makin bingung.
Waktu makan malam, dia baik banget, awalnya gue pikir dia lagi pura-pura. Kalo beneran pura-pura, harusnya dia jadi aktor, soalnya gue nggak pernah bisa menebaknya, atau dia emang cowok yang baik. Tapi itu nggak menjelaskan kenapa dia nyerang kota, bahkan sampe nggak nurut sama perintah Cody. Apa yang udah kota ini lakuin sampe bikin dia semarah itu? Kita kehilangan beberapa orang hari itu karena alasan yang nggak ada yang tahu, dan gue masih nggak tahu, gue nggak tahu apakah Cody bakal kasih tahu gue atau nggak.
Dia bilang alasan dia nggak kasih tahu gue karena dia nggak mau bikin gue kesal, apa itu berarti apa pun yang bikin Scott marah ada hubungannya sama gue atau keluarga gue? Apa Cody khawatir gue bakal nanya-nanya Scott tentang itu? Mungkin Martha nggak tahu kalau sebenarnya Scott yang mulai semua serangan itu, jadi Cody lagi ngebelain dia? Tapi itu tetap nggak menjelaskan kenapa gue nggak boleh tahu! Kalo emang parah dan bakal bener-bener bikin Martha kesal, gue nggak bakal kasih tahu dia.
Tapi gue nggak bisa banyak berbuat buat cari tahu, gue nggak bisa maksa Cody buat cerita, karena dia bisa aja maksa gue buat cerita apa yang terjadi sama mantan gue. Ya, gue tahu dia nggak beneran akan maksa gue, tapi gue akan merasa wajib buat cerita kalau dia cerita tentang Scott. Gue bisa cari tahu sendiri, gue pengen ada yang bantuin gue dan pilihan yang paling jelas ya Martha, tapi kan gue lagi nyari informasi tentang pacarnya, jadi dia nggak akan mau bantu gue. Susah banget kan posisi gue?!
Gue putusin, gue harus berusaha keras buat nggak mikirin alasan serangan itu dulu, sesulit apa pun itu! Gue baru selesai dandan, cuaca berubah jadi lebih dingin, ya, kan udah mau musim dingin, jadi ya gitu deh. Martha milih banyak banget sweater hangat, jadi gue milih yang merah tua sama celana jeans hitam aja.
Pas gue turun tangga, bau bacon memenuhi hidung gue, baunya kayak surga. Sayuran semalam enak banget, tapi itu doang yang gue makan hampir dua hari. Pas gue sampai di bawah, gue belok ke dapur, di mana gue ngeliat Cody lagi masak sesuatu di kompor. Ini bikin gue senyum, sebulan yang lalu gue nggak nyangka bakal ada di posisi ini. Gue kenal Cody, tapi gue nggak tahu kita ini apa atau dia itu apa, tapi gue seneng banget dan bersyukur dia akhirnya cerita ke gue lebih cepat daripada nanti.
Gue masuk ke dapur, dia langsung ngangkat muka, gue kirim senyum ke dia sambil nunduk ke meja buat ngeliat dia lagi masak apa. Hidung gue bener soal bacon, dia juga masak telur kayaknya sama mungkin kacang-kacangan.
"Duduk dulu, aku udah nyiapin sarapan jadi kamu punya setidaknya satu kali makan yang bener," dia senyum, naruh sesuatu yang gue pikir itu spatula, balik badan buat ngambil piring penuh makanan "sarapanmu sudah siap, nona," dia senyum pake aksen sok, sambil membungkuk, gue ketawa kecil ngeliat makanan yang kelihatan enak banget.
"Biar jelas, nggak ada yang bakal bergerak di piring, kan?" gue nanya sambil bercanda, ngeliatin dia, dia senyum sambil geleng kepala, balik lagi ke masakannya.
"Aku janji, semua yang ada di piring itu udah bener-bener matang," dia senyum mulai menata makanannya sendiri, gue senyum ngambil gigitan pertama bacon dan woah, nih cowok jago masak!
Nggak lama dia udah nata makanannya sendiri dan duduk di depan gue di meja, aw, ini pertama kalinya kita sarapan bareng. Dia ngeliatin makanannya dan menghela napas, ada yang salah sama makanannya? Apa dia mau lagi karena gue bisa kasih dia punya gue! Gue punya banyak.
"Aku minta maaf soal tadi malam, seharusnya aku udah ngasih tahu kamu apa yang harus diharapkan, aku nggak mikir aja," dia bilang masih ngeliatin makanannya, tunggu, gue harap dia sadar gue cuma bercanda, kalau dipikir-pikir sekarang, lucu juga "kita udah sering makan-makan kayak gitu bahkan sebelum aku lahir, itu tradisi buat kita dan lebih kayak acara budaya buat para serigala kita, aku cuma lupa kalau kamu dan Martha nggak punya serigala jadi nggak akan terlalu menyenangkan buat kamu-" dia mulai ngomong nggak jelas merasa bersalah tentang semuanya, sekali lagi gue nggak mikir itu masalah besar.
"Hei, kamu nggak perlu minta maaf buat acara yang udah kamu lakuin seumur hidupmu, kalau dipikir-pikir, seharusnya aku dan Martha yang minta maaf karena ngerusak tradisi yang kamu punya," gue bilang, yang dia geleng-geleng kepala ngeliatin gue dengan serius, ini bikin gue juga menghela napas "tentu saja, sekarang kita tahu kita ini apa, ini akan jadi kejutan budaya yang berat buat semua orang, tapi aku nggak mau kamu merasa nggak enak karena sesuatu yang kamu nikmati dan sesuatu yang selalu kamu lakuin, kamu udah biasa kayak yang kamu bilang, kamu udah lakuin sejak sebelum kamu lahir, ini cuma sesuatu yang sekarang kita udah jadi pasangan, yang harus aku biasain," gue bilang sambil megang tangannya saat gue ngomong, hal terakhir yang gue pengen dia rasain adalah nggak enak karena apa yang dia suka lakuin.
"Kita ada pesta besar semua anggota malam ini, kalau kamu pikir makan malam tadi malam intens, itu nggak ada apa-apanya sama yang ada di pesta anggota. Scott dan aku udah ngobrol dan mungkin ide bagus untuk membatalkannya-" dia mulai ngomong tapi gue potong lagi, gue sering banget ngelakuin itu akhir-akhir ini.
"Kamu nggak boleh batalin, seperti yang kamu bilang itu pesta buat seluruh anggota, aku nggak akan biarin seluruh anggota kecewa karena aku kaget sama beberapa piring yang bergerak," gue ketawa yang memang bikin dia ketawa kecil "pesta malam ini mungkin akan sedikit lebih intens tapi setidaknya kita tahu apa yang harus diharapkan, itu juga akan memberi semua orang kesempatan untuk saling mengenal karena banyak orang yang udah gabung dari kota, nggak apa-apa kok," gue senyum sambil ngeremas tangannya, dia ngirim senyum balik ke gue sambil ngangkat tangan gue buat ngasih ciuman di atasnya.
"Terima kasih Erika," dia senyum sebelum kita berdua balik lagi buat makan sarapan, dia akan melamun beberapa kali buat mind-linking sama Scott tapi segera balik lagi.
Gue nggak tahu apa yang akan gue lakuin hari ini, sepertinya Cody udah merencanakan setiap harinya. Di rumah gue dulu, gue tahu apa yang gue lakuin, kebanyakan cuma nongkrong sama Justin. Sekarang, mungkin kalian bertanya-tanya, apa cewek ini punya pekerjaan? Jawaban dari pertanyaan kalian adalah nggak, bukan karena gue nggak mau, percaya deh, gue pengen banget mulai kerja dan menghasilkan uang sendiri. Sebelum ibu gue hilang, gue dulu kerja di salon rambut, jelas gue masih terlalu muda buat deket-deket rambut siapa pun yang ada di kepala mereka, jadi kerjaan gue cuma nyapu semua rambut dari lantai.
Tapi setelah ibu gue hilang, ayah gue berhentiin kerjaan gue, dia bilang ke gue dan Ethan kalau di luar terlalu berbahaya. Dia bahkan berusaha bikin kita nggak sekolah tapi untungnya, Reece ngeyakinin dia kalau dia bakal ada di samping gue terus. Bahkan setelah gue lulus sekolah, dia bilang gue nggak boleh kerja, jadi dia ngasih gue dan Ethan uang saku mingguan. Gue tahu kalian semua mungkin mikir, gue pengen hidup kayak gitu, kenapa cewek ini ngeluh?! Kelihatannya sih enak, tapi kenyataannya, pas semua temen gue pada kerja, gue sendirian di rumah bosen.
Gue nggak tahu apa yang boleh dan nggak boleh gue lakuin di sini, gue bahkan nggak tahu ada kegiatan apa aja yang bisa dilakuin. Gue tahu sebagai Luna, gue nggak banyak ngapa-ngapain, jadi kebanyakan Luna keliling dan ngobrol sama anggota, itu sebabnya mereka sayang banget sama dia. Tapi gue bahkan belum dikenalin ke anggota, apa mereka mau ketemu gue? Pas gue lewat kemarin mereka semua senyum, ya udah deh, itu yang akan gue lakuin hari ini! Kalau Cody nggak ada rencana apa-apa, kalau dia punya, gue bisa lakuin besok, semuanya mulai membaik!
"Jadi, apa yang udah kamu rencanakan hari ini?" gue nanya sambil naruh piring gue di bak cuci piring, Cody udah selesai duluan dari gue tapi dia nambah lagi, tuh cowok jago masak tapi juga jago makan.
"Scott datang tiap pagi dan ngasih gue laporan, gue putusin masalah mana yang lebih penting dan kita mulai dari situ," dia jelasin sambil nyumpel bacon lagi ke mulutnya, apa dia nggak kenyang ya?
"Masalah?" gue nanya sambil cuci tangan di bak cuci piring, gue khawatir gue bakal bau telur dan itu bukan perkenalan yang bagus buat anggota.
"Selalu ada aja yang salah, sekali dalam bulan biru, dia datang ke gue bawa kabar baik," dia menghela napas mulai menjilati sisa-sisa dari piring, pasti dia laper.
"Maksudnya, mungkin banyak banget hal bagus yang terjadi di anggota, tapi kerjaan kamu buat ngejaga mereka jadi kamu cuma denger soal hal yang lebih penting," gue bilang berusaha bikin dia merasa lebih baik, dia bangun juga naruh piringnya di bak cuci piring bareng piring gue.
Dia dateng ke gue dari belakang meluk gue, gue senyum bersandar padanya saat pintu mulai mengetuk. Dia nyuruh Scott masuk sementara dia naruh kepalanya di leher gue, gue rasa gue ada di sini buat rapat kecil yang mereka adain. Scott segera masuk ke dapur dengan map di tangannya, dia menyapa kita selamat pagi sambil menaruh map itu di sampingnya.
"Jadi, ada apa hari ini?" Cody nanya ngangkat muka dari leher gue ke arah Scott, apa dia nggak optimis sedikit aja kalau itu kabar baik?
"Aku nggak ke sini buat ketemu kamu dulu Cody, aku ke sini buat Erika," kata Scott yang bikin mata gue membelalak dan Cody sedikit tegang di belakang gue.
"Erika, kenapa kamu harus bicara dengannya?" Cody nanya dari belakang gue lagi, gue juga pengen tahu informasi ini.
"Kamu tahu aku kayak gimana Cody, aku nggak suka bahas masalah dengan orang yang nggak terlibat di dalamnya, aku yakin Erika akan memberi tahumu masalahnya pada waktunya, tapi untuk saat ini, aku harus bicara dengan Erika di kantor kamu," Scott memberi tahu kita sambil berjalan menyusuri lorong, yang gue tebak menuju kantor Cody.
Gue menoleh khawatir ke Cody sebelum mulai keluar dari dapur, sebelum gue keluar gue noleh ke arah Cody. Dia masih belum beranjak dari tempatnya di meja, gue mengangkat bahu sebelum berbalik mengikuti Scott ke kantor.
Nggak jelas apa yang sebenarnya akan kita bahas.