Bab Empat Puluh Lima
Udah dua hari sejak semua yang terjadi sama Ethan, yang udah bangun dan baik-baik aja. Kemarin seharian penuh dihabiskan buat nyusun rencana buat masuk ke kota, kita tahu satu hal yang pasti, yaitu aku harus masuk ke kota. Makanya rencananya lama banget, Cody nggak mau ngebuat aku dalam bahaya jadi semua rencana dia tolak! Reece udah nggak sabar buat ngendaliin kota lagi, pertama biar semua kekacauan ini selesai, kedua, dia bisa bikin Justin bayar atas apa yang dia lakuin ke Kayleigh.
Setelah beberapa jam panjang ngebahas rencana, Cody akhirnya setuju sama satu, cuma karena dia dan sebagian besar kawanan bakal ikut aku! Jujur, aku nggak terlalu keberatan karena sejujurnya aku nggak antusias sama ide buat masuk ke sana sendirian. Kita mutusin waktu terbaik buat masuk kota adalah pagi-pagi banget, kayak sebelum matahari terbit gitu.
Seluruh kawanan ketemu di tepi perbatasan, bagian lain dari perbatasan. Nggak ada yang kelihatan gugup selain aku! Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi kalau semua ini jadi kacau, aku nggak mau ada orang lain yang terluka!
"Dengerin baik-baik, aku nggak bakal bohong sama kalian dan bilang ini bakal aman karena emang nggak bakal. Manusia udah sangat jelas soal ngejauhin kita dari kota, jadi kita harus hati-hati dan nggak kelihatan sampai waktunya tiba," kata Cody ngomong ke anggota kawanan, kayaknya aku harusnya kasih tahu kalian rencananya, kan?
Kita semua bakal nyelinap masuk ke kota dan pergi ke arah yang berbeda, Reece bakal mimpin tim buat ngambil semua senjata kota yang mereka simpan di balai kota. Scott bakal pergi sama sekelompok orang buat matiin semua listrik, jadi bakal gelap tanpa lampu jalan atau apapun. Sementara aku, Cody, dan sekelompok orang pergi ke pusat kota, cuma buat nunggu yang lain balik biar rencananya bisa dimulai. Apa aku harus bikin bagian terakhir rencana ini jadi kejutan? Ya, kayaknya aku bakal nunggu buat nunjukin ke kalian.
Kita semua masuk ke kota bareng sebelum semua orang mulai bubar, Cody genggam tangan aku erat banget waktu aku mimpin dia dan orang-orang ke pusat kota. Lumayan jauh jalannya karena kita berusaha sebisa mungkin nggak kelihatan, dari yang aku lihat mereka punya semua penjaga di perbatasan dan nggak ada yang jalan-jalan di kota, menurutku itu bukan langkah yang cerdas. Pas kita sampai di pusat, semua lampu jalan mati, yang cuma nunjukin ke aku kalau bagian pertama rencana berhasil. Nggak lama kemudian, tim Scott dan Reece udah balik nunggu bagian selanjutnya dari rencana, ini berjalan cukup lancar.
"Oke, kita semua tahu apa yang selanjutnya, sisi ini ambil penjaga perbatasan sementara kalian semua, serbu rumah-rumah yang udah kita tunjukin dan pastiin mereka nggak bisa minta bantuan, siap?" aku tanya sambil ngelihat sekeliling ke semua orang, mereka semua pasang tampang serius sambil ngangguk ke aku "oke, ayo jalan" kataku yang langsung bikin semua orang pergi ke arah yang berbeda, kecuali aku yang disuruh diem di sini.
Aku mulai ngelihat anggota kawanan narik polisi keluar dari rumah mereka, dengan lakban di mulut dan borgol di tangan dan kaki mereka. Mereka ditaruh di depan aku sebelum anggota kawanan pergi dan ngambil lebih banyak, nggak lama tempat itu penuh sama polisi yang diikat. Setelah sekitar sepuluh menit, Ayah dan Justin ditarik keluar dari rumah Ayah oleh Cody dan Reece. Mereka dijatuhin ke lantai buat gabung sama polisi lainnya, yang semuanya kelihatan ketakutan. Aku ngelihat anggota kawanan yang lagi ngitung, dia ngelihat sekeliling sambil ngangguk ke aku ngasih tahu kalau semua orang udah di sini.
"Baiklah, aku senang kalian semua bisa gabung sama aku di pagi yang indah ini. Aku bisa nebak kalau kalian semua cukup kaget sama apa yang baru aja terjadi dan kenapa aku berdiri di sini, nah aku bisa jawab semua pertanyaan kalian dengan ini," kataku sambil ngangkat dokumen yang ditandatanganin Ibu, nggak ada satu pun petugas yang tahu apa artinya, tapi aku bisa tahu dari mata Ayah kalau dia tahu "Aku adalah pemimpin baru kota ini dan seperti yang kalian lihat, aku udah ngambil kendali dan berencana buat mempertahankannya. Selama aku pergi aku udah lihat cara kalian memperlakukan orang-orang yang buruk dan itu memalukan," kataku pas lampu besar mulai nyala, tepat pada waktunya aku ngelihat.
"Erika kenapa kamu lakuin ini, kita udah punya hal yang bagus?" Ayah nanya sambil entah gimana nyabut lakban dari mulutnya, kedua tangannya masih diikat.
"Kalian punya hal yang bagus? Kalian ngendaliin orang-orang dan kalau mereka nggak setuju sama kalian, kalian bunuh mereka! Kamu monster yang akhirnya berhenti," kataku pas orang-orang mulai keluar dari rumah mereka dengan bingung, bagi mereka lampu yang terang ini bisa jadi, alien, Yesus, atau sesuatu yang buruk terjadi.
Mereka semua noleh ke aku terus ke semua polisi yang diikat, beberapa bisa aku tebak sangat senang sementara yang lain ketakutan. Aku berdiri di tepi air mancur di tengah kota, yang untungnya kosong entah kenapa.
"Kita nggak di sini buat nyakitin kalian, Ibu aku pemimpin sebelumnya kota ini dan udah menyerahkannya ke aku. Semua aturan dan batasan dan ketakutan yang orang-orang ini bikin kalian rasain, semuanya udah selesai. Aku, pasangan aku, dan semua anggota kawanan aku menyambut kalian," aku senyum ngelihat ke semua orang yang kaget, beberapa bahkan mulai nangis sementara yang lain bersorak.
"Jangan dengerin dia, hal-hal ini nggak bisa dipercaya, ingat apa yang mereka lakuin!" Ayah teriak berusaha ngebebasin tangannya tapi gagal, dia emang nggak tahu kapan harus berhenti.
"Apa yang terjadi hampir setahun lalu adalah salah paham besar, aku sama kamu waktu itu semuanya terjadi dan bingung kenapa. Tapi aku udah ngobrol sama beberapa orang dan sekarang tahu jawabannya, Martha bilang beberapa hal yang bener-bener bikin beberapa anggota kawanan marah yang berujung pada serangan itu. Aku bisa jamin kalau orang-orang ini adalah orang-orang paling baik yang bakal kalian temui, kalau bukan karena Martha, serangan itu nggak bakal pernah terjadi," kataku berharap bisa nenangin saraf orang-orang, semua yang aku katakan adalah benar "dan buat kamu, kamu bakal cerita soal apa yang terjadi saat serangan itu, waktu semua yang aku lihat dari kamu, serangan itu bukan apa-apa. Kamu biarin kekuasaan naik ke kepala kamu sampai kamu nggak terkendali, tapi aku ada di sini sekarang dan nggak ada cara aku bakal biarin kamu nyakitin anggota kawanan aku dan orang-orang di kota aku," kataku ngelihat Ayah dari atas sampai bawah dengan jijik, dia bukan orang yang aku kenal tahun lalu.
"Tapi kamu anak aku Erika-" katanya tapi aku langsung potong dia, aku tahu apa yang dia coba lakuin.
"Udah deh, kalau kamu bener-bener peduli sama anak-anak kamu, Ethan mana?" aku tanya sambil nyilangin tangan ngelihat dia, dia kelihatan kaget dan mulai ngelihat sekeliling dengan panik "boleh aku kasih tahu kamu dia di mana, dia ada di rumah sakit kawanan aku, dia ditemukan sama salah satu penjaga perbatasan dalam keadaan babak belur, dan aku penasaran siapa yang lakuin itu," kataku mataku ngelihat ke Justin yang lagi menghindari kontak mata sama siapa pun, Ayah noleh buat ngelihat Justin dengan kaget dan jijik.
"Kamu nyerang anak aku?" Ayah nanya Justin yang nggak bisa jawab, kayaknya dia bukan polisi hebat kalau dia bahkan nggak bisa nyabutin lakban dari mulutnya.
"Sekarang bakal jadi hal yang mengejutkan buat aku kalau aku nggak tahu kamu kayak gimana, bukan cuma Ethan, kan?" aku tanya dia yang langsung matanya melebar, dia tahu apa yang bakal aku katakan "kamu yang bunuh Kayleigh," kataku yang bikin suara kaget keluar dari mana-mana, apalagi dari Ayah yang kelihatan kaget nggak karuan.
"Aku bakal nikmatin momen ini kalau aku jadi Justin, kamu tahu ada satu orang yang pengen banget mukulin wajah kamu," kataku noleh ke Reece yang matanya tertuju ke Justin "semuanya dadah sama Justin, bawa dia pergi Reece," kataku minggir di mana Reece cuma cekikikan.
"Dengan senang hati," katanya sambil ngangkat Justin dari kerah bajunya dan narik dia pergi, rasanya menyenangkan kenal dia, nggak, nggak sama sekali.
"Nggak ada yang harus takut lagi, kawanan dan kota ini bisa akur dengan tahu nggak bakal ada lagi pertengkaran. Kalian semua bisa balik ke kehidupan bahagia normal kalian dan nggak ada lagi perbatasan, kalian bisa kunjungi kawanan kapan pun kalian mau dan anggota kawanan bisa datang ke sini, kita bukan lagi musuh," kataku bergerak buat berdiri di samping Cody, yang meluk aku.
Semua orang kota mulai bersorak dan saling peluk, aku bahkan lihat Sam lambaikan tangan ke aku sambil nangis bahagia. Aku balas lambaiannya sebelum ngelihat ke lautan petugas, yang kelihatan ketakutan.
"Nah buat kalian semua, aku nggak bakal ungkit apa yang terjadi atas kepala kalian karena aku tahu kalian cuma ngikutin perintah. Tapi kalau karena suatu alasan kalian nggak setuju sama gimana semuanya bakal berjalan dan kalian bakal bikin masalah, kalian bakal berakhir kayak Justin dan aku bisa jamin itu sesuatu yang nggak mau kalian alami," kataku sambil senyum ke mereka, aku punya firasat kalau Reece lagi nikmatin dirinya sekarang.
"Erika, aku nggak tahu apa yang Justin lakuin ke Kayleigh, kalau aku tahu nggak mungkin aku kasih dia kekuasaan yang aku punya," Ayah bilang bergerak di seberang jalan sementara petugas lain dibebasin, dia adalah orang pertama "aku cuma lakuin ini buat ngejaga semua orang tetap aman, aku nggak mau ada yang harus ngalamin apa yang kita alami. Terus orang-orang ini datang dan aku lihat itu sebagai cara buat ngejauhin semua orang dari dunia, aku tahu apa yang aku lakuin salah dan percaya deh aku nyesel. Lihat apa yang aku lakuin, aku ngejauhin anak aku sendiri karena siapa dia jatuh cinta," dia menghela napas sambil nunjuk ke Cody yang ngasih dia senyum kecil, tunggu mereka akur?!
"Aku tahu aku nggak pantes, tapi tolong coba maafin aku buat semuanya," Ayah bilang air mata menggenang di matanya saat dia berbicara, aku berjalan meluk dia menjawab pertanyaannya dengan cara itu.
Cody berjalan mendekat sambil nepuk-nepuk punggung Ayah dengan senyum, Ayah menarik diri dan mengulurkan tangannya ke Cody. Mereka berdua berjabat tangan dengan senyum saat orang-orang kota mulai ngobrol sama anggota kawanan.
Kita bukan lagi musuh!