Dua Puluh Dua
Damien
Aku beneran berharap situasi darurat ini sepadan dengan gangguan dari momen manisku dengan cewekku. Seharusnya aku cuma bilang 'Bodo amat, usir dia!' tapi bukan begitu cara keluarga kita memperlakukan orang asing. Kita menyambut mereka dan membuat mereka merasa seperti di rumah sendiri.
Aku turun ke bawah bahkan nggak repot-repot pakai kemeja. Mungkin kalau ini cepat, aku bisa balik lagi dan kita lanjut dari mana kita berhenti. Klara nyusul, kelihatan bingung kayak aku lagi marah.
Semuanya ada di sini. Mereka beneran balik lebih awal. Cowok yang jadi korban udah dibawa masuk ke rumah. Dia kelihatan masih muda. Kira-kira awal dua puluhan. Dia bakal gampang diurus selain sama kakek-kakek. Lagian vampir nggak suka makan darah orang tua. Nggak bergizi kayak darah anak muda.
Tapi tampangnya nggak oke. Dia berdarah. Apa dia berantem sama Vampir? Siapa yang bisa ngelakuin ini ke dia?
"Ceritain apa yang terjadi," tanyaku ke semua orang.
"Kami nemuin dia di beranda. Dia setengah sadar. Kami nggak tahu persis apa yang terjadi sama dia, tapi Mitras bilang dia pasti digigit sama para perusuh," jawab Raul.
"Mitras? Kenapa dia bawa dia ke sini? Dan kenapa dia langsung pergi tanpa ngomong apa-apa ke aku tentang hal itu?" tanyaku.
"Kami nggak tahu. Kayaknya dia lagi buru-buru," jawab Luter.
Aku mendekati cowok yang setengah sadar itu. Caranya natap aku bilang kalau dia sakit banget. Kapan terakhir kali kita punya kasus kayak gini? Kupikir perkumpulan Vampir udah jadi beradab dan nggak keluyuran mengubah orang.
"Kita mau ngapain dia?" tanya Orfeus.
"Mau apa lagi? Kita nggak bisa begitu aja ngirim dia pergi. Dia mau ke mana? Ke keluarga manusianya? Nggak. Mereka mungkin bakal bawa dia ke rumah sakit yang nggak ada gunanya buat dia," jawabku.
"Bawa dia ke salah satu kamar yang nggak kepakai, bersihin darahnya. Aku bakal ngecek dia besok," kataku. Orfeus dan Raul menggendong dia pergi. Katerin dan Ember ngikutin mereka.
"Nggak nyangka para perusuh bakal sampai sejauh ini," kata Luter.
"Iya. Mereka makin nggak terkendali. Lain kali, tahu-tahu seluruh kota isinya vampir," kata Viktoria.
"Kuharap Mitras lagi buru-buru nemuin pelakunya karena seseorang harus menghentikan ini sebelum terlalu jauh," kataku.
"Begitu informasi sampai ke dewan, aku yakin mereka bakal ngelakuin sesuatu tentang hal itu," kata Viktoria.
Cowok itu masih muda. Dia bakal kehilangan banyak hal dari kehidupan manusianya yang normal. Semua kesenangan, semua kenikmatan karena bisa bergerak bebas sekarang udah direnggut darinya, dan nggak ada yang bisa kita lakuin buat mengubah itu. Yang bisa kita lakuin cuma ngebantu dia terbiasa sama siapa dirinya sekarang dan menerima kenyataan bahwa dia sekarang vampir.
Mata ku tertuju pada Klara. Dia diam-diam berdiri di samping tangga dengan tangan terlipat di depan dadanya. Dia nggak mendekat ke tempat kita berada. Apa dia berusaha menjaga jarak dari kita?
Waktu dia sadar kalau aku lagi ngelihatin dia, dia ngasih aku senyum kecil terus ngelihat koridor tempat yang lain baru aja menghilang.
Sialan! Malam spesial kita baru aja hancur. Mungkin lebih baik kalau aku biarin dia balik aja ke rumahnya. Dia ada urusan besok dan aku egois banget nahan dia di sini.
Aku pamit dari semua orang dan nyamperin dia. Aku bisa ngerasain kalau semua kegembiraan dari beberapa menit lalu udah hilang, begitu juga dengan kegembiraanku. Aku berhenti di depannya dan memperhatikan wajahnya. Dia cuma natap mataku dan menggigit bibir bawahnya.
"Kamu pasti kecapekan. Mau aku anterin ke kasur?" tanyaku dan dia ngangguk.
"Cewek baik," kataku. Aku menggendong dia dari lantai dan membawanya ke kamar tidur.
Waktu aku menaruh dia di lantai, dia melepaskan diri dari genggamanku dan berdiri di depanku.
"Aku mau mandi," katanya.
"Oke, butuh bantuan apa-apa?" tanyaku padanya. Senyum genit terukir di wajahnya dan dia menggelengkan kepalanya.
"Yakin? Aku juga mau mandi. Boleh ikut?" kataku dan dia mengangguk.
"Bagus," kataku dan menggenggam tangannya. Aku mencium pipinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Boleh aku..." tanyaku, maksudnya mau ngebantu dia lepasin bajunya. Dia mengangguk setuju dan aku nggak buang waktu buat mulai ngelepasin blusnya. Begitu aku selesai ngelepasin BH-nya, aku nggak bisa menahan diri buat nggak nyium payudaranya yang indah dan montok. Semua nafsu yang kupikir udah hilang kembali lagi, mengisi ulang tubuhku.
Aku ngelepasin celana jeansnya perlahan dan celana dalamnya. Oh, pemandangan yang luar biasa di sini. Aku menggerakkan ciuman basah dari selangkangannya ke pahanya. Begitu aku selesai membuat dia benar-benar telanjang, aku berdiri dan ngelepasin celanaku.
Senyum lebar terukir di wajah Klara waktu dia ngelihat aku bener-bener telanjang di depannya.
"Lihat sesuatu yang kamu suka?" tanyaku dengan mengangkat alis. Dia mengangguk dan menggigit bibirnya. Aku menggendong dia dari lantai dan menaruhnya di pancuran. Aku nyalain air dan membiarkannya menyemprot kami.
Aku mengambil kain lap dan menyemprotkan sedikit gel mandi ke atasnya. Aku mulai membasuh bahunya sampai ke punggungnya. Dia cuma berdiri di sana dan membiarkanku membasuhnya.
Waktu aku selesai membersihkannya dengan menyeluruh, dia berbalik menatapku. Dia menempelkan bibirnya ke bibirku dan melilitkan tangannya di leherku. Aku nggak menghentikannya. Aku meraih pinggulnya dan menariknya lebih dekat ke arahku supaya dia bisa ngerasain seberapa kerasnya aku untuknya.
Dia mengerang di mulutku dan tangannya bergerak di rambutku. Lidah kami terjerat dan meluncur dalam irama mereka sendiri. Dia mengerang lagi dan aku meraba bokongnya, membelai punggungnya.
Ya Tuhan! Aku mau dia. Aku mau dia banget, aku nggak sabar lagi. Aku mau dia sekarang. Di sini! Aku mendorongnya ke dinding kamar mandi dan mengangkatnya dari lantai.
"Yakin nih?" tanyaku padanya. Suaraku bahkan terdengar serak di tenggorokanku.
"Iya," bisiknya di leherku.
"Lilitin kakimu di sekelilingku, sayang," kataku dan dia nggak ragu buat merespons. Aku menarik bibirnya ke ciuman lain. Tangannya bergerak di antara kita dan menggenggam kontolku yang mengeras di telapak tangannya. Aku mengerang di mulutnya dan menarik diri dari ciuman.
Aku memperhatikan dengan hati-hati waktu tangannya yang kecil bergerak naik turun di tubuhku. Wah! Bahkan nggak muat di telapak tangannya, dia harus pakai dua tangan.
Tangannya yang memijat kontolku mungkin sangat erotis, tapi aku mau mengklaim vagina nya. Aku meraih tangannya untuk menghentikannya dari bergerak lebih jauh karena klimaks ku udah mulai terbangun.
Aku mengangkatnya supaya aku bisa masuk ke dalam dirinya dengan mudah. Ya ampun! Dia basah banget! Begitu siap buat aku. Dalam satu dorongan cepat, aku sepenuhnya berada di dalam dirinya. Oh, iya! Ini perasaan yang selalu kuinginkan. Dia terasa enak banget. Aku merasa kayak mulai langsung mendorong tapi mungkin aku nggak bakal tahan lama. Aku tetap duduk di dalam dirinya untuk menikmati perasaan cewekku di sekelilingku.
Kukunya menancap di punggungku saat dia mengerang di telingaku. Aku memulai gerakan ku pelan dan terukur. Aku tahu ini menyiksa tubuhku yang sangat bergairah tapi aku mau ini bertahan lebih lama.
"Damien, tolong, aku mau yang keras. Aku mau lebih. Aku nggak bakal rusak," katanya. Oh, kamu nggak perlu minta dua kali, sayang. Kamu nggak perlu dua kali. Aku meningkatkan tempo dan mulai mendorong pendek dengan cepat. Suara tubuh berbenturan memenuhi kamar mandi dan napas terengah-engah kami ditambah erangan kami. Itulah suara seks.
"Ya! Ya! Ya!" gumamku saat tubuhku bersukacita. Aku menciumnya penuh di mulutnya dan kemudian di lehernya tempat aku menandainya. Aku menggigitnya di tempat yang sama, membuatnya datang keras di sekeliling kontolku dengan teriakan tertahan.
Aku bersiap dan memegang bokongnya supaya aku bisa mengenai tempat yang berbeda di dalam dirinya dengan setiap dorongan.
Aku udah dekat banget. Aku bisa ngerasain klimaks ku terbangun. Aku mulai memukul dengan cepat ke arahnya mencapai klimaks kedua nya.
"Datanglah untukku, sayang," perintahku padanya dan dia datang dengan mata tertutup, sambil memanggil namaku. Aku mengikutinya dalam pelepasan ku sendiri, datang di dalam dirinya. Aku keluar dari dirinya dan kami berdua merasa kehilangan kontak.
Aku memberinya ciuman terakhir dan menurunkannya perlahan ke kakinya.
"Yakin bisa berdiri?" tanyaku padanya dan dia menyeringai padaku. Aku nggak bisa menahan diri untuk nggak balik menyeringai. Kami berdua berantakan karena mani dan keringat. Seluruh kamar mandi berbau seks dan aroma favoritku, Klara.
"Kupikir aku harus membasuhmu lagi," kataku dan dia mengangguk. Aku memberinya ciuman ringan di bibirnya dan mulai membasuhnya lagi.