Lima Puluh Tujuh
DAMIEN
Gue menjauh dari ciuman dan natap mata cewek gue. Gak nyangka dia ada di sini bareng gue setelah sekian lama, kayak udah berabad-abad. Gue udah gak sabar banget mau nikmatin dia. Mau ngerasain kulitnya, bibirnya, semuanya. Rasanya kayak gue udah kelaparan selama ini dan gue cuma pengen melahap dia.
Gue pegang karet celana dalamnya dan pelan-pelan narik ke bawah, dari kakinya, terus keluar dari tubuhnya. Aroma gairahnya memenuhi udara, bikin hidung gue kembang kempis. Ya Tuhan! Dia wangi banget!
Gue nundukin kepala di antara kakinya dan sadar kalau dia basah! Sial! Junior gue makin keras sepuluh kali lipat ngelihat pemandangan yang luar biasa ini. Gue jilatin bibir saking gak sabarnya. Dada Klara naik turun pas dia ngeliatin gue, sama-sama gak sabar nunggu apa yang bakal gue lakuin selanjutnya.
"Sial! Kamu basah banget buat aku," gue menggerutu sambil ngusap-ngusap jari di selangkangannya yang basah. Sial. Gue bisa aja keluar di celana cuma karena ngelakuin ini. Gue harus nahan diri, atau gue bisa selesai sebelum mulai. Udah keras banget, celana gue mulai gak nyaman.
Gue masukin satu jari gue ke inti basahnya, terus yang kedua. Dia basah banget dan siap buat gue. Gue nundukin wajah tepat di depan 'anu'nya. Gue cium dan jilatin, bikin dia mendesah manis. Dia ngacak-ngacak rambut gue dan merem pas gue mau makan dia.
Pas kakinya mulai kaku dan dia mulai narik rambut gue, gue tahu dia udah mau klimaks. Gue cabut mulut gue, bikin dia merintih kecewa. Gue senyum ngeliat reaksinya. Gak sabaran banget, sama kayak gue, tapi gue harus keluar dari celana ini.
Gue rangkul dia dan gulingin kita biar dia ada di atas gue. Dia gigit bibir bawahnya buat nahan senyum malunya pas sadar apa yang mau gue lakuin.
Dia sibuk buka resleting celana panjang gue. Terus dia pegang karet celana dalam dan celana panjang gue, narik semuanya dari tubuh gue. Gue angkat diri dari kasur biar dia gampang ngelepasinnya.
Begitu junior gue muncul, gue menghela napas lega dan Klara ngejilatin bibirnya. Wih! Panasnya! Gue bisa ngerasain panas yang keluar dari tubuhnya, menyelimuti gue di dalamnya. 'Anu'nya yang basah cuma nempel di paha gue. Gue bisa ngerasain betapa basah dan panasnya dia di sana. Kayaknya gue mau meledak.
Klara genggam 'senjata' gue yang lagi tegang pake dua tangannya. Pasti gak muat di satu tangannya. Gue tahu dia tangannya kecil dan lingkar pinggang gue terlalu gede buat masuk di satu tangan, jadi dia harus pake dua.
Dia mulai ngusap-ngusap pake telapak tangannya, memijat dan meremas 'senjata' gue. Sial! Terus dia pelan-pelan nundukin kepala, menyesuaikan mulutnya di atas 'senjata' gue. Sial! Apa dia bakal ngelakuin apa yang gue pikir bakal dia lakuin? Dia nundukin mulutnya yang panas ke 'senjata' gue yang keras dan lidahnya berputar-putar di ujungnya.
Sial, iya! Rasanya enak banget! Dia miringin kepalanya terus ngejilatin semuanya. Sial! Ini terlalu erotis buat ditonton. Gue kayaknya mau keluar cuma karena ngeliat dia ngabisin gue pake mulutnya.
Gue ngencengin gigi pas dia mulai nurunin mulutnya ke 'senjata' gue, berusaha buat ngabisin gue. Sial! Gak muat semuanya. Gue bisa bikin dia keselek.
Gue angkat kepala dari kasur dan pegang rambutnya biar gue bisa nuntun iramanya. Dia melingkarkan tangannya di pangkal dan terus ngenyot ujungnya. Sial! Dia jago banget dalam hal ini.
Gue bisa ngerasain klimaks gue mendekat, tapi gue gak mau cabut dulu. Mulutnya panas dan basah banget. Rasanya enak banget! Matanya gak lepas dari gue selama ini. Dia keliatan polos tapi nakal banget!
Gue cabut dari mulutnya dan gulingin kita biar dia ada di bawah gue. Gue cium bibirnya terus dagunya. Gue pegang 'senjata' gue di tangan dan sejajarin sama 'anu'nya yang siap. Sial! Dia basah kuyup!
Gue usap ujungnya di selangkangannya, ngegodain dan ngerayu dia.
"Tolong," dia merintih.
"Bilang apa yang kamu mau, sayang," gue bilang ke dia.
"Tolong, Damien. Aku butuh kamu. Aku mau banget kamu!" jawabnya dan 'senjata' gue bersorak gembira.
"Karena kamu minta dengan baik," gue dorong masuk ke dia, dan seluruh 'senjata' gue langsung masuk. Kita berdua merintih karena perasaan yang membara. Oh, iya! Gue nikmatin waktu buat ngerasain dia di sekeliling gue. Gimana gue kangen banget sama ini.
"Ini tempat favoritku. Gue ada di dalem kamu. Rasanya enak banget. Rasanya kayak rumah," gue ngaku dan dia melingkarkan tangannya di leher gue, narik gue lebih deket biar dia bisa cium gue.
"Aku cinta banget sama kamu, Damien," dia bergumam sambil natap mata gue.
"Aku cinta banget sama kamu, Klara," gue bilang ke dia, dia kasih gue senyum yang berseri-seri.
"Tandai aku lagi, Damien. Tolong," dia mohon ke gue. Gue nundukin kepala ke lehernya dan isap di titik manis itu. Milikku! Gue merem dan nancepin taring gue ke kulitnya. Jari Klara nancep di punggung gue dan kakinya melingkar di pinggang gue. Gue isap darahnya terus cabut taring gue. Gue jilat dan cium titik itu sebelum narik keluar 'senjata' gue dan mendorongnya lagi ke dia.
Gue ngebut dan mulai dorong keluar masuk dia. Iya! Rasanya sempurna! Gue gak bakal pernah selama ini tanpa cewek gue! Gak pernah! Gue selalu butuh dia. Gue gak bakal biarin siapapun ngambil dia dari gue. Dia milik gue!
Gue angkat pantatnya dari kasur biar gue bisa dorong lebih dalem lagi. Tubuhnya mulai bergerak selaras sama gerakan gue yang gak beraturan. Gue rasain intinya ngenceng di sekeliling gue dan gue tahu dia udah mau klimaks.
"Keluarkan buat aku!" gue perintah dia dan dia mengeluarkan semuanya di 'senjata' gue. Gue terus dorong lebih cepet ke dia berulang-ulang, makin dalem dan dalem biar gue terus kena titik manisnya setiap kali gue bergerak.
Intinya mulai ngenceng lagi dan dia klimaks hebat. Kali ini, dia klimaks lebih hebat dan lebih lama dari yang pertama sambil mengerang nama gue. 'Senjata' gue mulai berdenyut di dalemnya dan 'telur' gue minta dikeluarkan. Gue keluar di dalem dia sambil menggerutu, karena gelombang kesenangan menguasai gue berulang-ulang.
Gue ambruk di atas dia dan gulingin kita biar dia ada di atas gue. Wih! Itu intens banget!
Saat napas kita kembali normal, gue usap-usap rambutnya dan cium dahinya. Gue lempar selimut ke kita.
"Kamu hebat banget malam ini, sayang. Aku suka energimu," gue bilang ke dia, dia cekikikan pelan. Gue merem dan senyum karena gimana keberuntungan gue malam ini. Banyak hal baik, dan gue bahkan mau jadi Bapak.
"Raul dan Luter bakal kaget pas tahu gue mau jadi bapak duluan dari mereka," gue bilang dan Klara angkat kepalanya dari dada gue buat natap gue.
"Beneran?" dia nanya gue dengan senyum geli di bibirnya.
"Mereka udah nemuin pasangan mereka sejak lama, tapi gue baru ketemu kamu gak lebih dari sebulan lalu. Anak kita bakal jadi anak pertama di rumah ini. Cuma ada orang dewasa di rumah ini," gue bilang ke dia
"Yah, mereka juga harus punya anak biar bayi kita punya temen seumuran buat main. Susah juga gede di rumah yang isinya cuma orang dewasa," katanya.
"Kamu gak usah khawatir soal itu. Kita bisa punya lagi setelah yang ini lahir," gue bilang, dan Klara tepuk lengan gue sambil main-main, bikin gue ketawa.
"Apa? Kamu gak mau itu?" gue nanya dia.
"Gak buruk sih. Aku mau kita punya lebih dari satu anak, tapi aku mau kasih jarak," dia bilang ke gue.
"Aku ngerti kamu udah mikir kayak Ibu yang baik," gue bilang ke dia terus cium bibirnya.
"Viktoria bilang ke aku dia berencana punya anak segera. Dia bilang mau ngomong sama Luter soal itu. Aku harap dia serius soal itu. Katerin dan Raul udah lama pengen punya anak," gue bilang.
"Bagus. Aku harap semuanya lancar," katanya terus ngasih gue senyum ngantuk.
"Kamu keliatan capek. Mau tidur?" gue nanya dia sambil ngelus wajahnya pake jari.
"Nggak, aku cuma pengen terus natap wajahmu," dia bergumam.
"Mmm.. Gitu ya? Aku pikir kamu harus istirahat. Wajah ini gak bakal kemana-mana," gue bilang ke dia, dan dia cekikikan. Oh, gimana gue kangen denger suara indah itu!
"Oke, tapi cuma karena kamu udah janji," dia jawab terus naruh kepalanya lagi di dada gue. Iya, emang seharusnya dia ada di sana, dalam pelukanku. Sekarang gue ngerasain kepuasan punya cewek gue di pelukan gue.
Di benak gue, gue tahu Fabian pasti udah tahu Klara ada di mana sekarang. Dia tahu dia ada di sini bareng gue. Liam pasti udah kasih tahu dia. Gue cuma pengen dia ada di belakang benak gue biar dia gak usah ganggu pikiran.
Gue cuma pengen nikmatin malam ini bareng cewek gue tanpa gangguan apa pun. Gue dekap dia erat dan benamkan hidung gue ke rambutnya biar gue bisa hirup aroma manisnya.
Napasnya jadi pelan dan santai. Kayaknya dia udah ketiduran. Gue merem berharap bisa tidur juga. Kayaknya gue bisa tidur nyenyak malam ini.