Tiga Puluh Tiga
Klara
Kepalaku berasa berat banget, kayak dipaku ke tanah. Aku coba angkat, tapi gak bisa gerak. Kelopak mataku berasa kayak dilem. Aku buka mata pelan-pelan dan langsung lihat langit-langit. Tunggu! Ini bukan langit-langit kamarku. Di mana aku?
Aku lihat sekeliling kamar, tapi yang kutemukan cuma meja dan kursi, selain kasur kecil yang kutiduri. Ini sama sekali gak kayak kamarku. Gak ada jendela atau hiasan apa pun. Cuma kamar yang polos, gelap, dan menyeramkan. Ini juga bukan kamar Damien. Aku ada di mana sih?
Aku coba duduk, tapi seluruh tubuhku berasa mati rasa dan berat. Aku coba ingat apa yang terjadi sebelum aku berakhir di sini. Aku ingat percakapanku dengan Pastor dan lalu lari-larian di hutan.
Lalu aku dengar langkah kaki. Langkah kaki itu pasti penyebab aku pingsan. Ya Tuhan! Aku penasaran sekarang jam berapa. Apa ada yang sadar aku hilang? Yah, kurasa tidak.
Damien sama aku pagi ini, jadi dia gak perlu ngecek aku. Pastor bahkan gak bakal tahu kalau aku hilang selama berhari-hari kecuali ada yang kasih tahu dia. Semua orang lain yang peduli juga jarang ngecek aku terus.
Oh, sial! Sekarang aku bakal terjebak di sini tanpa harapan diselamatkan dari siapa pun yang menculikku.
Siapa yang berani menculikku? Aku gak punya musuh. Aku juga gak kaya. Kenapa ada yang menculikku? Musuh Pastor, mungkin?
Aku harus keluar dari sini. Kalau aku mau menyelamatkan diri, setidaknya aku harus bisa bangun dan berdiri.
Aku paksa diri untuk duduk tegak lalu taruh kakiku yang telanjang di lantai. Tunggu dulu! Aku dalam wujud serigala waktu pingsan. Kok sekarang aku dalam wujud manusia dan pakai pakaianku?
Ini bikin aku makin ngeri. Kalau ini bukan semacam sihir, berarti ada orang yang mendandaniku. Siapa itu? Di mana dia nemu pakaianku? Siapa pun itu pasti ngikutin aku dari rumah.
Pikiran tentang ada orang yang lihat tubuh telanj*ngku selain Damien bikin aku merinding. Kuharap itu bukan laki-laki, karena Damien bisa ngamuk kalau dia tahu.
Aku dengar suara klik di pintu lalu pintunya berderit terbuka. Aku lega ada yang akhirnya datang untuk ngecek aku, dan sekaligus takut siapa yang menculikku.
"Itu dia," suara perempuan terdengar dari sisi lain pintu. Seorang pria dan wanita masuk kamar dan berdiri di depanku di samping kasur. Dua orang ini Vampir! Kenapa Vampir?
Yah, Pastorku mungkin punya banyak musuh Vampir. Mungkin ini bukan soal Pastor.
Pria itu memiringkan kepalanya ke satu sisi dan mempelajari wajahku. Dia menyeringai lalu melihat wanita itu.
"Dia Werewolf," wanita itu memberitahunya.
"Kenapa Werewolf?" dia bertanya pada wanita itu.
"Aku juga gak tahu, tapi dia orangnya," dia memberitahunya.
"Selera Damien emang membingungkan banget. Kenapa anak musuhnya?" dia bertanya sambil mengusap dagunya dengan berpikir. Jadi ini soal Damien? Kenapa?
"Apa kamu yakin dia orangnya?" pria itu bertanya pada wanita itu dan dia mengangguk mantap.
"Aku yakin banget. Kieran juga mengonfirmasi itu," jawabnya. Kieran... Kenapa nama itu berasa familiar banget?
"Oke, aku yakin Damien akan segera ke sini. Dia gak mungkin biarin perempuan yang dia cintai jauh darinya terlalu lama. Dia pasti akan datang untuknya," kata pria itu lalu berjalan keliling kasur.
Apa yang terjadi di sini? Kenapa mereka berdua ngomong kayak aku gak kelihatan? Apa hubungannya Damien dengan penculikanku?
"Kalian siapa? Kenapa kalian bawa aku ke sini? Apa yang kalian mau dari aku?" Akhirnya aku punya keberanian untuk menanyakan pertanyaan yang selama ini menggelegak di kepalaku.
Vampir berjenggot itu balik dan berdiri di depanku.
"Aku tahu kamu penasaran banget dan banyak pertanyaan di kepalamu sekarang," katanya.
"Kalau gitu jawab aku. Apa yang kalian mau dari aku?" aku bertanya.
"Kami gak mau apa-apa dari kamu selain kerja samamu. Kalau kamu keras kepala, aku gak akan ragu untuk memenggalmu saat itu juga. Kamu cewek cantik, tapi kamu gak akan kelihatan menarik tanpa kepalamu, setuju?" katanya lalu menampilkan seringai jahat.
"Apa yang kalian mau dari Damien? Apa yang pernah dia lakukan pada kalian?" Aku bertanya padanya. Mereka bilang mereka berharap Damien segera datang ke sini. Apa dia akan datang untuk menyelamatkanku? Apa mereka pakai aku sebagai umpan untuk menangkap Damien?
"Apa urusanku dengan Damien bukan urusanmu, tapi aku akan menyelamatkanmu dari rasa penasaran. Yang perlu kamu tahu adalah Damien berutang besar padaku dan dia harus membayar banyak. Dia cukup keras kepala tapi dia gak akan main-main dengan nyawa wanitanya. Aku tahu betul bagaimana dia berusaha menghancurkan rencanaku untuk membuat murid baru. Aku akan membuatnya membayar untuk itu juga," jawabnya.
Murid baru? Tunggu dulu? Apa ini ada hubungannya dengan Vampir yang baru berubah yang dibawa ke tempat Damien? Apa dia yang bertanggung jawab atas itu?
"Kenapa kamu keliling mengubah manusia tak berdosa dan menghancurkan hidup mereka?" Aku bertanya dengan marah dan jijik.
"Jadi kamu sudah dengar soal itu? Aku sudah diberitahu kalau empat dari mereka dibawa ke kediaman Damien. Aku mau mereka balik setelah aku menangkapnya dan mengakhiri rencana bodohnya untuk menghentikanku. Gak mungkin dia akan mengakhiri misiku," katanya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu menghancurkan hidup orang. Damien cuma peduli sama mereka. Itulah kenapa dia mau menghentikanmu untuk terus mengubah manusia," Aku memberitahunya dan dia tertawa meremehkan.
"Aku gak menghancurkan hidup mereka. Malah, aku membuat hidup mereka lebih baik. Siapa yang gak mau abadi?" katanya dengan senyum bangga.
"Mereka gak pernah minta," aku memberitahunya.
"Aku gak butuh izin mereka. Aku melakukan apa pun yang aku mau," katanya dan aku memutar bola mata dalam hati.
"Aku tahu Damien sangat peduli. Bahkan dia selalu terlalu peduli sama kesejahteraan orang lain, tahu gak sih. Kalau dia gak berhenti terlalu banyak berempati, dia akan membunuh dirinya sendiri karena gak mau mengurus urusannya sendiri," dia menjawab.
"Kalau dia cuma mengurus urusan keluarganya sendiri dan meninggalkan hal-hal lain yang bukan urusannya, dia gak akan suka ke mana hidupnya mengarah. Itulah kenapa Pastor kamu mungkin akan menjadi orang yang akan mengakhirinya ketika dia tahu bahwa itu semua salahnya aku menculikmu," jawabnya dengan seringai jahat yang puas diri.
"Gak mungkin Pastor akan tahu. Aku gak akan biarin itu terjadi," aku memberitahunya dan dia tertawa keras yang menyebalkan.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan kabur dan balik ke rumah? Apa kamu tahu di mana kamu sekarang? Kamu bahkan gak akan bisa melacak jalan pulangmu kalau kamu berhasil kabur dari sini," dia memberitahuku.
"Gak ada yang bisa kamu lakukan soal situasimu. Jadilah gadis baik-baik dan tunggu ksatria berbaju besimu datang dan menjemputmu. Ngomong-ngomong, kalau dia tertarik datang menjemputmu. Kalau dia menunda-nunda dan membuang waktuku, aku akan menelepon Fabian dan membuat kesepakatan yang lebih baik dengannya. Aku tahu dia akan sangat bersemangat untuk menghancurkan hidup Damien," katanya.
Dia gak mungkin serius, kan? Dia berencana melibatkan Pastor dalam hal ini. Kalau Pastor terlibat, dia akan tahu kebenarannya bahwa Damien adalah pasanganku. Aku gak mau itu terjadi. Itu akan terlalu cepat baginya untuk tahu. Dia gak akan pernah membiarkan Damien dan aku bersama.
"Ngomong-ngomong, aku harus pergi sekarang. Aku punya hal penting yang harus dilakukan selain di sini menemanimu," dia memberitahuku lalu membalikkan badannya.
"Berdoalah dengan keras agar Damien datang dengan cepat sebelum aku kehilangan kesabaran dan menelepon Fabian," katanya lalu keluar dari kamar. Wanita itu mengikuti di belakangnya dan mengunci pintu.
Apa yang baru saja terjadi? Aku telah diculik, oke, oleh beberapa Vampir yang mau pakai aku sebagai umpan untuk membawa Damien ke mereka. Ini situasi hidupku saat ini. Aku telah diancam akan dipenggal dan Pastor-ku akan menghancurkan hidup pasanganku!
Gak pernah dalam mimpi terliarku aku membayangkan ini! Yah, semua yang terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini gak pernah ada dalam mimpi terliarku. Semuanya di luar kendaliku sekarang.
Aku gak bisa cuma duduk di sini dan menunggu untuk diselamatkan. Bagaimana kalau Damien gak datang? Bagaimana kalau dia bahkan gak tahu aku hilang? Aku harus melakukan sesuatu.
Aku berdiri dan berjalan ke pintu. Aku yakin pintu itu terkunci. Gak mungkin mereka meninggalkannya terbuka, tapi siapa tahu. Aku coba putar gagang pintu berulang kali tapi pintunya beneran terkunci. Gak ada jendela, gak ada cara aku keluar dari sini.
Aku terjebak di sini tanpa jalan keluar. Aku merosot ke bawah pintu dan duduk di lantai. Aku tarik lututku ke dada dan melingkarkan tanganku di sekelilingnya. Aku membenamkan wajahku di antara lututku dan membiarkan air mata kesedihan mengalir bebas dari mataku.