Epilog
SATU TAHUN KEMUDIAN
DAMIEN
Klara sibuk banget siapin bayi Tristan buat pagi ini. Hari ini dingin di luar dan dia udah pakaikan Tristan baju bayi paling anget di lemarinya. Gue sih nggak komentar soal bajunya yang mungkin terlalu panas buat dia, tapi mau gimana lagi? Dia kan ibunya, jadi dia yang paling tahu apa yang terbaik buat Tristan.
Setelah selesai memakaikan baju, dia gendong Tristan ke gue dan naruh dia di tangan gue. Tristan tuh kadang-kadang gitu deh. Kadang dia semangat banget mau main sama papi, kadang dia kesel banget lihat gue dan nggak mau gue gendong. Kayaknya hari ini gue lagi hoki!
Tristan kasih gue senyum lebar yang imut banget pas gue gendong dia. Gue nggak bisa nahan senyum yang merekah di wajah gue pas sadar gue pas banget nemuin moodnya yang bagus.
Mami kelihatan capek banget. Tristan semalaman bikin dia susah. Gue juga nggak tidur semalaman dan semua orang di rumah juga, tapi dia nggak mau siapa pun megang dia selain mamanya. Sekarang dia malah mau gue gendong. Gue harus manfaatin kesempatan emas ini.
"Gue mau bawa Tristan ke bawah. Kamu istirahat aja," kata gue ke Klara yang lagi berdiri di depan gue dengan tangan bersidekap di pinggulnya. Kayaknya dia siap-siap mau rebut Tristan lagi kalau-kalau dia teriak ketakutan pas sadar dia di tangan gue.
"Oke," jawab Klara sambil ngangguk. Aduh, dia kelihatan capek banget. Kita emang jarang banget punya waktu berdua setelah Tristan lahir. Dia nggak tidur lama, sama kayak papinya, dan dia pengen aktif banget di siang hari, sama kayak mamanya. Kita udah berusaha keras buat menyesuaikan diri sama jadwalnya, tapi emang susah banget.
Satu hal yang gue tahu, dia suka sama kakeknya, Fabian. Dia nggak pernah uring-uringan kalau lagi sama kakeknya. Nggak tahu kenapa, tapi mereka berdua kayak sahabat.
Kalau kalian masih penasaran apa yang terjadi antara Fabian dan gue hari itu pas gue nemuin dia di rumahnya, gue juga masih nggak tahu persisnya apa yang terjadi sama dia. Dia udah banyak berubah sejak saat itu. Dia juga jarang banget muncul di rumah gue, sih. Kita emang bukan sahabat terbaik, tapi gue tetep bersyukur sama sejauh mana kita udah sampai sekarang.
Klara dan gue serius nginterogasi Liam soal kenapa dia ngomong sama Fabian sampai berubah pikiran, tapi dia cuma bilang kalau dia cuma bilang yang sebenarnya tentang situasinya. Pas semua kejadian antara Fabian dan gue waktu itu, itulah eranya. Mata ganti mata, saling bunuh, curi tanah, dan semua cara hidup yang nggak beradab itu. Sekarang semuanya udah berubah. Kita nggak bisa terus-terusan mikirin apa yang terjadi berabad-abad lalu. Kita harus move on.
Gue gendong bayi itu ke bawah dan nemuin Viktoria udah nggak sabar nungguin dia. Viktoria sekarang lagi hamil dan dia suka banget main sama Tristan. Setiap pasangan di rumah ini jadi serius setelah Klara dan gue tunangan dan punya anak.
Orfeus dan Ember lagi ngurusin semuanya. Dulu mereka sering berantem soal apa aja kayak kakak-adik, tapi sekarang mereka malah jatuh cinta. Pasangan yang aneh, tapi lo nggak bisa misahin ikatan kalau udah terjalin. Mereka masih nggak setuju soal beberapa hal sih, tapi sekarang mereka setuju soal banyak hal.
Akhir-akhir ini, Ember dan Klara ngobrol. Malah, gue juga ngobrol sama Ember. Gue kira dia benci sama gue pas Klara masuk ke hidup gue, tapi entah gimana, Orfeus berhasil balikin senyum di wajahnya.
Semuanya di sini berjalan lancar. Pembangunan rumah baru udah selesai, tapi nggak ada yang mau ninggalin rumah ini. Kita adalah satu keluarga besar dan kita emang harus bersama. Kita punya cukup ruang di sini, tapi gue rasa kita mungkin butuh ruang tambahan. Ada generasi baru yang mau datang ke sini, gue bisa lihat.
Baru seminggu yang lalu, Katerin dan Raul ngumumin kalau mereka hamil. Gue jadi mikir, jangan-jangan Klara ini pertanda yang bikin rumah ini subur...
Viktoria udah bawa Tristan ke kamarnya biar mereka berdua bisa gangguin Luter. Anehnya, Tristan kelihatan semangat banget mau ke sana! Gue rasa dia lagi dalam mood terbaiknya hari ini. Semoga aja bertahan.
Ngomongin mood yang bagus, cewek kecil gue bakalan bebas sebentar karena Viktoria udah bawa bayinya. Gue mau naik ke atas dan kasih dia waktu yang menyenangkan.
Gue naik tangga sambil nyengir lebar di wajah. Pas nyampe kamar, gue denger shower masih nyala. Semoga gue nggak telat. Gue buru-buru buka semua baju dan pelan-pelan masuk ke kamar mandi.
Shower-nya dipenuhi sama aroma manisnya. Gue samperin dia dan meluk dia dari belakang. Nggak ada gunanya ngendap-ngendap sama dia. Gue yakin dia udah tahu kalau gue mau datang. Dia berbalik di pelukan gue biar dia ngadep gue.
"Bayi kamu di mana?" tanya dia ke gue.
"Viktoria yang bawa," jawab gue dan dia menghela napas. Gue sentuh wajahnya dan elus pipinya. Dia mendekat ke gue mau lebih banyak sentuhan gue. Gue pakai tangan yang satunya buat ngelus punggungnya.
"Sayang, gue tahu kamu udah ngalamin banyak hal sejak Tristan lahir. Gue bener-bener bersyukur atas komitmen kamu sama gue dan Tristan dan keluarga gue. Kamu nggak tahu betapa beruntungnya gue," kata gue ke dia.
"Kamu manis banget," katanya sambil senyum malu-malu. Gue mendekat dan kasih dia ciuman yang dalam dan penuh gairah di bibirnya. Dia ngelempar tangannya ke leher gue dan narik gue lebih dekat. Gue pegang bokongnya dan remes, bikin dia desah manis. Suaranya menggema di seluruh tubuh gue bikin gue langsung tegang. Ya Tuhan! Gue pengen dia banget!
Gue bisa cium aroma gairahnya. Dia pengen gue. Gue kangen banget sama ini. Gue pengen banget bawa dia dari sini, tapi kita udah lama nggak ngelakuin seks di kamar mandi karena kehamilannya dan kita nggak mau ambil risiko.
Gue bener-bener pengen bercinta sama dia dan ngasih dia *fuck* yang beneran kali ini. Jadi gue angkat dia dari lantai dan dia melilitkan kakinya di pinggang gue. Bodo amat soal mandi! Kita urus nanti aja. Gue gendong dia ke kamar dan naruh dia di ranjang.
Dia punya senyum paling cerah di wajahnya sekarang. Ya ampun! Gue tegang banget buat dia. Gue nggak bisa nahan diri buat nggak nyium bibirnya lagi. Gue nggak pernah cukup sama bibirnya. Gue nggak pernah cukup sama dia.
Malam ini, gue cuma mau fokus sama kesenangannya. Gue mau bikin dia lupa sama dunia selain gue dan punya waktu yang menyenangkan. Gue selalu suka punya kesenangan istri gue di tangan gue. Gue bersyukur banget gue satu-satunya pria yang pernah memegang kesenangannya dan bikin dia mencapai puncak. Kadang nggak masalah jadi egois kalau soal pasangan lo.
Meskipun ada banyak banget hal yang datang ke arah kita, takdir ada di pihak kita. Kita berhasil melewati semua rintangan dan badai dan kita masih kuat buat menghadapi yang lainnya. Siapa sangka badai Fabian ternyata cuma gerimis hangat? Gue rasa semua terjadi buat memperkuat hubungan kita.
Saat ini, kita cuma pengen bikin diri kita bahagia dan orang-orang yang kita sayangi. Kita nggak bisa bilang kita udah menang melawan dunia, tapi kita nggak harus punya banyak hal buat merasa kita udah mencapai banyak hal. Yang penting cuma kepuasan diri dan kebahagiaan. Lo nggak butuh terlalu banyak.
Sekarang gue tahu arti hidup. Dunia gue berputar di sekitar Klara. Dia adalah kebahagiaan gue. Semua yang dia sentuh jadi hidup. Dia dewi gue! Dia mengubah hidup gue jadi lebih baik dan keluarga gue sayang banget sama dia. Apalagi yang mungkin gue inginkan dalam hidup? Nggak ada. Gue adalah suami dan ayah yang puas dan bahagia. Nggak ada yang bisa nambahin lagi dari itu.
___ AKHIR ___