Bab 12
"Saya bilang saya minta maaf. Kenapa kamu nggak bisa maafin saya? Saya kangen kamu, Emily." Katanya, frustasi di suaranya.
Kenapa dia pikir gampang banget buat maafin dia? Dia nggak bisa harap saya lupa apa yang dia lakuin. Buat percaya dia lagi. Nggak. Dia mungkin udah ambil harga diri saya dengan manfaatin saya dan ajak saya jalan-jalan senang-senang, tapi dia nggak akan ambil harga diri saya.
"Logan, saya nggak akan maafin kamu. Kamu udah buat pilihan kamu dan sekarang saya udah buat pilihan saya," saya bilang.
"Dan pilihan itu Tyler?" Dia bilang, suaranya jadi keras. "Dia bakal ninggalin kamu pada akhirnya karena kamu nggak kasih buat saya, jadi kenapa kamu harus lakuin buat dia?"
Sebelum saya bisa ngomong apa-apa, seseorang berdiri di samping saya dan meluk pinggang saya. "Ada apa nih, Babe?"
Logan mengalihkan pandangannya ke Tyler, yang udah ngomong dan kemudian pandangannya jatuh ke tangannya yang meluk pinggang saya. Matanya jadi gelap karena marah. Dia lihat Tyler dan mau ngomong sesuatu, tapi memutuskan nggak jadi, dia malah bilang. "Nggak ada apa-apa. Sama sekali nggak ada apa-apa." Dia lihat saya dan bilang. "Kamu bikin kesalahan besar, Emily. Saya akan balikin kamu." Terus dia pergi tanpa ngomong apa-apa lagi.
Waktu dia udah pergi, Tyler noleh ke saya. "Mantan pacar kamu tuh brengsek. Apa sih yang kamu lihat dari dia?"
Saya geleng-geleng kepala. "Percaya deh, dia nggak selalu kayak gitu."
"Iya deh," Dia bilang, sebelum nambahin. "Ya udah, kamu yang paling kenal dia."
Saya mau komen, pas saya lihat Tori di bahu dia. "Tunggu bentar, saya balik lagi." Saya jalan ke Tori, yang lagi jalan ke arah saya. "Hei Tori, kamu mau pulang?"
Dia geleng-geleng kepala. "Nggak. Saya mau ke mall buat beli kostum Halloween saya," Dia jawab.
"Keren. Saya bisa ikut kalau kamu mau," saya nawarin.
"Kamu bercanda? Biar kamu bisa lihat kostum saya? Nggak deh," Dia naikin alis, matanya bersinar karena semangat. "Saya mau kostum kita jadi kejutan satu sama lain."
Saya ketawa. "Itu ide bagus. Dah ya."
"Dah." Saya balik badan dan jalan balik ke loker saya, tapi Tyler nggak ada di sana. Kemana dia pergi?
Mendesah, saya mulai keluar dari gedung sekolah buat nyari Tyler. Waktu saya sampai di parkiran, saya nyari mobilnya. Mobilnya ada di sana, jadi setidaknya dia nggak sebodoh itu buat ninggalin saya. Saya harap saya bisa langsung pulang, tapi banyak murid yang lagi nongkrong di sekitar sekolah dan mereka pasti bakal mikir aneh kalau saya keluar sekolah jalan kaki, kalau Tyler masih di sini. Mutusin buat ngecek tempat yang kemungkinan besar dia ada di sana, saya jalan ke arah belakang sekolah.
Waktu saya belok dan udah di belakang sekolah, saya lihat saya bener. Tyler ada di belakang sekolah sama Seth dan tentu aja, mereka lagi ngerokok.
Saya jalan ke arah mereka. Waktu saya sampai di sana, saya kipas-kipas asap rokok yang keluar dari rokok mereka.
"Kalian gila?" Saya tanya, masih kipas-kipas tangan saya dan batuk sedikit. "Kalian tuh beneran minta kena kanker. Nggak tau ya kalau ngerokok tuh nggak baik buat kalian?"
"Iya, tapi juga bikin enak," Seth jawab, ngeluarin asap sambil ngomong gitu.
Saya muter mata. Nggak bertanggung jawab banget. "Kalian berdua tuh moron nggak punya otak."
"Kamu mau tau apa lagi yang bikin saya enak?" Tyler motong, ngedipin mata ke saya.
"Um...nggak. Saya nggak mau denger tentang petualangan menjijikkan kamu," Saya bilang, ngernyitkan muka karena jijik dan Tyler ketawa. "Sekarang, matiin rokoknya dan ayo pergi."
Tyler pura-pura nunduk. "Siap, m'lady."
Nahan keinginan buat muter mata untuk kedua kalinya, saya balik badan dari mereka dan pergi. Kenapa saya harus kejebak sama cowok-cowok ini?
Satu hal yang saya suka dari hari Jumat adalah hari di mana murid-murid bakal keluar sekolah daripada cuma nongkrong. Mereka bakal pergi belanja, ke Starbucks atau cuma pergi ke suatu tempat buat nongkrong dan ngerayain kenyataan kalau itu akhir pekan.
Kenyataan itu jadi jelas banget begitu saya masuk ke perpustakaan sekolah. Cuma ada sedikit murid di sini. Biasanya, tempat ini penuh sama murid yang ngerjain PR, tapi mereka tau kalau mereka punya seminggu buat PR, jadi nggak banyak murid yang bertahan. Murid yang ada di sini entah lagi baca buku atau beberapa kutu buku, lagi belajar. Saya, di sisi lain, datang ke sini buat buang waktu.
Hari ini adalah hari di mana Sarah dan saya mau belanja. Saya udah nggak sabar buat ngabisin waktu sama dia dan liat dia orangnya kayak gimana. Saya sebenernya ngerasa nggak enak karena butuh setahun buat kita ngelakuin hal kayak gini.
Sarah bilang kalau dia bakal jemput saya dari sekolah jam 3:30. Saya punya waktu satu jam, jadi saya mutusin buat ke perpustakaan buat nunggu. Saya jalan ke bagian buku bacaan dan ambil buku buat dibaca. Buku yang saya pilih adalah Eleanor and Park karya Rainbow Rowell. Ini salah satu buku favorit saya, jadi saya tau ini bakal bantu saya buang waktu. Saya duduk di meja sendirian dan mulai baca.
Beberapa menit kemudian, saya udah asyik banget sama buku sampai saya nggak sadar ada seseorang berdiri di depan saya. Orang itu ada di sana beberapa menit, sampai saya denger nama saya dengan keras. "Emily!"
Saya kelepas dari buku dan langsung noleh. Mata saya membesar karena kaget waktu saya lihat Tyler berdiri di depan saya dengan ekspresi yang geli di mukanya. "Wah, kamu beneran ke-block banget kalau lagi baca. Saya udah berdehem dan manggil nama kamu selama dua menit terakhir."