Bab 30
Tori sampai di lokernya dan Saya melepaskan tangan Saya biar dia bisa ambil buku-bukunya. "Aku tahu, tapi kalian kayak pasangan beneran." Dia sedikit menoleh ke Saya dan nyengir. "Ini malah imut."
"Itu bagus. Artinya kita jago akting," kata Saya. "Lagipula, ini gak imut. Lo tahu kan Tyler. Satu-satunya yang dia peduliin itu, gimana caranya masuk ke celana cewek."
"Oke," kata Tori, sebelum menutup lokernya. "Ya udah, gue harus ke kelas. Sampai jumpa pas makan siang."
"Oke," jawab Saya, terus Saya dan Tori belok arah buat ke kelas masing-masing.
Pas Saya sampai di kelas Bahasa Inggris, Saya lihat Tyler udah di sana, duduk di belakang kelas. Dia lagi ngobrol sama beberapa cowok lain yang juga di belakang. Pas Saya masuk, dia ngelihat ke atas dan manggil Saya buat ke sana.
Saya menghela napas sambil jalan ke belakang kelas. Saya duduk di samping dia dan berbalik menghadap dia. "Lo emang harus duduk di sini, ya?"
Tyler tertawa. "Ini giliran gue yang milih tempat duduk. Ingat waktu gue harus menderita di depan?"
"Iya deh, terserah. Gue bakal keganggu duduk di sini," kata Saya. "Gue gak biasa duduk di belakang."
"Ayo dong. Gak gitu juga kali. Lo gak bakal keganggu," rayu Tyler.
Saya menatapnya lama banget sebelum akhirnya nyerah. "Lo menang kali ini, Tyler."
Tyler nyengir. "Ya iyalah," katanya pas guru masuk.
"Sst, diem," bisik Saya, sambil berbalik buat siap-siap buku buat pelajaran.
Satu jam kemudian, pelajaran selesai dengan Nyonya Lodge, guru Bahasa Inggris kami, ngasih tugas PR buat dikumpulin besok. Setelah bilang ke Tyler kalau nanti Saya bakal ke rumahnya buat ngerjain, Saya ngumpulin buku-buku Saya dan keluar kelas.
++++++
Sekitar jam 6, Saya selesai ngerjain semua yang harus Saya lakukan, dan sekarang Saya mau ke rumah Tyler buat ngerjain tugas. Tapi, sebelum Saya keluar rumah, Saya mutusin buat nelpon Tori.
Dia jawab di dering kedua. "Hai Em!" serunya.
"Hai Victoria. Gimana kabarnya?" tanya Saya.
"Lebih baik dari yang gue duga. Awalnya mereka kaget dan diem, butuh waktu buat mereka nyadar, tapi akhirnya, mereka meluk gue dan bilang mereka gak masalah."
Saya senyum denger kabar bagus itu. "Wah, bagus banget, Tori! Gue tahu mereka gak bakal ngecewain lo."
"Iya, Ibu bahkan bilang dia udah feeling," kata Tori.
"Kok bisa?" tanya Saya.
"Dia bilang dia perhatiin hal-hal kecil yang udah gue bilang dan lakuin sejak gue kecil," jawab Tori. "Kita ngobrol panjang lebar setelahnya. Mereka bilang mereka bakal tetep sayang gue apa pun yang terjadi."
"Seneng dengernya," jawab Saya, beneran seneng buat dia.
"Makasih. Gue khawatir gak jelas," Tori tertawa kecil.
Saya juga ketawa. "Iya. Ya udah deh, nanti kita ngobrol lagi. Gue mau ke rumah Tyler sekarang."
"Ngedeketin dia terus nih," Saya bisa bayangin seringai nakal di wajah Tori pas dia ngomong gitu.
Saya memutar mata meski dia gak bisa lihat Saya. "Kita ada tugas bareng, Victoria."
Dia ketawa keras. "Gue cuma ngejek lo doang. Have fun."
"Dah," kata Saya sambil matiin telepon dan masukin ke saku.
Saya keluar kamar dan berhenti di tangga. "Sarah!" Saya manggil Sarah, yang ada di kamarnya. Ayah lembur malam ini dan belum pulang. "Gue mau ke rumah Tyler buat ngerjain tugas. Gue balik lagi nanti."
"Oke Emily," Saya denger dia nyaut pas Saya turun dan keluar pintu.
Setelah mencet bel rumah Tyler untuk ketiga kalinya, Saya berbalik mau pulang pas Saya lihat mobil Tyler belok ke halaman. Saya berdiri sambil ngelihat dia parkir mobil dan dia sama Seth keluar.
Saya melipat tangan pas dia jalan ke arah Saya. "Lo lupa kita ada tugas?" tanya Saya. "Kayaknya lo juga sibuk jalan-jalan malam."
Tyler terkekeh. "Gue gak lupa. Makanya gue di sini, biar kita bisa selesai ngerjain tugas ini." Dia ngedipin mata ke Saya. "Dan kayaknya gue dateng tepat waktu juga."
Seth jalan ke arah kami sambil pasang muka nakal ke arah Saya. "Hai Emily. Mau ketemu Tyler ya? Santai aja, gue gak bakal ganggu kencan lo. Gue cuma mau nginep di sini." Dia naikin alisnya dengan menggoda. "Lo bebas mau ngapain aja, pura-pura aja gue gak ada."
Saya mendorongnya. "Gak usah gitu deh. Gue cuma mau ngerjain tugas sama Tyler."
Seth tertawa kecil dan berdecak. "Gak usah pakai alesan tugas."
"Diem deh. Kenapa sih lo ngeselin banget?" tanya Saya.
Seth mengangkat bahu. "Gue gak tahu. Jadi Seth biasa aja gak seru." Dia nyengir
"Terserah. Gue gak ada waktu buat lo. Ayo Tyler, kita mulai tugasnya."
++++++
Tugasnya gak susah, jadi dalam waktu tiga puluh menit, Tyler dan Saya selesai. Saya bangun dari lantai dan meregangkan badan Saya yang pegel. "Oke, gue pulang sekarang. Kalian bebas mau ngapain aja. Ngerjain hal ilegal, mungkin."
Seth, yang lagi duduk di sofa sambil main hp selama Tyler dan Saya ngerjain tugas, ngelihat ke arah Saya. "Mau buru-buru amat? Nonton film dulu deh sebelum pulang," kata Seth sambil ngambil DVD dari meja.
"Iya," tambah Tyler. "Seth beli film horor ini pas kita mau ke sini dan gue tahu lo suka banget film horor."
Saya langsung semangat. "Film apa?"
"Judulnya 'The Ring'," jawab Seth.