Bab 52
"Kedengarannya seru," jawab Saya.
Tori dan Stephanie resmi pacaran setelah empat bulan mereka denial. Butuh waktu lama banget buat mereka akhirnya mengakui perasaan mereka. Akhirnya mereka berhenti pura-pura 'cuma teman'. Lagipula, menurut Saya sih, ini juga karena Stephanie belum ngaku ke keluarga kalau dia lesbi, dan dia lagi berusaha keras buat ngomongin itu. Satu-satunya orang di keluarganya yang tahu waktu itu adalah kakak laki-lakinya.
Nah hari ini, Sabtu, mereka mau kencan pertama. Tori minta Saya datang ke rumahnya buat bantuin milih baju yang bagus. Tori nggak mau ngaku, tapi dia deg-degan banget mau kencan ini. Ini pertama kalinya dia kencan seumur hidupnya.
Pas Tori selesai dandan di depan cermin, dia berdiri dan menghadap Saya. "Jadi, gimana penampilan Saya?"
"Kamu kelihatan keren," kata Saya.
"Serius?" tanyanya.
"Tori, Stephanie beneran suka sama kamu. Saya bisa lihat itu. Jadi, santai aja dan jadilah diri kamu yang keren, luar biasa, dan percaya diri," Saya meyakinkannya sambil tersenyum. Jujur, aneh lihat Tori nggak yakin sama apa pun. Ini sisi baru dari dirinya. "Lagian, Saya jamin Stephanie juga lagi ngelakuin hal yang sama di rumah," tambah Saya, padahal Stephanie itu tipe yang percaya diri.
Tori tersenyum. "Kamu benar. Saya nggak perlu deg-degan," katanya. "Ngomong-ngomong soal kencan, kamu dan Tyler ada acara nggak hari ini?"
"Nggak gitu sih. Cuma mau makan es krim," jawab Saya.
Tori tersenyum. "Pasti itu ide kamu," tebaknya, dia hafal banget sama Saya.
Saya ngangguk, lalu tertawa. Terus Saya ambil handphone yang ada di samping Saya dan ngecek waktu. Jam 1:40 siang. Saya langsung duduk di kasur. "Aduh, sial, Saya telat," kata Saya.
Tori melihat ke arah Saya. "Jam berapa kalian janjian makan es krim?" tanyanya.
"Jam dua siang," jawab Saya sambil bangun dari kasurnya Tori. "Saya harus pergi. Kabarin gimana kencanmu ya?"
"Oke, daah," kata Tori pas Saya keluar dari kamarnya.
++++++
Pas Saya sampai rumah, Saya langsung mandi kilat dan ganti baju. Pas udah siap, jam 2:15 siang. Saya ambil handphone dan turun ke bawah. Pas lagi turun tangga, Saya lihat Tyler lagi duduk di sofa nungguin Saya.
Saya senyum dan jalan ke arahnya. "Hai, udah lama di sini?"
Tyler ngelihat ke atas pas Saya ngomong gitu. "Hai. Baru aja sampai. Ibu kamu yang bukain pintu," jawabnya. Terus dia berdiri dan nyamperin Saya. "Udah siap berangkat?"
Saya ngangguk. "Iya," jawab Saya. "Sarah!" Saya panggil Sarah yang ada di dapur. "Saya pergi sekarang ya?"
Sarah muncul di pintu dapur. "Oke sayang. Hati-hati ya." Terus dia ngomong ke Tyler. "Ibumu bilang mau ke sini. Jadi datang nggak?"
Tyler ngangguk. "Iya, pas Saya pergi dia lagi siap-siap mau ke sini."
"Bagus deh. Saya lagi bikin casserole. Semoga dia suka," katanya.
"Suka kok," Tyler meyakinkan. Sarah senyum pas denger itu. Sarah sekarang hamil enam bulan dan kelihatan banget. Kayaknya tiap hari perutnya makin gede aja. Saya beneran nggak sabar nunggu bayinya lahir. "Udah tahu jenis kelaminnya?" Tyler nanya ke Sarah.
"Udah," jawabnya. "Saya hamil anak laki-laki."
"Mantap," kata Tyler.
"Iya," kata Sarah sambil ngusap perutnya yang buncit. "Walaupun ini kelahiran pertama Saya, rasanya kayak mau punya anak kedua. Anak perempuan dan sekarang anak laki-laki," tambahnya sambil senyum ke arah Saya.
Saya senyum balik ke dia. Saya tahu Saya kayak anak buat dia, dan dia beneran satu-satunya ibu yang Saya kenal.
"Ya udah, kalian pergi duluan aja. Jangan mikirin Saya. Rachel bentar lagi juga datang kok," kata Sarah.
"Oke daah," kata Saya dan Tyler ngelambai ke dia sebelum kita pergi ke toko es krim.
++++++
Setelah Tyler dan Saya keluar dari toko es krim, kita mutusin buat pergi ke taman. Kita lagi jalan gandengan tangan, pas tiba-tiba Tyler bilang. "Tebak deh?"
"Apa?" jawab Saya.
"Ibu sama Saya mau ke Sandusky pas libur musim semi," katanya.
Saya ngelihat ke dia dengan mata terbelalak. "Wah, keren banget," seru Saya. Saya belum pernah ke Sandusky, tapi Saya denger di sana ada tempat-tempat yang bagus banget.
"Saya pengennya kamu ikut juga," kata Tyler.
Saya berhenti jalan dan balik badan buat ngadepin dia sepenuhnya. "Serius?" tanya Saya dengan semangat.
Tyler senyum ngelihat semangat Saya yang jelas banget dan ngangguk. "Iya."
"Tentu aja Saya mau ikut!" seru Saya sambil meluk dia. "Makasih banyak."
Dia tertawa kecil dan meluk Saya balik. "Sama-sama. Saya senang kamu senang, dan Saya nggak sabar kamu ikut."
Saya lepas pelukannya dan ngelihat mata dia sambil senyum. Kita udah pacaran empat bulan, dan perasaan Saya ke dia makin besar setiap hari. Perasaan Saya nggak bisa dibantah.
"Kamu yang terbaik, Tyler. Saya cinta banget sama kamu," kata Saya.
Tyler nggak hilang senyumnya. "Saya juga cinta kamu," katanya sambil ngelihat balik ke Saya.
Nggak pernah kepikiran dalam sejuta tahun, Saya dan Tyler bakal bisa kayak gini. Nggak, nggak sama sekali. Kalau ada yang bilang ke Saya kayak gini beberapa bulan lalu, Saya bakal ketawa dan bilang mereka gila. Mungkin Saya bakal nyari rumah sakit jiwa buat mereka. Tapi, kita barengan dan Saya bahagia banget dan Saya nggak nyesel sama sekali.
"Babe, lagi mikirin apa?" Tyler nanya, ngebatalin lamunan Saya.
"Saya lagi mikir, kita nggak bakal bisa kayak gini, kalau Saya nggak nyium kamu hari itu," kata Saya.
Dia ketawa. "Iya, jadi bagus deh kita ketemu waktu itu," kata Tyler sambil senyum.
"Maksudnya, bagus deh kamu nguntit Saya," Saya memperjelas sambil ngecengin.
"Saya nggak nguntit kamu," dia membela diri.
"Iya sih, tapi tenang aja, kamu udah Saya maafin," jawab Saya.
Tyler geleng-geleng kepala. "Harus gimana lagi sih Saya sama kamu?"
Saya pura-pura mikir. "Hmm... nggak tahu."
Narik Saya makin deket, Tyler meluk pinggang Saya. "Saya punya ide nih."
"Kayaknya Saya bakal suka ide ini deh," kata Saya sambil mendekat ke dia.
Nutup jarak antara kita, Tyler mendekatkan bibirnya ke bibir Saya dan nyium Saya, dan seperti biasa dia bikin Saya nggak bisa napas.
Cowok ini berarti segalanya buat Saya, dan setidaknya sekarang Saya tahu, kalau sama kita, ini bukan cuma sekadar ciuman. Nggak pernah cuma gitu.
Ciuman kita berarti jauh lebih banyak.