Bab 18
"Kamu harus cium Aku dulu," jawabnya.
"Ogah banget deh," Saya menggelengkan kepala.
"Kalo gitu, kamu gak bakal dapet hapemu," Aku lihat hapenya ada di jangkauan, jadi aku meraihnya lagi, tapi Tyler menggerakkan tangannya menjauh sebelum aku bisa mengambilnya.
Aku mengeluh. "Ayo dong, Tyler. Jangan main-main."
Dia menepuk pipinya. "Cium pipi aja. Itu aja permintaanku."
Aku menatapnya cukup lama, menimbang-nimbang pilihanku. Cuma cium pipi kan? Kayaknya aku bisa deh. Akhirnya, menghela napas berat, aku berkata. "Oke deh."
Aku mendekatinya dan mencium pipinya. Tiba-tiba, Tyler menggerakkan hapeku di depan kami, saat aku mencium pipinya. Begitu aku melihat hapenya untuk melihat apa yang dia lakukan, dia memindahkan hapenya dari jangkauanku lagi dan mulai mengetik sesuatu di hapeku.
"Kamu ngapain?" tanyaku.
"Aku foto kita di Snapchat kamu," katanya tanpa menatapku.
Mataku membelalak. "Kenapa kamu ngelakuin itu?" tanyaku kaget. Tyler mengabaikanku saat dia terus mengetik di hapenya. Ketika dia selesai mengetik, aku melihat bahwa dia akan menyimpan foto itu dan aku meraih hapeku lagi. "Tyler, hapus sekarang!"
Tyler melihat ke arahku dan tersenyum nakal. "Kenapa harus? Coba lihat, mantan pacarmu bakal lihat foto ini."
Tanganku yang sedang meraih hapenya terhenti saat aku memikirkan apa yang dia katakan. Itu masuk akal banget! Aku merasa bodoh karena gak mikirin itu. Kalo Logan lihat foto aku dan Tyler lagi mesra-mesraan, dia pasti marah. Aku gak bisa menahan senyum puas. Mungkin setelah ini dia bakal lihat kalo Tyler dan Aku serius dan akhirnya ninggalin Aku sendiri.
Aku melihat kembali ke Tyler dan menyeringai. "Pikiran yang bagus. Setidaknya di kepala berawanmu itu, ada otaknya juga."
"Ya, aku emang suka mikir ide-ide bagus kok," kata Tyler dengan sombong.
Aku memutar mata. Kenapa aku harus mengangkat egonya lebih dari yang sudah ada? "Terserah deh, yang penting kamu bisa tidur nyenyak."
Tyler menatapku dan menyeringai. "Aku bakal tidur lebih nyenyak kalo kamu ada di ranjangku."
Aku menyipitkan mata padanya. "Kamu menjijikkan dan juga mesum!" kataku, mendorongnya sedikit menjauh. "Sekarang, kasihin hapenya." Aku mengambil hapeku darinya dan kemudian menjauh darinya sepenuhnya. Dia gak keberatan, dia cuma menertawakan reaksiku yang mengerikan. Itu sangat mengganggu karena kenyataannya aku emang ada di ranjangnya, cukup dekat untuk intim.
Setelah aku akhirnya mencapai sudut ranjang yang aman, di mana aku pernah berada, aku melihat hapeku. Aku melihat bahwa Tyler emang udah nyimpen foto kita di Snapchat. Di foto itu, Tyler nyengir ke layar hapenya, sementara aku mencium pipinya. Ada caption yang berbunyi 'kencan sama kesayangan' diiringi beberapa emoji ciuman. Aku melihat viewers-nya untuk melihat bahwa foto itu udah menerima 200 views dalam waktu lima menit. Aku juga menerima 58 pesan pribadi.
Aku cek viewers-nya untuk melihat bahwa Logan adalah salah satunya. Aku merasa senyum puas tertarik di bibirku. Di foto itu kita emang keliatan seperti pasangan yang saling mencintai dan aku bisa membayangkan kemarahan dan kecemburuan yang dia rasakan sekarang. Pantes dia.
Siapa sangka balas dendam bisa terasa seenak ini?
"Lagu apaan sih yang kamu dengerin?" tanyaku pagi berikutnya di kursi penumpang mobil Tyler. Aku memperhatikan dia saat dia menggoyangkan kepalanya mengikuti lagu rap, sambil konsentrasi di jalan. Aku gak ngerti. Apa yang begitu luar biasa dari lagu ini? Aku bahkan gak bisa dengerin apa yang dinyanyikan penyanyinya.
Wah, seleranya aneh banget!
Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, dia menjawab. "Kamu gak tau apa yang kamu omongin. Ini lagu bagus."
"Yah, telingaku berdarah nih." Aku gak tahan lagi, aku bersandar ke radio dan memutar kenopnya, berharap menemukan stasiun radio dengan lagu yang lumayan. Tiba-tiba, 'Live While We're Young' dari One Direction meledak dari radio. "Nah, ini baru enak," kataku, menyandarkan kepalaku di sandaran kepala di belakangku.
"Serius? One Direction?" tanyanya, mengangkat alisnya ke arahku sebentar, sebelum melihat kembali ke jalan.
Aku berbalik untuk menatapnya. "Iya. Mereka keren banget. Kamu gak punya selera yang bagus." Dia menggelengkan kepala, jadi aku menambahkan, dengan memaksa. "Mereka jauh lebih bagus dari omong kosong yang kamu dengerin tadi!"
Dia tertawa. "Uh huh." Aku menjulurkan lidahku ke arahnya. Dia tertawa lagi dan menambahkan. "Beneran dewasa."
Aku mengabaikan komentarnya dan mulai menyanyikan lirik lagunya. Anehnya, dia gak ganti lagi stasiunnya dan kami melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan hening yang nyaman. Aku tersenyum puas saat menyanyikan lirik lagu itu sepanjang jalan ke sekolah.
++++++
Beberapa menit kemudian, kami masuk ke tempat parkir sekolah. Begitu aku turun dari mobil, aku melihat mobil Seth masuk ke tempat parkir di samping mobil Tyler. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan ke tempat kami berdiri; alisnya terangkat karena terkejut.
"Kamu baru aja dengerin One Direction?" tanyanya pada Tyler saat dia menyapa, melakukan tos ala cowok. "Aku kira kamu gak suka mereka?"
Sebelum Tyler bisa menjawab, aku angkat bicara. "Aku ganti stasiun karena dia gak punya selera musik."
Seth berbalik menghadapku, alisnya terangkat karena terkejut. Lalu dia melihat kembali ke Tyler. "Kamu ngebolehin dia nyentuh radionya?" Suaranya penuh dengan keterkejutan. "Kamu gak pernah ngebolehin siapa pun nyentuh radionya."