Bab 21
"Ada apa nih?"
Aku langsung menjauh dari Owen begitu aku dengar suara itu.
Entah bagaimana, aku lupa kalau Owen itu ternyata punya pacar. Aku membiarkan diriku dicium sama orang yang udah punya hubungan, dan bukan sembarang orang, tapi Owen. Aku merasa bodoh saat itu. Lebih dari yang ingin kuakui, dan ide untuk menyelam ke air sepertinya menggoda. Tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya dan mencoba memperbaiki kesalahanku, kalau memang ada caranya.
"Pertama di sekolah di depan semua orang, dan sekarang di kolam renangmu yang sialan!" Dia berteriak dan aku hampir bisa membayangkan salah satu pembuluh darah di lehernya meledak. "Dia ngapain sih di sini!"
Rasa bersalah nggak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku sebenarnya. Mereka mungkin lagi berantem, dan Owen cuma mau bikin dia cemburu dengan nyium aku? Tapi nggak ada siapa-siapa di rumah pas dia nyium aku. Atau, dia tahu kalau dia bakal mampir?
Aku merasa bodoh, malu, dan semua kata-kata lainnya. Aku baru aja membiarkan dia nyium aku. Nggak sekali. Tapi dua kali, dan aku bohong kalau bilang aku nggak menikmatinya.
"Kamu ngapain di sini, Marlene?" Owen nanya dia dengan tatapan yang hampir frustasi. "Kalau aku ingat dengan jelas, kita nggak pernah pacaran jadi aku nggak punya kewajiban buat jelasin apa pun." Dia ngomongnya hampir kayak bosan.
"Kamu bakal nyesel Owen! Dan kamu, kamu. Kamu pikir dia beneran bakal sama orang rendahan kayak kamu?" Dia ketawa, tapi sama sekali nggak lucu. "Dia cuma manfaatin kamu!" Dia berseru dan pergi.
Aku dengar pintu depan ditutup, nggak pelan-pelan, nunjukin kalau dia marah dan pergi.
Aku berenang ke tepi kolam dan keluar. Aku merasa mata Owen ngeliatin aku, tapi berusaha nggak peduli. Aku jalan ke kursi tempat aku naruh barang-barangku dan ambil handukku terus melilitkannya di tubuhku.
"Lyra." Aku dengar Owen manggil dari kolam, tapi aku tetap ngambil baju dan menjauh darinya.
Bukannya aku marah sama dia. Aku marah sama diri sendiri, dan aku nggak tahu harus gimana, tapi ada di dekat dia jelas nggak ngebantu.
**********
Aku memutuskan buat mandi setelah apa yang terjadi, berharap itu bisa bikin pikiran jernih.
Nggak juga sih. Nggak beneran, tapi setidaknya aku merasa segar.
Aku keluar dari kamar mandi, cuma buat berhenti di tempat begitu lihat siapa yang berdiri di luar.
"Kita perlu ngobrol." Cuma itu yang dia bilang setelah menjauh dari tembok yang dia sandari.
Aku nggak ngomong apa-apa, cuma jalan ke kamar tidurku, ninggalin pintu terbuka sebagai tanda buat dia masuk.
Aku naruh peralatan mandi di lemari, terus sibuk menata ulang buku-bukuku di meja. Di tengah-tengah menata ulang, pena jatuh ke lantai dan aku membungkuk buat ngambilnya, dan begitu aku berdiri, Owen udah berdiri di depanku.
Dia ambil pena dari tanganku dan naruhnya di meja. "Udah selesai, kan?"
Aku ngangguk dan ngelihat dia, tapi langsung buang muka begitu mata kita ketemu.
"Apa yang baru aja terjadi?"
Aku ngelihat dia nggak percaya, "Harusnya aku yang nanya gitu ke kamu. Dengar, Owen." Aku natap matanya. "Aku cuma mau tahu sesuatu, dan aku mau kamu jawab jujur." Dia ngangguk, ngasih tanda buat aku lanjut.
"Kenapa kamu nyium aku?"
"Karena aku mau."
"Aku nggak percaya."' Aku natap dia tajam.
"Oke." Dia ngusap rambutnya dan menghela napas. "Masalahnya, Marlene udah ngegosip selama berminggu-minggu kalau kamu suka sama aku, dan gara-gara apa yang terjadi hari Sabtu, dia yakin kalau aku juga suka sama kamu." Dia ngusap mukanya, "dan terus kita berantem hebat pagi tadi, dan aku nggak tahu, aku akhirnya nyium kamu."
"Aku mau cari tahu apa kamu beneran suka sama aku, dan terus kamu balas nyium aku."
"Aku balas nyium kamu bukan berarti aku suka juga."
"Kita berdua tahu iya."
"Kenapa kamu nyium aku lagi di kolam?"
Dia mengangkat bahu sebelum nyengir. "Karena aku mau, dan itu cuma ngebuktiin kalau kamu beneran suka sama aku."
"Kebanyakan mikir." Aku mencibir.
"Jadi, kamu bilang pas kita ciuman kamu nggak ngerasa apa-apa?"
"Kamu ngerasa apa?"