Bab 4
"Ibu..." Aku ragu-ragu pas lihat dia lagi sibuk sama laptopnya.
Mungkin dia gak bakal marah banget sih, soalnya kelihatan sibuk.
"Hmm?" Jawab dia sambil gak merhatiin.
"Boleh pinjem mobilnya gak?" Aku coba nanya santai.
"Gak."
"Tapi kenapa?" Aku berusaha keras buat gak merengek.
"Kamu tahu kenapa. Kalau butuh kendaraan, bisa pake sepeda." Kata dia masih ngeliatin layar laptopnya.
"Asik banget kalau aku punya," gumamku.
"Ya udah, kamu jalan kaki atau minta tumpangan sama cowok sebelah."
"Tolong, Ibu. Aku janji bakal jagain mobilnya baik-baik."
"Kamu bilang gitu juga waktu itu, dan hasilnya malah kebalikannya."
"Tapi kali ini beda. Kalau gak, Ibu boleh potong uang jajan aku."
Dia ngeliatin aku kayak lagi mikir keras. Beberapa detik kemudian, dia ambil kunci dari meja, dan pas aku mau ambil kuncinya, dia narik tangannya lagi sambil ngasih tatapan peringatan.
"Kamu harus jagain mobilnya, dan terutama diri kamu sendiri," katanya terus naruh kunci di tanganku yang terbuka.
"Iya, dan Ibu gak bakal nyesel," kataku terus meluk dia cepet-cepet terus lari keluar rumah.
"Jangan sampe!"
Aku masukin kunci ke kontak, keluar dari halaman, dan langsung ngebut ke toko yang udah aku perhatiin pas kita pindahan ke sini.
Aku berhenti di depan toko dan keluar dari mobil. Langsung aja ke tempat makanan beku, ambil dua ember es krim, satu rasa jeruk nipis dan satunya vanilla. Terus ke bagian lain yang ada camilan. Setelah ambil beberapa keripik kentang dan beberapa biskuit, aku baru sadar kalau lupa ambil keranjang.
Aku menghela napas dan celingak-celinguk, mungkin kelihatan kayak orang idiot sambil pegangin makanan dengan susah payah. Aku baru aja mau jalan ke konter yang gak terlalu panjang antriannya, udah banyak yang ngeliatin aku, pas aku liat Owen.
Aku gak bisa nahan diri buat gak nyamperin dia.
"Hai Owen," kataku sambil senyum lebar.
"Mau apa?" kata dia setelah menghela napas panjang penuh frustrasi.
"Cuma nyapa tetangga," dia tetep gak peduli. "Eh, ehm...kira-kira aku boleh pinjem keranjang kamu gak?" Aku nanya hati-hati banget. Orang ini kayak ranjau darat, gak boleh ceroboh.
"Gak," katanya dengan tenang.
"Tapi kamu gak pake juga," kataku sambil ngeliatin keranjang kosong di kakinya.
"Soalnya aku baru sampe," katanya sambil nunjuk.
"Oke deh. Gak butuh juga," kataku terus mau jalan ke konter, tapi, kayak konter lain, sekarang antriannya panjang banget. "Nasib..."
"Memang," aku denger Owen bilang pas aku jalan ke antrian. Nyebelin.
Butuh waktu lebih lama dari yang aku mau buat akhirnya bisa bayar belanjaanku. Cewek di kasir lelet banget, aku jadi mikir dia mungkin baru kerja di situ.
Aku keluar dari toko dan jalan ke mobil Ibu dengan bangga karena aku gak ngerusakin atau ngerugiin mobilnya sedikitpun. Kemenanganku gak bertahan lama pas aku liat lampu depan mobil nyala.
Aku buru-buru jalan ke mobil dan buka pintunya, tapi pas aku masukin kunci ke kontak, mobilnya gak nyala. Aku cabut kuncinya terus masukin lagi, tapi tetep gak nyala, cuma bikin suara aneh kayak tadi.
"Gak-gak-gak!" Aku teriak.
Aku ngangkat muka dan bersyukur banget pas liat Owen keluar dari toko. Aku keluar dari mobil dan buru-buru nyamperin dia, ngeblok jalannya. Dia berhenti buat ngeliatin aku terus ke mobil.
"Cuma kamu yang bisa ninggalin lampu depan nyala di tengah hari," kata dia, hampir kayak bosen.
"Kok kamu tahu lampu depannya nyala?" Aku nanya rada curiga.
"Soalnya aku tahu cara pake mata," katanya tenang, yang cuma bikin aku makin kesel.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" Aku nanya dengan putus asa, yang cuma dibalas dengan dia mengangkat bahu.
Aku natap cowok yang berdiri di depan aku ini lama, berusaha buat ngertiin dia. Gagal.
Jadi, aku narik napas dalam-dalam buat nenangin diri terus ngeluarinnya pelan-pelan.
"Paling gak, bisa bantuin aku benerin mobilnya gak. Aku udah janji sama Ibu bakal jagain mobilnya."
"Dan liat hasilnya."
"Tolong," aku memohon sama dia.
"Untungnya, aku gak bawa mobil."
"Maksudnya, sayangnya," aku benerin dia.
"Gak. Untungnya," setelah bilang gitu, dia pergi. Aku berdiri di situ dengan mulut ternganga gak percaya dan ngeliatin punggungnya yang menjauh sampai jadi titik kecil.
Ibu bakal bunuh aku.
Aku coba nyalain lagi mobilnya, tapi gak berhasil, "Aduh. Kenapa harus aku?" Aku keluar dari mobil dan duduk di pinggir trotoar nunggu keajaiban. Mungkin Owen bakal berubah pikiran.
Empat puluh menit udah berlalu dan aku nyimpulin mungkin gak bakal ada perubahan pikiran dari Owen. Aku berdiri dari pinggir trotoar, mikirin ide. Mungkin aku bisa dorong mobilnya pulang? Aku ngeliatin SUV itu dan langsung ngebuang ide itu.
Aku denger seseorang manggil namaku dan pas aku noleh, aku liat wajah yang gak asing dari cowok pertama yang aku temuin pas kita pindah.
"Hai Abel," aku nyapa dia.
Dia berhenti di depan aku. "Hai. Ngapain di sini? Sendirian?" dia nanya.
"Sebenernya gak mau di sini sih, tapi mobilnya gak mau nyala," kataku sambil nunjuk mobilnya.
"Kamu tahu masalahnya kayaknya apa?" Dia nanya sambil ngeliatin mobilnya dari bahuku.
"Eh...iya. Aku kayaknya ninggalin lampu depan nyala beberapa menit dan mobilnya gak mau nyala," aku jelasin.
"Oh. Aki kamu mungkin soak. Boleh?" Dia nanya sambil nunjuk mobilnya.
"Iya," aku minggir dan dia buka kap mobilnya terus mulai ngecek entah apa.
"Coba nyalain mobilnya."
Aku masuk dan gak ada perubahan, cuma bikin suara aneh kayak tadi.
"Iya. Bener," dia nutup kap mobil, "Kamu harus nge-jumpernya. Sini aku ambil mobilku," katanya terus jalan ke mobilnya, masuk, dan parkir di samping mobil Ibu.
Dia matiin mesinnya dan ngambil kabel merah dan hitam dari bagasi. "Bisa masukin mobilnya ke parkir," dan aku lakuin itu.
Dia ngambil kabel merah dan nyambunginnya ke aki mobilku dan mobilnya terus nyambungin yang hitam ke aki mobilnya dan ke rangka logam. Dia nyalain mesinnya dan biarin nyala beberapa menit.
"Oke. Coba nyalain mesin kamu dan kalau nyala, jangan dimatiin," dia ngasih instruksi setelah nyabut kabelnya.
"Oke," aku masukin kunci ke kontak dan mobilnya nyala. Aku senyum lebar banget sampai pipiku sakit. "Nyala!" Aku menjerit kegirangan. "Makasih banyak."
"Santai aja. Gak masalah kok," dia ngelambai santai. "Boleh minta nomor telepon kamu?" dia nanya, "Buat jaga-jaga kalau kamu ada masalah sama mobil kamu lagi. Jadi kamu bisa telepon aku daripada...nunggu di sini." Dia jelasin lebih lanjut.
"Eh, boleh deh," aku ngerasa pipiku merah sebelum ngecek saku buat hp-ku tapi terus sadar kalau aku emang ninggalin hp-ku di rumah. "Aku gak bawa hp sekarang, dan sayangnya aku juga gak hafal nomor aku, tapi aku bisa catet nomor kamu terus telepon kamu kalau udah sampe rumah."
Aku ambil kertas dan pena dari mobil dan nulis nomor dia.
"Aku harus pergi sekarang, seneng banget ketemu kamu lagi."
"Sama-sama," aku senyum ke dia.
Aku masuk ke mobil dan cemberut pas nyadar es krim aku udah meleleh, tapi terus aku sadar nasib yang lebih buruk nunggu aku di rumah.