Bab 35 Pangeran di Genangan Darah
Si "Gusrabo" gak jauh dari situ, dan dia gak bisa nahan diri buat noleh. Dia kan orangnya lumayan mikir. "Roland Tua" udah ngorbanin nyawanya buat beliin dia waktu. Mbuang-buang waktu cuma bakal sia-siain pengorbanan mereka, tapi dia beneran gak bisa nahan diri buat gak balik liat.
Di kejauhan, setengah langit udah ketutup cahaya keemasan, dan dia ngeliat pemandangan aneh. Ada makhluk hidup yang badannya penuh sisik emas, dan badannya memanjang kayak ular. Di dunia yang keemasan itu, muncul cakar, dan cuma sebentar setelah muncul, langsung ilang bareng cahaya emas.
Waktu semuanya ilang tanpa bekas, si "Burung Hantu" yang ada di dalem diri "Gusrabo" akhirnya ngomong.
"'Roland Tua' udah nekat, dan kekuatan dari pola 'Xuanyuan' mekar."
"Gusrabo" keliatan bengong, dan entah kenapa dia ngerasa gak enak. Waktu cahaya keemasan itu ilang, hatinya jadi makin gak karuan.
"Apa yang udah dilakuin 'Roland Tua' si 'Burung Hantu' itu, dan apa itu pola 'Xuanyuan'!?"
Wajah "Gusrabo" pelan-pelan berubah, dan dia balik lagi. Si "Burung Hantu" pelan-pelan ngejelasin: "Pola 'Xuanyuan' itu tindakan perlindungan yang dibuat keluarga kerajaan 'Xuanyuan' buat keturunan keluarga kerajaan. Bisa ngelindungin di saat genting, tapi ada cedera serius, yaitu orang yang harus buka 'lautan udara' bisa make itu. Kalo 'lautan udara' aja belum kebuka, kalo mau ngerasain pola 'Xuanyuan', harus bayar pake nyawa."
Langkah "Gusrabo" jadi makin cepet. Gak tau darimana kekuatannya muncul, dia udah mulai lari. Si "Burung Hantu" nghela nafas waktu ngeliatnya. "Kenapa kamu buang-buang kesempatan yang udah diperjuangin orang lain buat kamu? Aku yakin 'Roland Tua' gak mau ngeliat kamu kayak gini sebelum dia mati."
"Gusrabo" bilang dingin, "Itu kan pikiranmu. Aku gak bisa diem aja!"
Si "Burung Hantu" tiba-tiba gak bisa ngomong, ada rasa pahit yang gak bisa dijelasin di hatinya, udah bilang sebelumnya, selain keluarga, persahabatan atau cinta yang mewah gak bisa bikin si "Burung Hantu" gak peduli, cuma keluarga yang bisa dia rasain, ini harga setelah berdagang sama dosa keserakahan, si "Burung Hantu" gak bisa ngerasain sedikitpun simpati dan kesedihan, yang ada cuma helaan nafas.
Langkah kaki "Gusrabo" makin cepet, dan dalam sekejap mata dia udah balik lagi ke tempat dia kabur tadi, hutan yang gelap dan lembab. Sekarang, mana ada kelembapan dan kegelapan?
Pohon-pohon di sekitarnya udah pada patah jadi beberapa bagian, ambruk di tanah dan berserakan. Mana ada beberapa binatang buas yang lagi tiduran? Mana sosok 'Roland Tua' si serigala itu? "Gusrabo" gak bisa nemuin sosok serigala itu, tapi sosok 'Roland Tua' ada di depan kiri "Gusrabo". "Gusrabo" buru-buru lari ke 'Roland Tua' buat nolong dia bangun. Hati "Gusrabo" kayak lagi ngerasain penderitaan. Waktu dia ngebantu 'Roland Tua' bangun, dia nemuin badan 'Roland Tua' enteng banget dan gak ada bobotnya sama sekali.
"'Roland Tua', 'Roland Tua'! 'Roland Tua'!"
"Gusrabo" mati-matian manggil 'Roland Tua', tapi 'Roland Tua' selalu merem. Di panggilan "Gusrabo" yang terus-menerus, akhirnya 'Roland Tua' buka matanya pelan-pelan, dan mulutnya yang pucat gak bisa nahan diri buat gak ngeluarin darah hitam!
"Kamu... kenapa belum pergi... tapi juga... gak apa-apa... dia... mati."
Mata "Gusrabo" mulai netesin air mata. Dia bukan remaja yang gampang nangis, tapi saat ini dia sedih dan pilu. 'Roland Tua' nganggep dia temen dan bahkan gak peduli sama nyawanya buat ngelindungin dirinya sendiri. Gimana bisa dia gak bersyukur dan gimana bisa dia gak netesin air mata yang sialan itu!
"Taruh tanganmu di dadanya."
Tiba-tiba si "Burung Hantu" ngomong, dan "Gusrabo" kaget. Terus dia naruh tangan kanannya di dada 'Roland Tua'. Gak lama kemudian, detak jantung dari dada 'Roland Tua' mulai ngebut dan pelan-pelan mendekati detak jantung manusia.
Ngeliat 'Roland Tua' udah ada kemajuan, "Gusrabo" keliatan semangat dan ngegas: "Si 'Burung Hantu' cepet selamatkan 'Roland Tua'!"
Si "Burung Hantu" bilang dengan suara pelan, "Aku gak bisa. Vitalitasnya udah ilang. Yang bisa aku lakuin sekarang cuma bikin dia hidup lebih lama. Sekarang, bahkan kalo itu pengorbanan suci, gak, gak mungkin buat nyelamatin nyawanya."
"Gak bisa... gak bisa... 'Roland Tua' gak bakal mati!"
"Gusrabo" nangis dan meluk badan 'Roland Tua', neken tangan kanannya ke dadanya.
"Gak... Aku tau aku gak bakal hidup lama. Jangan coba-coba ngelakuin apapun buat aku, itu cuma bakal nyakitin diri sendiri." Kata 'Roland Tua' sekali lagi, bilang kalo "Gusrabo" gak bisa denger atau ngerti dia, tapi si "Burung Hantu" di dalem dirinya tau kalo dia terus ngasih kekuatan jiwanya, waktunya di dunia ini bakal makin singkat.
Namun, ngeliat tampang sedih "Gusrabo", dia cuma bisa ngasih hatinya buat terus nyampein kekuatan jiwanya.
Tangan kanan 'Roland Tua' di pola 'Xuanyuan' udah ilang, tangan kanan yang bener-bener kehilangan kesadaran, angkat tangan kiri bakal megang telapak dada buat pecah, tangan kanan "Gusrabo" dengan tenang menjauh.
"'Roland Tua'!"
'Roland Tua' membungkuk dan berusaha buat duduk tegak, kerutan di wajahnya menggantung ke bawah, dan rambutnya, yang aslinya kotor, semuanya abu-abu saat ini, kecuali sepasang mata yang dalam, yang keliatan kosong dan tumpul.
"Aku rasa aku bisa hidup lebih lama. Ada beberapa hal yang pengen aku kasih tau kamu."
'Roland Tua' ngomong kalimat ini, batuk keras, "Gusrabo" megang bahunya, biarin 'Roland Tua' duduk lebih nyaman.
"Kamu ngomong, aku bakal bantuin kamu nyelesaiin itu!"
"Gusrabo" bilang sedih.
'Roland Tua' geleng-geleng kepala.
"Yang pengen aku kasih tau kamu itu rahasia aku, bukan buat minta kamu ngelakuin apapun buat aku. Kamu nanya kenapa anggota keluarga kerajaan 'Xuanyuan' dateng ke sebuah kerajaan buat jadi ketua resimen tentara bayaran kelas satu. Sekarang aku bakal kasih tau kamu."
"Waktu aku masih kecil banget, aku hidup di kota kekaisaran yang megah, Semua orang harus nunduk dan takut waktu ngeliat aku, Dan manggil aku pangeran kecil kalimat demi kalimat. Waktu itu, aku masih punya ibu yang sayang sama aku. Dan ayahku yang penyayang, Dan sebagai keluarga kerajaan, aku gak ngecewain ibu dan ayahku, Bakatku buat berkultivasi kuat banget. Waktu aku umur enam tahun, aku buka 'lautan udara' dan sampe 'yuan udara' dengan usahaku sendiri. Waktu aku umur sepuluh tahun, aku nyampe standar jenius dan naik dari 'lautan udara' ke 'Ningyuan'. Waktu itu, aku punya banyak aura jenius, dan aku adalah kebanggaan hati orang tuaku, tapi berita buruk yang tiba-tiba bikin semua keindahan ilang."
"Gusrabo" dengerin dengan tenang, dan 'Roland Tua' ngos-ngosan beberapa kali.
"Kerusuhan sipil dari keluarga kerajaan, Persaingan antar pangeran, Ayahku ada di antara mereka, Selama periode waktu banyak pangeran bersaing buat tahta, Ayahku juga salah satu pesaing tahta, Tapi pada akhirnya ayahku gagal, Caranya gak bisa dibandingin sama kekejaman pangeran lain, Aku inget ada tiga belas pangeran di keluarga kerajaan. Ayahku yang kesembilan, Tiga belas pangeran bersaing buat tahta, Ini hal yang unik dalam sejarah. Karena dulu, tahta yang ditentuin keluarga kerajaan 'Xuanyuan' dipilih langsung sama kaisar, Itu kakekku. Sayangnya, kakekku ilang tanpa alasan. Kehilangan ini tiga tahun. Pemandangan kayak gimana kerajaan tanpa kaisar selama tiga tahun? Kerajaan bisa jatuh ke dalam kekacauan, dan tiga belas pangeran, termasuk ayahku, punya ambisi di hati mereka. Ngedengerin tahta itu dan selalu mikirin buat dapetin tahta itu, kamu harus tau keinginanmu... Harapan adalah dosa awal dan keserakahan adalah kebenaran dari sifat manusia. Pertarungan antar pangeran akhirnya bikin runtuhnya keluarga pangeran. Waktu itu, dua saudara laki-laki dan satu saudari perempuanku ikut bertarung buat ngebantu ayahku.
Saat itu, aku masih kecil. Ayah dan ibuku sama-sama pengen aku fokus berkultivasi
Selama dua tahun, keluarga kerajaan berjuang buat pusaran air besar ini, dan waktu para pangeran tumbang satu persatu, akhirnya giliran keluarga aku
Hari itu, pasukan puluhan ribu ksatria dari Kerajaan 'Xuanyuan' mengepung keluarga aku. Ayahku dan pengawalnya bertarung dengan pasukan ksatria ini selama dua hari dua malam. Dua saudara laki-lakiku meninggal dalam pertempuran, dan saudari perempuanku tertusuk di dada sama pedang ksatria
Saat itu aku jadi saksi horornya perang, saat itu jadi saksi naik dan jatuhnya sebuah keluarga, ibuku ngerangkul aku, ayahku berdiri di depan kita, nyariin jalan buat kita berdua buat hidup
Saat itu, aku ngeliat tubuh Gao Wei ayahku jadi senja dan lemah. Waktu ayahku ditusuk sama tombak panjang, aku jelas denger satu kata dari mulut ayahku
"Aku gak mau!"
Tapi pada akhirnya dia jatuh, dan ibuku tergeletak di genangan darah buat ngelindungin aku. Dalam dua hari, keluargaku, kerabatku, dan ratusan nyawa jatuh diam-diam di genangan darah."
'Roland Tua' mulai batuk keras lagi. Mungkin karena kebanyakan ngomong, akhirnya dia gak bisa duduk. Malah dia minta "Gusrabo" buat bantuin dia tiduran di tanah dan kemudian nghela nafas lega.
"Ini jauh lebih nyaman." "P"