BAB 18
"Bangun bangun bangun!!!!" teriakku di apartemen temanku.
"Lorrie ada apa sih, kenapa sih lo udah bangun jam segini" Melia mengeluh, sambil mengusap dahinya.
"Ya, gue sih bakal tidur kalau aja calon mertua gue yang bodoh itu gak nelpon gue buat bilang kalau gue cuma punya dua hari buat rencanain pesta tunangan yang beneran. Dua hari doang!!!!" bentakku.
"Lorrie, berhenti ngumpat. Lo kenapa sih" Brooke memarahi.
"Denger ya, Brooke, gue udah mau pecah kepala. Jadi berenti bilang gue buat berenti ngumpat karena gue bakal ngumpat terus kalau gue harus-" teriakku.
"Wah santai dulu, ini kan cuma pesta tunangan, gak masalah kan?" Brooke bertanya.
"Masalah besar, besar banget, soalnya kalau hal kecil ini gak berjalan dengan baik, hidup keluarga gue selesai. Semuanya bakal hancur." Mataku membelalak.
"Wah, kalau separah itu, kenapa gak lo kasih waktu buat Brooke sama gue buat segeran diri, sementara lo bangunin Carter" kata Melia.
Berjalan ke pintu kamar Carter, aku berkata "Aduh, sialan, gue masuk nih". Dan langsung menyesalinya.
Sambil terbatuk, aku memalingkan pandanganku "Carter, bukan itu yang mau gue liat pagi ini, jorok banget. Kenapa sih lo gak pake baju?"
"Oh, gue gak mau banget liat itu" Brooke mengangkat tangannya, menjauh.
"Sst, diem dong demi Tuhan" dia menghentikanku.
"Hei Carter, em, gue seneng banget semalem dan gue beneran gak sabar buat perjalanan kita" Seorang cewek cantik keluar dari kamar mandi Carter berjalan ke arahnya.
"Iya gue juga. Em, kenalan nih sama temen-temen gue, Lorraine dan Amelia. Ada satu lagi tapi dia sibuk. Jadi, cewek-cewek kenalin Tracy" Katanya sambil memperkenalkan kita.
"Hai" Aku tersenyum sementara Melia keliatan kayak ini tempat terakhir yang dia mau datengin.
"Hai, seneng ketemu kalian berdua tapi gue harus pergi. Jadi, dadah, telpon gue ya sayang" kata Tracy sambil menciumnya sebelum keluar.
"Em Carter, dia udah pergi" kataku, mencoba menarik perhatiannya lagi karena dia terus menatap pintu.
"Lo liat kan? Gak dia yang terbaik?" tanya Carter. Aku liat Melia dan ekspresinya gak bisa kelewat. Itu tatapan cemburu, sakit, dan sedih. Tapi sejujurnya, gue gak pernah liat dia sebahagia ini selama ini tapi kenyataan kalau gue tau hubungan dia sama Tracy itu ngebunuh Melia, gue jadi kayak terjebak di tengah-tengah tanpa tau harus gimana.
"Iya iya, dia emang. Jadi Melia, em soal pesta tunangan, ayo mulai sekarang ya?" Berharap bisa ngilangin ketegangan Melia.
"Pesta tunangan yang mana?" tanya Carter.
"Oh itu, nanti gue kasih tau. Setelah lo ilangin bau seks lo dulu." Aku tersenyum sebelum keluar dengan Melia yang kaku banget.
"Dia keliatan seneng banget sih" Melia akhirnya buka suara begitu kita masuk kamarnya.
"Hei Melia, semuanya bakal baik-baik aja, tapi lo harus lepasin semuanya" Aku menghiburnya.
"Iya, tapi gak semudah itu" jawabnya.
"Gue tau gue tau, tapi ini yang terbaik" Lanjutku.
"Ah, ya udah deh. Gue mau segeran diri dulu biar kita bisa mulai urusan pestanya" dia bangkit dari kasur, bener-bener kayak kita gak lagi ngomongin hal yang penting. Gue udah biasa sih karena dia emang gitu terus. Itu cuma cara dia buat ngilangin emosinya tapi pada akhirnya, dia bakal berubah.
"Iya deh. Gue bakal di dapur sama Brooke dan Carter" kataku, pergi menjauh.
"Jadi, Carter cerita kalau lo sama Melia liat Tracy ya?" Brooke bertanya saat aku menarik kursi buat duduk.
"Ya, dia sih lumayan baik dan cantik, tapi bukan dia atau Carter yang gue khawatirkan, itu Melia. Gue tau gimana sakitnya ini dan gue mau coba buat ngilangin pikiran dia dari itu tapi gue gak tau harus gimana". Aku menghela napas sambil mainin rambut. Gue gak suka liat temen-temen gue sedih.
"Kenapa gak kita pergi cewek-cewek malam ini. Bisa abis pesta atau langsung abis Carter pergi buat perjalanan sama Tracy. Mungkin, dia bakal dapet cowok gitu, siapa tau?" Brooke menyarankan.
"Iya, itu bagus buat dia. Kedengerannya enak sih" Aku setuju.
"Enaknya buat siapa nih?" Carter bertanya yang ngebuat gue loncat dari kursi karena kaget.
"Lo harus berhenti ngumpet di belakang gue, Carter. Gue benci banget!" desisku.
"Maaf Looney, gak usah kayak anak kecil gitu. Jadi, bagusnya buat siapa nih?" Carter bertanya, tiba-tiba kepo sama obrolan kita sambil duduk di sampingku.
"Ya udah kenapa gak kita tanya Brooke" Aku tersenyum nakal padanya.
"Oh em, gue cuma bilang gimana enaknya malam yang bagus cuma kita cewek-cewek bakal bagus dia-kita" dia mengangkat bahu.
"Wah kalian berdua mulai aneh nih" dia keliatan curiga.
"Terserah lo deh, aneh. Sekarang ayo mulai rencananya"
..........
"Jadi, area makanan bakal ada di sisi kiri aula, terus setiap meja bakal ada enam tamu. Itu yang kita setujuin kan Lorrie?" Brooke bertanya. Dia emang hidup buat acara atau ya pesta jadi ngerencanain satu itu sesuatu yang dia excited banget.
"Iya em gue rasa itu bener" Aku meyakinkannya.
"Lo gak boleh nebak lo harus tau" teriaknya. Mungkin terlalu excited.
"Denger kita udah di sini lebih dari empat jam dan percayalah bahkan tuan rumah pestanya capek" Carter mengeluh.
"Maaf, boleh tau kenapa lo ngomong gitu ke gue?" Dia bertanya.
"Kita butuh istirahat setidaknya; gue udah gak kuat lagi" Melia mengeluh.
"Dan lo gak bakal dapet" dia membentak sambil Carter mengeluh.
"Ingetin gue kenapa gue ngelakuin ini" kata Melia.
"Em duh. Buat temen kita" dia menjawab.
Saat mereka terus berdebat, gue jadi gak fokus karena hp gue bunyi. Gak ada nama? Gue jarang ada yang nelpon. Sambil mengangkat bahu, gue angkat;
"Hola, maaf Lorraine gak bisa angkat telpon sekarang, dia mungkin lagi tidur atau lebih bagusnya lagi, tidur. Tinggalin pesan setelah nada. Beep" Kataku, mencoba terdengar kayak pesan suara gue.
"Yah halo juga buat lo orang asing"