BAB 20
"Hei, sayang, gue kayaknya butuh bantuan lo," Lexis ngomongnya udah belibet.
"Ya Tuhan, jangan bilang lo mabok," gue berdoa dalam hati.
"Emang gue mabok?" tanyanya.
"Ya ampun, pertanyaan bodoh banget, Lexis," gue megangin jidat.
"Jadi, li-liat, gue - supir - pulang," katanya nggak jelas.
"Gue beneran nggak ngerti, tapi Ryan mana?"
"Wha- siapa Ryan?. Oh, cewek," gumamnya. Kayaknya Ryan ninggalin dia buat nge-gebet cewek.
"Oke. Lo di mana?" gue nanya dengan lembut.
"Gue nggak tahu," jawabnya.
"Ya ampun. Lo bikin susah aja deh," gue cemberut.
"Lo-lo banyak ngeluh," dia ngomel sambil gue muter mata.
"Oke, Lexis, tetep sama gue. Coba liat sekeliling lo, apa yang bisa lo temuin?" gue nanya penuh harap.
"Apa?. Oh, tu-tunggu, gue liat bunga," Dia ngomong. Bunga?
"Dari semua hal, Lexis. Bunga?. Lo minum berapa banyak sih?" gue ngomel.
"Oh, gue liat um a-a-a studio dansa," dia nyaut dengan semangat kayak menang lotre.
"Oke studio dansa, lo kemungkinan di klub Royale, itu jalan sebelum tempat kerja gue. Tetep di telepon ya, gue bakal sampe dalam beberapa menit," gue bilang sebelum teleponnya mati. Gue bahkan nggak sempat nanya gimana dia dapet nomor gue, tapi serius gue nggak peduli karena kayaknya semua orang tahu nomor gue.
Ngambil kunci mobil Lexis karena gue nggak mau ada yang muntah di dalem Ollie, gue nyetir ke klub Royale dan setelah kayak sepuluh menit, gue keluar dari mobil buat nyari Lexis pas gue denger beberapa cowok siul-siul ke gue dan baju gue yang kurang bahan. Jangan salahin gue, lo kan bukan orang yang tunangan lo telpon karena dia mabok.
Akhirnya ngeliat Lexis, duduk di pinggir trotoar dengan muntahannya di sampingnya bikin gue mau muntah juga.
"Sayang!!. Akhirnya lo dateng!. Gue udah nungguin lo," dia cemberut waktu nyadar gue dateng.
Melihat ini waktu yang pas buat balas dendam, gue foto dia cepet-cepet, ketawa dalam hati sebelum nyoba buat ngegendong dia. Tekanan pada mencoba.
"Oke, badan gede, lo harus bangun. Lo kegedean buat gue," gue bilang sambil susah payah.
"Lo lemah banget," Dia nunjuk hidung gue sambil pelan-pelan berdiri kehilangan keseimbangan.
"Lo harus sabar ya, Lexis. Gue beneran nggak bisa gendong lo," gue bilang sambil dia ngegendong gue.
"Gue lagi usaha, sayang," dia ngomongnya belibet waktu kita sampe di mobil. Gue bantu dia ke mobil sementara gue ke sisi gue buat mulai nyetir.
Selama perjalanan, Lexis terus-terusan nyolek gue dan cekikikan. Ya, cekikikan. Lexis mabok banget bukan sesuatu yang pengen gue saksikan lagi.
Mulai kesel, gue nyentak "Kenapa nggak nelpon Alfred atau apa gitu?"
"Alfred harus pulang," Dia bergumam. Oh, itu penjelasannya.
"Ya Tuhan, gue bakal bales dendam pas lo udah sadar," gue menghela napas.
"Lo mengingatkan gue banget sama dia," Suaranya melemah.
"Siapa? Siapa yang gue ingetin?" gue nanya tapi nggak ada jawaban.
Gue ngeliat ke arahnya dan gue nemuin dia udah tidur.
"Percakapan ini belum selesai, percaya deh," gue bilang pelan sebelum nginjek gas.
"Bangun, badan gede, kita udah sampe. Jangan bikin gue stres," gue ngomel karena dia nggak mau bangun. Mikirin solusi yang sempurna, gue lari ke dalem buat ngambil seember air dingin.
Gue diam-diam minta maaf ke jok mobilnya sebelum gue nyiram dia pake air.
"Sial!" Lexis ngumpat waktu dia bangun
"Gue udah berusaha bangunin lo dari tadi jadi jangan salahin gue," gue ngangkat bahu sambil nungguin dia berdiri.
"Gue nggak mau urusan sama lo sekarang. Setidaknya sampe gue sadar," dia melotot ke gue sambil meluk bahu gue buat bantu dia seimbang.
Ngejatuhin dia ke kasurnya, gue bantu dia lepas sepatunya. Saat gue lakuin itu, dia mulai ngeluh kepanasan di kamar meskipun a.c. nyala satu.
Jadi gue bantu dia lepas bajunya dan ya ampun. Lumayan menggoda. Oke nggak, gue nggak boleh ngomong gitu.
"Berhenti merhatiin," Dia ketawa mulai sadar dikit.
"Diem sekarang," gue negur.
"Bolehkah gue bilang betapa cantiknya lo pake celana pendek itu. Seksi, gue suka," dia berbisik pelan saat dia mulai tidur lagi.
"Oh," gue blushing ngeliat dia udah tidur.
"Selamat malam Lexis," gue bilang, matiin lampunya sebelum nutup pintu.