BAB 23
"Lo paling gak tau dia bakal bangun jam berapa?" Aku denger suara dingin yang familiar nanya pas aku pelan-pelan mulai sadar.
"Gak bisa mastiin, terserah dia," Kayaknya itu dokter ngejawab.
Aku ngerasa sakit pas bangun dan gelombang *deja vu* lewat pas aku buka mata buat liat sekeliling ruangan, tembok polos dan ranjang tapi satu-satunya bedanya cuma lebih nyaman dikit. Disana, aku nemuin temen-temenku pingsan sama Ryan dan oh Lexis ngobrol sama dokter.
Dengan semua usaha, aku berhasil buka mata tapi langsung aku tutup lagi karena silau.
Aku nyoba buat duduk tapi gak bisa gara-gara sakit di kepala. Pake tangan buat ngeraba perban yang ngelilit kepala, aku meringis kesakitan, bikin semua mata ngarah ke aku, bahkan temen-temenku yang lagi tidur.
"Apa aku di surga?" Aku bergumam.
"Enggak, di neraka, lo disini," Aku ngejawab diri sendiri sambil ngeliatin Lexis.
"Oh, bisa kebayang," Dia muterin matanya.
"Cowok gak dewasa banget, gak dewasa banget," Ryan bercanda sambil nepuk punggungnya pelan.
"*Por qué diablos me asustaste así*?" Melia teriak, mukul aku.
"Woah, santai, mbak, dia baru bangun," Brooke nasehatin dia.
"Gak usah pake bahasa Spanyol buat kita," Carter bercanda.
"Gak masalah. Dia cuma bilang kenapa sih lo nakut-nakutin gue kayak gitu," dia ngejawab buat kita semua yang bengong kecuali Ryan tentunya.
"Dia belajar bahasa Spanyol pas SMA," Ryan ngejawab pikiran kita.
"Pamer," Aku ngangkat bahu.
"Oke, sekarang lo udah bangun, kita mau mandi dan kita bakal balik segera. Oke?" Carter bilang sambil ngejauhin temen-temenku bahkan Ryan gak sebelum ngecup keningku, ninggalin Lexis dan aku.
"Jadi," Dia bergumam.
"Gimana orang tua gue, mereka tau aku di rumah sakit?" Aku nanya dalam hati berdoa dia gak ngasih tau mereka daripada ngejawab pertanyaan kenapa mereka gak dateng buat nemuin aku.
Dia ngangkat bahu, "Uh iya, gue telepon mereka tapi kayaknya mereka gak peduli." Rasa sakit dikit ngepenuhi dada aku.
"Iya Aiden atau apalah bilang gue apa yang terjadi. Dia yang telepon sebenernya," dia buru-buru buat ganti topik.
"Yah, kedengarannya bagus. Lihat, udah gue bilang dia bukan cowok yang buruk," Aku nyanyi girang.
"Dia cowok yang oke. Gue beneran gak peduli," dia nolak.
"Dia dimana?"
"Dia disini dua hari pertama lo."
"Woah, udah berapa hari gue disini?" Aku nanya.
"Cuma empat," dia ngangkat bahu.
"Empat? Gimana pestanya?"
"Gimana lo bisa berharap itu bakal tetep ada tanpa lo dan lagian itu pesta pertunangan palsu jadi siapa yang peduli?"
"Yah, gue peduli, gue kerja keras buat omong kosong itu."
"Lain kali lo bilang gitu ke diri lo sebelum lo nabrak tiang," dia ngejawab.
Ngeselin.
..........
"Udah tiga hari sejak gue bangun, gue rasa gue punya hak buat mutusin mau tetep disini atau pergi," Aku ngeluh.
"Lo belum fit buat pergi."
Tiga hari terakhir lumayan bisa ditoleransi. Lexis dan aku ngobrol banyak mungkin karena kita berdua terus.
"Ayolah, kenapa sih lo harus jadi tunangan yang buruk?" Aku cemberut.
"Gue bahkan gak mau lanjutin topik ini karena gue tau bakal kemana," dia ngangkat tangannya.
"Oke."
"Bagus," dia senyum pas kita masuk ke keheningan yang nyaman.
"Makasih," Akhirnya aku bilang.
"Buat apa?"
"Buat ngerawat gue dan nemenin gue ah dan nunjukkin gue kalau lo beneran punya hati."
"Gue punya hati, lo aja yang terlalu bodoh buat sadar," dia ketawa pas aku nge-flip dia.
"Yah, gue gak mikir gitu," Aku ngeledek.
"Gimana hubungan lo sama Nate?" Dia nanya dan aku tegang tapi sebelum aku bisa ngapa-ngapain pintunya kebuka nunjukkin dokter.
"Selamat siang, sepertinya Lorraine mungkin udah siap pulang, setelah semua, lo cuma harus minum obatnya dengan bener dan jangan stres," dia senyum.
"Gampang buat lo ngomong gitu dok," Aku ketawa pelan.
"Eh, gue serius dan lo, jadi tunangan yang baik dan rawat dia," dia nunjuk Lexis.
"Iya, kayaknya gue bakal," dia bilang ninggalin aku kaget.
"Tutup mulut lo, putri," Lexis ketawa pas aku nge-hawk dia.
"Oke, kalau gitu itu aja. Hati-hati," dia bilang pergi.
"Oke, kalau gitu, pulang yuk!!" Aku bersorak.
Gue beneran gak percaya baru aja bilang gitu.