BAB 19
"Halo juga orang asing," kata Aiden dengan geli.
"Hei Aiden, *stalker* banget sih kamu?" Aku nyengir, ninggalin ruangan biar temen-temenku terus berantem.
"Oh, kalo soal nomor teleponmu, aku punya cara, deh," dia tertawa.
"Iya deh, *stalker*. Untung kamu nelpon, soalnya aku nggak ngomong sama kamu sejak, kayaknya, minggu lalu," lanjutku.
"Wah, ada yang kangen nih? Jadi, gini, aku mikir gimana kalo kita makan siang bareng besok sore atau gimana gitu? Gimana menurutmu?" Dia nanya sambil aku inget sesuatu.
"Boleh juga, itu bagus banget. Lebih bagus lagi, kamu bisa dateng ke pesta pertunanganku hari Sabtu. Kalo kamu mau, sih," saranku.
"Apa? Aku? Dateng ke pesta tunangan palsu buat makan gratis? Ya jelas mau!!" Dia ngomong dengan semangat.
"Kamu harus berhenti ngomong yang palsu-palsu gitu, tau nggak," kataku ke dia.
"Oh, maaf. Semoga nggak ada yang tau soal ini. Lagipula, kamu nggak bisa nyangkal, soalnya aku tau lebih banyak dari yang kamu kira," katanya dengan bangga.
"Oh, yakin? Tuan *stalker*?" Aku ngejek.
"Iya, tapi nggak buat hari ini. Kayaknya kamu harus balik ke temen-temenmu. Dan, em, satu lagi, kalo kamu butuh bantuan akting, bilang aja. Kamu parah banget, dan keliatan banget bohongnya," dia tertawa.
"*Fuck you* Aiden," kataku sambil memutus telepon.
"Aiden siapa?" Melia nanya pas aku masuk ke ruang tamu.
"Hmm, Aiden itu, sebenernya, temen yang baru aku kenal seminggu lalu. Dia baik, lumayan lah. Tapi jangan khawatir, kalian bakal ketemu dia kok," dia senyum.
"Sabar dulu, *girl*. Kamu kan tau kalo kamu nggak boleh punya hubungan apa pun sama siapa pun," dia mengingatkanku.
"Aku tau, aku tau. Aku emang nggak bisa pacaran sama orang kayak dia. Dia tuh mirip aku banget. Kayak aku suka sama diri sendiri, gitu. Mikir tentang jomblo tapi udah punya pacar tuh nyebelin," aku mengeluh.
"Aku tau, sayang. Nggak punya pacar selama tiga tahun itu susah. Aku ngerti banget perasaanmu," Brooke menghiburku.
"Sisi baiknya, karena kalian mau ada *girls night* sebentar lagi, kamu bisa manfaatin kesempatan ini dan ambil resiko, setidaknya buat semalam," saran Carter.
"Kalian tau kan nggak semua orang udah nggak perawan di sini," kataku sambil nunjuk diri sendiri.
"Dan aku nggak bisa begitu aja berhubungan badan sama cowok random yang aku temuin di klub. Duh, aku kan beda sama kamu," aku nyolot.
"Itu nyakitin hati kecilku," kata Carter dengan nada pura-pura tersinggung.
"Tunggu! Maksud kalian *girls night* itu apa?" Dia nanya, keliatan bingung.
"Oh, iya bener. Kita mau *girls night out* setelah pesta selesai dan pas Tuan *lover boy*—eh, Carter, pergi jalan-jalan," Brooke ngasih tau sambil aku *facepalm*.
"Oh," itu aja yang dia bilang.
"Hei, setidaknya kamu bisa *move on*—kamu tau, kan?" Aku berbisik.
"Oh, ya udah deh, nggak papa," dia setuju.
"Aku nggak sabar nih, *ladies*," pengumuman Brooke.
...........
"Hei, jutek," Ryan manggil pas aku masuk.
"Hei, temen kesepian," aku bales sapaannya.
"Aku heran kenapa Alex benci banget sama kamu," dia bergumam.
"Oh, kayaknya karena dia orang sombong yang nggak tau cara jadi manusia," jawabku.
"Ya ampun, kamu emang paling top deh. Tau nggak, kamu ngingetin aku sama seseorang," dia tertawa.
"Iya? Siapa?" Aku nanya.
"Nggak ada. Ryan, kita pergi sekarang," Lexis nyela, keliatan kesel.
"Nggak ada. Ryan, kita pergi sekarang," aku niruin dengan cara yang kekanakan.
"Kamu kekanakan banget. Aku suka," kata Ryan, kayak ngakuin.
"Nggak kok," kata Carter sambil mukul dia.
"Iya, aku suka. Dia keren," dia merayu.
"Aww, makasih. Aku hargain banget kok. Mau tanda tangan nggak?" Aku nanya sambil nyengir.
Ryan ketawa pas dia dan Carter jalan ke pintu. "Ya udah deh, selamat tinggal, jutek."
"Dadaaa temennya si jomblo," aku teriak pas dia nutup pintu.
..............
Setelah sekitar dua puluh menit nonton Netflix, aku denger bel pintu.
"Pasti itu pizza-ku."
Aku lari ke bawah dan buka pintu tanpa nanya siapa yang dateng dan aku disambut Adrian yang keliatan geli.
"Hai, orang asing. Aku liat tunanganmu nggak ada di rumah dan aku butuh temen, jadi aku mikir, kenapa nggak?"
"Duh, kamu resmi jadi *stalker*. Maaf, ini udah keterlaluan, aku nggak bisa ketemu kamu lagi," aku bercanda sambil mulai nutup pintu. Gila, ekspresinya tuh nggak ternilai harganya.
"Wah, santai, aku cuma kebetulan lagi *jogging* pas liat dia pergi sama temennya. Maaf deh, aku janji nggak lagi," dia panik. Terus aku ngakak.
"Ya ampun, ekspresimu tuh nggak ternilai harganya. Aku nggak percaya aku nggak sempet foto," aku ngos-ngosan karena ketawa.
"Itu nggak lucu," dia cemberut.
"Kapan sih kamu lucu?" Aku ngejek pas dia masuk.
"*Fuck you*!" Dia bilang sambil ngasih jari tengah.
Setelah pizza-ku dateng, kita mulai nonton film. Kita cekikikan, kita ngejekin satu sama lain, dan secara keseluruhan, malem itu menyenangkan.
"Yah, aku agak capek," aku ngomong.
"Sama. Kayaknya udah waktunya aku pulang," dia setuju.
"Oke, makasih buat malem ini lagi. Aku hargain banget. Beneran."
"Sama-sama, senang bisa melayani, Nyonya," katanya.
"Jangan kelewatan, *stalker*," aku ngejek sambil ngebukain pintu buat dia.
"Selamat malam. Dan tolong sampaikan salamku buat tunanganmu," dia senyum.
"Iya deh, terserah," kataku sambil nutup pintu.
Mikirin betapa susahnya aku harus naik tangga, aku nggak jadi dan langsung aja rebahan di sofa dan ketiduran.
Aku kebangun gara-gara suara teleponku. Dengan tangan meraba-raba, aku angkat telepon ke telingaku tanpa liat namanya dan langsung nyesel.
"Hei, *cupcake*, aku butuh bantuanmu," Lexis ngomong cadel, ngehancurin semua harapan buat tidur.