13. Sisi Pelindung Axel
Axel berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong gedung agensi. Pikirannya sudah penuh dengan foto dirinya dan Olivia yang diambil diam-diam. Nama seseorang terukir di benaknya.
Ini benar-benar keterlaluan.
Axel tidak pernah menyangka kalau Joshua bakal sejauh ini. Peringatan dan ancaman Joshua bukan main-main. Apalagi, apa yang dilakukan Joshua itu membawa-bawa nama Olivia.
Dan Axel benci orang yang membawa Olivia ke dalam bahaya apapun.
"Axel!" Dari kejauhan, seseorang yang sangat familiar memanggil.
Axel mengabaikannya begitu saja. Dia sama sekali tidak berniat menoleh atau bahkan menjawab.
Pasti itu Jonathan, manajernya. Beberapa saat lalu, Jonathan sudah berusaha keras menahan Axel agar tidak mendekati Joshua.
Tapi bagaimana bisa Jonathan membiarkan Olivia terseret dalam hal seperti ini? Olivia itu polos bagi Axel, dan tidak pantas menerima kata-kata pedas dari para penggemar.
"Axel! Berhenti! Hei!"
Berisik sekali, batin Axel kesal.
Sungguh, Axel tidak tahu bagaimana cara menjauhkan Jonathan dari masalah ini. Axel tidak akan berhenti kalau sudah menyangkut Olivia. Jonathan tahu itu. Tapi Jonathan tetap ngotot.
Melihat Axel tidak mau berhenti, Jonathan akhirnya mempercepat larinya. Sayangnya, saat Jonatahn baru saja mempercepat larinya, seseorang muncul dari tikungan.
Mata Jonathan membelalak panik.
"Jangan, jangan, kenapa Joshua harus muncul di depan Axel saat ini?" gumam Jonathan gugup.
Dan ternyata benar seperti yang ditakutkan Jonathan.
"Hei, Joshua!" teriak Axel pada Joshua dari kejauhan.
Berbalik dari jarak yang cukup jauh, Joshua mengalihkan perhatiannya pada Axel. Pembicaraannya dengan sang manajer terhenti. Melihat Axel yang berlari cepat ke arahnya, Joshua mengangkat kedua alisnya.
"Halo, Axel. Ada apa-"
Sebelum Joshua menyelesaikan kalimatnya, Axel sudah tiba di depannya dan melayangkan bogem mentah. Itu mengenai sudut bibir Joshua, membuatnya terhuyung keras ke dinding.
Axel memandang Joshua yang memegangi sudut bibirnya. Napasnya terengah-engah sementara detak jantungnya berdebar kencang.
"Lo keterlaluan!" bentak Axel pada Joshua. Tangannya sudah mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.
Manajer Joshua tampak bingung dengan keadaan Joshua. Dia buru-buru menghampiri Joshua dan membantunya berdiri tegak. Tapi sayangnya, tangan Joshua menyentak keras manajernya, memberi isyarat agar tidak memegangnya.
Walaupun manajer Joshua tersentak mundur karena sentakan Joshua, dia tetap melotot ke arah Axel.
Manajer Axel dengan jelas menunjuk Axel.
"H-hei, Axel! Apa yang lo lakuin?" bentak manajer Joshua pada Axel.
Tapi Axel tidak peduli. Dia terus menatap Joshua yang membalas tatapannya. Perlahan, Joshua bangkit sendiri setelah terhuyung.
"Axel, lo mukul gue?" Joshua tersenyum sinis pada Axel. Senyuman yang menantang.
"Lo..." Axel menunjuk Joshua sambil melangkah maju. Jari telunjuknya tepat mengenai wajah Joshua. "Lo yang nyebarin foto gue sama Olivia, kan?"
Masih belum memudar senyum miringnya, Joshua mengangkat kedua alisnya. "Gue? Lo bilang gue yang nge-post?"
Lalu Joshua sengaja berjalan maju satu langkah, menepis jari telunjuk Axel dengan kasar. "Jangan nuduh gue buat sesuatu yang lo gak tahu kebenarannya," lanjutnya menyangkal perkataan Axel.
Axel tertawa dan membuang muka. Lalu, tanpa peringatan, Axel bergegas maju dan mencengkeram kerah Joshua. Ia mendorong tubuh Joshua ke sudut dan menghantamkan ke dinding - lagi.
Tiba-tiba, melihat hal ini memicu kepanikan dalam diri manajer Joshua-Axel. Tapi niatnya untuk menjauhkan Axel dari Joshua jadi gagal. Melihat tatapan mata manajer Joshua seolah ingin mencelakai Axel membangkitkan kecurigaannya.
"Lo adalah..."
"Hei!" Manajer Axel langsung menghampiri manajer Joshua, menahan tubuhnya menjauh. "Jangan macam-macam! Minggir!"
Manajer Joshua membelalakkan matanya ketika tangan Manajer Axel memaksa tubuhnya mundur. Ia membiarkan manajer Joshua agar tidak mendekati Axel.
"Gue bilang bukan gue, bangsat!" kata Joshua, yang mencengkeram kerah Axel.
Axel tidak melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Joshua. Keduanya dalam sekejap tidak mau kalah satu sama lain. Saling mencengkeram kerah kemeja, menggunakan kekuatan mereka sebagai pria untuk saling mendorong tubuh.
"Lo gak bisa bohong!" bentak Axel tepat di depan wajah Joshua.
Mengepal rahangnya, Joshua memasang kuda-kuda. Sambil mengerang, ia menekan keras dada Axel.
"Hei! Ini lo! Gue udah bilang..."
"Jangan bohong sama gue!" bentak Axel sekali lagi. "Bilang, lo yang nyebarin foto gue sama Olivia?! Kenapa lo bawa-bawa nama Olivia?! Dia gak salah apa-apa!"
Karena bentakan Axel, Joshua akhirnya mengerang marah. Kekuatannya untuk mendorong kerah kemeja Axel semakin kuat.
"Lo nuduh gue? Kenapa lo nuduh gue?" Joshua balik bertanya. Ia menepis tangan kanan Axel, melangkah maju, lalu menghantamkan tinju ke rahang dengan sekuat tenaga. "Lo gak punya bukti, bangsat! Mana bukti lo?"
Manajer Joshua membelalakkan matanya kaget saat Joshua terhuyung ke samping. Untungnya, ia tidak mengenai ubin karena tetap menjaga keseimbangannya. Axel langsung tegak lagi tanpa bantuan manajer.
"Lo tinggal ngaku aja, sialan!"
Baru saja Axel berlari ke arah Joshua, hendak membalas pukulannya, Jonathan menghalanginya. Berdiri tepat di tengah-tengah Axel dan Joshua, menahan tubuh Axel.
"Jungkook, Jungkook, udah!" Dengan kekuatan yang kuat, Park Siwon menahan tubuh Jungkook dari depan.
Axel tak mau kalah. Ia terus meronta dan berusaha bergerak maju, melawan arah Jonathan. Sementara itu, manajer Joshua yang sudah bangkit segera mendekati Joshua.
Kedua manajer menahan tubuh masing-masing artis. Tapi Joshua dan Axel tak mau kalah. Mereka melawan pertahanan tubuh masing-masing manajer dan terus mendorong tubuh mereka maju.
"Biarin gue hajar dia! Dia nyebarin foto gue sama Olivia!" seru Axel dengan mata melebar ke arah Joshua.
Joshua tidak terima. "Hei! Kok lo nuduh gue?! Mana buktinya? Lo punya bukti?!"
"Lo hapus buktinya, sialan!" jawab Axel.
Jonathan dan manajer Joshua sudah sangat marah pada mereka. Entah bagaimana, serempak, mereka berdua mendorong dada Axel dan Joshua dengan sekuat tenaga. Memisahkan keduanya lebih jauh tanpa beranjak dari berdiri di tengah mereka.
"Lo!" Jonathan membentak Axel kesal. "Kenapa susah banget dibilangin?!"
"Dia..." Axel mengangkat jari telunjuknya menunjuk Jonathan.
Joshua merasa tersinggung dengan jari telunjuk Axel. "Lo! Jangan nunjuk gue kalau lo gak tahu apa-apa!"
"Tapi lo yang lakuin! Kalau lo benci gue, harusnya lo gak bawa-bawa Olivia!"
Mendengar perkataan itu membuat Joshua tersenyum miring. Ia tertawa sinis.
"Lihat lo kayak gini, gue jadi tahu kalau lo beneran suka sama Hyun-a." Joshua lalu membuang muka menggelengkan kepala. "Aduh, Axel, kenapa sih lo suka sama dia? Gak kelihatan apa kalau anak profesional gak bisa kayak gitu?"
"Jangan bikin gue emosi, Joshua," bentak Axel balik. "Lo gak tahu apa-apa."
Joshua mengangkat kedua alisnya, sudut bibir kirinya terangkat lebih lebar lagi. Melebarkan seringai mengejeknya.
"Tentu saja gue gak tahu. Siapa yang tahu kalau artis dan penata rias pribadinya punya hubungan?"
Emosi Axel meledak seketika. Axel mengepalkan rahangnya.
"Lo pelakunya, sialan!"
Joshua melotot. "Gue udah bilang bukan!"
"AXEL, JOSHUA!"
Baik Joshua maupun Axel langsung membeku seketika mendengar suara yang menggema itu. Kedua manajer mereka langsung melotot dan secara bersamaan berbalik ke sumber suara.
Benar saja.
Itu Bapak Hans, direktur agensi mereka.
Sejak kapan Bapak Hans datang ke gedung agensi ini?!