14. Ancaman Popularitas
"Kalian berdua udah nggak waras, ya? Coba lihat diri sendiri! Setelah gue kasih banyak kesempatan buat tampil, kelakuan kalian kayak gini?!"
Ini adalah tempat di mana Axel dan Joshua berada, yaitu ruangan khusus milik Bapak Hans. Bapak Hans nyuruh mereka datang setelah lihat perkelahian beberapa saat lalu. Tentu aja Axel dan Joshua nggak bisa lanjut berantem.
Kena getahnya Bapak Hans aja udah bikin risiko gede.
Sekarang, Axel dan Joshua nggak bisa ngomong apa-apa. Mereka cuma nunduk setengah badan tapi sorot tajam di mata mereka belum hilang. Kedua hati mereka masih panas dan detak jantung mereka belum berhenti.
Axel berulang kali narik napas dalam-dalam terus dihembusin. Dia nggak mau amarah yang membuncah di dadanya bikin dia hilang kendali.
"Axel, Joshua, astaga. Kalian tuh baru aja tampil di panggung *high fashion*!" Bapak Hans masih ngomel, nyeselin kelakuan mereka berdua.
"Maaf, Bapak Hans, gue nggak ada niat mulai berantem. Bapak Hans kan tahu gue nggak pernah cari masalah," jawab Joshua, berusaha ngehindar dari kesalahannya.
Axel langsung noleh, natap Joshua dengan sinis. "Eh, lo bilang gue yang mulai masalah?"
"Lo duluan yang mukul gue," balas Joshua nggak kalah sengit, natap Axel sama tajamnya.
Jonathan dan manajer Joshua, yang berdiri nggak jauh dari mereka, panik lagi. Mereka berdua udah dipanggil Bapak Hans ke ruangan ini. Dan mereka emang sengaja ada di sana buat nemenin masing-masing artis.
"Gue nggak bakal mulai kalau nggak ada sebabnya," timpal Axel, nadanya makin kesel.
Bapak Hans nutup mata sambil narik napas dalam-dalam. Telinganya langsung awas begitu denger Axel dan Joshua hampir kayak mau berantem.
"Gue nggak pernah jadi penyebabnya," sahut Joshua, memancing emosi Axel.
Axel mau ngebales, tapi suaranya tercekat. Bapak Hans kedengeran ngomong.
"Kalian berdua mau berantem sampai kapan?"
Axel nutup mulut lagi dengan napas tersentak. Dia natap tajam Joshua, yang juga lagi natap dia.
"Mau lanjut berantem? Silakan keluar dari ruangan gue," tambah Bapak Hans sambil nunjuk pintu ruangan. "Kalian boleh balik lagi setelah berantem, dan bawa surat peringatan pemutusan kontrak gue."
Axel dan Joshua langsung melotot barengan.
"Nggak, Bapak Hans, kita nyerah." Entah gimana mereka berdua ngomongnya barengan.
Saat Axel dan Joshua saling pandang bingung, Bapak Hans terpana. Tapi keterkejutannya nggak berlangsung lama. Setelah itu, Bapak Hans jalan muterin meja di belakangnya.
Dia ngambil map dokumen terus ngeluarin selembar kertas entah apa itu. Bapak Hans ngepegang kertas itu sambil narik kursi dan duduk.
"Lihat kertas yang ada di tangan gue? Gue nggak bakal ragu buat mutusin kerja sama sama sponsor kalian..."
"Jangan, Bapak Hans!" Axel dan Joshua teriak barengan.
Kedua kalinya mereka saling lihat-lihatan, kerutan di dahi mereka makin dalem. Sayangnya nggak ada waktu buat mereka ngucapin sepatah kata protes. Sebagai gantinya, Axel dan Joshua ngalihin muka mereka lagi ke Bapak Hans.
"Jangan putusin sponsor gue," Joshua yang pertama memohon. "Ketua kan tahu gue susah payah merangkak. Nggak mungkin Bapak bakal ngelakuin itu, kan?"
"Ketua, susah banget buat dapetin sponsor. Ini hasil kerja keras bertahun-tahun." Kali ini Axel yang ngomong permohonannya.
Bapak Hans ngeliatin Axel dan Joshua bergantian. Manajer Axel dan manajer Joshua menghela napas pasrah. Mereka nggak bisa berhenti mikirin kelakuan mereka. Walaupun nggak bisa dipungkiri kalau mereka berdua saling benci, sebagai manajer, tentu aja mereka takut.
Mutusin kerja sama sama sponsor bisa berdampak pada nama baik. Nanti, kalau sponsor kerja sama sama sponsor lain, nama baik Axel dan Joshua juga bakalan ternoda.
"Baiklah. Gue nggak bakal kasih surat pemutusan kontrak ini ke kalian. Kalian tahu kan apa aja syarat sederhananya?"
Axel dan Joshua ngangguk cepet. Mereka berdua punya tatapan memelas di mata mereka.
Bapak Hans naruh lagi kertas itu dan masukin ke map dokumen. Baru deh Axel dan Joshua bisa bernapas lega.
"Joshua, lo boleh keluar dari ruangan gue. Axel, lo tetap di kantor gue. Gue ada yang mau diomongin sama lo."
Jungkook cemberut, sementara Sungho senyum lebar. Sungho langsung nundukin kepala, memberi gestur hormat.
"Makasih banyak, Ketua Han," kata Joshua.
Bapak Hans nggak ngejawab. Di tempat lain, manajer Joshua ngeliatin Jonathan terus ngasih ekspresi ngejek. Seolah puas karena Joshua dikeluarin duluan dari pada Axel.
Begitu juga, Joshua nyengir puas ke Axel. Hal itu memancing rasa kesal di Axel, tapi dia nggak ngomong apa-apa.
Joshua berdiri sebelum pergi diikutin manajernya. Ninggalin ruangan cuma Axel, Axel-si-manajer, dan Bapak Hans.
Axel udah ngerasa jantungnya berdebar kencang. Pikirannya udah ngebayangin apa yang bakalan diomongin Bapak Hans sekarang.
"Apa... yang mau Bapak Hans omongin?" tanya Axel yang udah berani bersuara.
Bapak Hans berdeham singkat buat nenangin suasana. Walau begitu, tatapan seriusnya bikin Axel nggak nyaman. Nggak cuma Axel, tapi juga Jonathan.
"Axel," panggil Bapak Hans. "Lo tahu kan apa yang lagi terjadi?"
Axel malah mikirin satu hal setelah Bapak Hans nanya gitu.
"Soal gue?"
"Tentu aja soal lo," jawab Bapak Hans. "Emang gue ngomong sama siapa lagi selain lo di sini?"
Kepala Axel nunduk, jari-jarinya sibuk mainin. Tangannya saling bertautan di paha sendiri.
"Axel, apa benar soal kedekatan lo sama salah satu *make-up artist* itu?" Bapak Hans nanya lewat nada seriusnya.
Jantung Axel langsung berhenti berdetak. Axel menghela napas pelan banget.
"Apa lo nggak ngerti kerjaan profesional sama sekali?" tambah Bapak Hans.
Axel nelen ludah, tenggorokannya tercekat. Dia tahu ke mana Bapak Hans akan membawa pembicaraan ini. Karena itu, hatinya sekarang berdenyut nyeri.
Axel sama sekali nggak punya keberanian buat bersuara. Lebih tepatnya, Axel nggak berani dengerin kalau tebakannya soal apa yang bakalan diomongin Ketua Han bener.
"Udah, Ketua," Jungkook mencicit pelan.
Ketua Han narik napas dalam-dalam sambil nyenderin punggungnya ke sandaran kursi. Mata sipitnya nggak lepas dari Jungkook.
"Terus gimana cara lo ngadepin rumor itu?" Ketua Han ngasih pertanyaan lagi. "Coba lihat gue, Jungkook."
Dengan nyali yang sedikit kempes, Axel ngangkat mukanya. Dia lihat tatapan tajam di mata Bapak Hans.
"Nggak tahu, Bapak Hans," jawab Axel, nada penyesalan. "Sebenarnya, gue nggak punya hubungan khusus sama Olivia."
Untuk sepersekian detik Bapak Hans cuma ngeliatin Axel. Intens banget.
"Lo mau bohong sama gue?" tanya Bapak Hans.
Axel tanpa sadar menyipitkan mata dan mengerutkan dahi. Tapi sedetik kemudian dia balik lagi normal.
"Kenapa... gue harus bohong?" tanya Axel, nyisipin kekehan yang kedengeran canggung.
Bapak Hans ketawa meremehkan. "Axel, apa yang udah nyebar itu nunjukkin banget soal kedekatan kalian. Siapa yang nyangka lo sama Hyun-a nggak deket setelah lihat foto-foto kalian?"
Jonathan sadar kalau Axel udah kepepet. Jadi, dia maju dua langkah, dan ngebela.
"Tunggu, Bapak Hans, maaf ganggu. Sebagai orang yang paling deket sama Axel, gue bisa jamin mereka beneran nggak punya hubungan khusus," sanggah Jonathan.
Bapak Hans balik natap Jonathan. "Beneran? Dan sebagai orang yang paling deket sama Axel, kenapa lo biarin mereka ketemu?"
Jonathan cemberut. Dia ketawa, sama canggungnya kayak Axel.
"Emang kenapa sih kalau teman ketemu? Lagian mereka berdua udah biasa kemana-mana barengan. Selama Axel tampil, Olivia pasti selalu ikut."
Axel ngangguk setuju. "Iya, Bapak Hans, bener."
Muka Bapak Hans kelihatan ragu sambil ngeliatin Axel dan Jonathan bergantian. Nggak ada satupun dari mereka yang nunjukkin keraguan. Sayangnya, Jonathan dan Axel diam-diam ngerasain jantung mereka berdebar.
"Lo serius nggak ada kedekatan khusus?"
Jonathan dan Axel ngangguk. Ada jeda buat Bapak Hans mikir, ragu apakah mereka berdua bohong atau nggak. Tapi ngeliat keseriusan di tatapan Axel, akhirnya dia menghela napas.
"Gue nggak percaya sama lo, Axel, tapi gue putusin buat bilang iya. Lo harus ingat sesuatu. Jangan sampai popularitas lo memudar belakangan ini."