25. Pernikahan Mereka (2)
Pernikahan Arleena dan Hugo berjalan khidmat.
Minggu depannya, setelah ganti nama—yang untungnya belum diposting—pernikahan mereka diadakan di gedung tempat Arleena dan Justin akan menikah. Semua tamu yang datang hanya berasal dari orang-orang terdekat.
Itu mudah bagi Bapak Bernard, Ayah Hugo, untuk menyebarkan berita kepada saudara-saudara Hugo yang lain. Tapi tentu saja, tidak sedikit yang terkejut karena Hugo baru saja kembali dari London.
"Ya ampun, Hugo! Gue nggak nyangka lo bakal nikah!" Eva, sepupu Hugo, berteriak antusias saat menyapa pengantin pria: Hugo.
Hugo cuma senyum. Agak ragu berdiri sebagai pengantin pria dan wanita, apalagi persiapannya cuma seminggu.
"Bener. Kenapa tiba-tiba nikah sih?" kata Azura, yang juga sepupu Hugo. Lalu tatapannya beralih ke Arleena. "Apalagi, lo nikah sama Arleena. Ya ampun… kan udah temenan dari kecil, eh taunya udah nikah aja?"
Hugo dan Arleena saling pandang. Sebenarnya itu bukan hal yang diragukan bagi mereka berdua untuk menikah. Tapi karena kedua belah pihak keluarga mereka sensitif seperti ini.
Alhasil, Arleena tertawa, tapi tawanya terdengar agak canggung. "Gue juga nggak nyangka. Kalau tau kayak gini, ngapain juga gue pacaran sama cowok lain?"
Eva dan Azura langsung ngakak. Berbeda dengan Hugo yang entah kenapa merasa geli menggelitik. Hugo tau Arleena cuma bercanda, tapi kenapa jantungnya berdebar kencang?
"Sekarang lo nyesel nggak nerima gue dari dulu," jawab Hugo yang berusaha melempar godaan balik.
Arleena cemberut tanpa berkata apa-apa. Sementara Azura langsung menepuk bahu Hugo.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," desak Azura. "Gimana sih kalian tiba-tiba nikah? Kenapa nggak ada yang kasih tau kita sih?"
Hugo mendesis sambil merenungkan alasan yang bagus untuk menjawab. Dia sudah menduga bahwa dia akan mendapatkan pertanyaan penasaran seperti ini.
"Lo tau nggak sih? Akhir-akhir ini banyak banget orang yang nggak ngasih tau dulu, terus tiba-tiba nikah," jawab Hugo, berusaha menjaga gerak tubuhnya tetap santai.
"Jadi, lo sengaja mau bikin kita kaget gitu?" Azura terlihat kesal karena Hugo menggodanya.
"Betul sekali!" Hugo menjentikkan jarinya. "Surprise. Taa-da! Gue udah nikah, dan kalian berdua nggak tau! Keren banget kan gue?!"
Bukan cuma Azura dan Eva yang memandang Hugo dengan aneh, tapi juga Arleena. Arleena nggak tau ada apa dengan sikap Hugo. Meskipun dia sudah menduga bahwa Hugo sedang berakting, tapi apa dia harus terlihat gila?
Arleena nggak bisa menahan tawanya yang geli sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian nggak usah dengerin Hugo. Dia cuma agak gila setelah pulang dari kerja," katanya, melambaikan tangannya.
Eva dan Azura menganggukkan kepala mereka serempak. Mereka sebentar melihat Hugo melalui tatapan yang terasa aneh. Kemudian kedua wanita itu pergi di depan pengantin pria dan wanita.
"Gue capek banget setelah melakukan upacara, dansa, dan acara lainnya sejak tadi," kata Arleena, menghembuskan napas dengan kasar di akhir kalimat.
Perkataan Arleena membuat Hugo kebingungan bagaimana harus menjawab. Tidak ada kursi, sejak tadi mereka hanya berdiri sepanjang rangkaian upacara pernikahan untuk menyambut para tamu.
Akhirnya, memperhatikan ekspresi putus asa di wajah Arleena, Hugo bertanya, "Mau gue gendong nggak?"
Arleena langsung memelototi sekali spontan meninju lengan Hugo dengan ringan. "Emang gue anak kecil?"
Menggenggam pukulan Arleena sebelumnya, Hugo tertawa kecil. "Cuma nawarin doang. Lagian lo emang anak kecil, kebiasaan ngambek lo nggak ilang-ilang."
"Wah," Arleena tertawa tak percaya, "Lo kelewatan banget deh ngeledek gue, Hugo."
"Terus lo mau ngapain?" Hugo mengejek Arleena dengan sengaja.
Tatapan tajam Arleena bahkan memancing tawa Hugo. Kalau saja bukan karena mereka berada di tengah-tengah pertemuan keluarga dan teman-teman, Arleena akan menendang Hugo sekeras mungkin.
"Kalian pengantin, harus senyum dong," kata Hugo, lalu meraih kedua tangan ke pipi Arleena. Dia membentuk senyuman dari kedua garis bibir Arleena. "Lihat, lo nikah sama gue, jangan nunjukkin kesakitan, sayang."
Mata Arleena membelalak lebar. Sekali lagi, dia spontan memukul tangan Hugo yang sedang memegang dua garis sudut bibirnya.
"Sayang? Lo gila ya-" Arleena hampir berteriak, tapi Hugo segera membekapnya.
Hugo mengamati sekelilingnya sejenak. Memastikan tidak ada yang melihat mereka.
"Diem, bocah. Lo, nggak ngerti sandiwara?" jawab Hugo dengan nada sedikit kesal. Dia senang menyaksikan kepolosan Arleena.
Arleena menampar tangan Hugo yang menutupi mulutnya. Untungnya itu langsung dilepaskan.
"Kenapa harus dibekap sih?!" Arleena mendesis kesal. "Kalau sandiwara, cara lo juga bodoh!"
Alih-alih menjawab kejengkelan Arleena, Hugo tidak bisa menahan tawanya. Wajah cemberut Arleena benar-benar konyol. Sudah lama sekali Hugo tidak melihat ekspresi wajah Arleena yang merajuk seperti sekarang.
"Sst! Jangan marah-marah gitu, lihat," kata Hugo sambil mengalihkan pandangannya, "gimana kalau mereka curiga kita nggak saling sayang?"
Mendengar itu, bibir Arleena mengerucut. Lalu Arleena mendekat ke telinga Hugo untuk membisikkan sesuatu.
"Mereka juga bakal susah percaya kita saling sayang. Nggak masuk akal lo sama gue nggak ketemu, nggak keliatan deketan-"
"Arleena, Hugo, waktu sesi foto nih! Ayo, kalian harus foto sama temen-temen!" Tiba-tiba suara seorang wanita memanggil, pemiliknya adalah Aldeena—ibu Arleena. Di samping Aldeena ada Quinn yang terlihat sangat bahagia di kursi roda.
Fotografer pria mendekat dan bersiap untuk meletakkan kamera di tripod khusus. Kebetulan, Arleena dan Hugo sedikit terkejut karena keluarga—dan beberapa sepupu tiba-tiba berlari mendekat.
"Aduh! Geser dikit, jangan nginjek gaun gue!" Sepupu Axel protes ke sepupu laki-laki Arleena.
"Iya, iya!"
"Gue mau deket pengantin!"
"Eh, yang punya hak buat deket pengantin kan orang tuanya!"
"Apa gue harus jadi orang tua Arleena atau Hugo dulu?"
Hugo langsung tertawa kecil dengan ekspresi muram di wajahnya. "Gue nggak tahan punya orang tua kayak kalian!"
"Eyy, gue juga bakal repot banget kalau punya anak kayak lo!"
Arleena langsung tertawa ketika dia menyaksikan tingkah konyol antara Hugo dan sepupunya. Untungnya, keluarga mereka berdua terbiasa berkumpul selama ini. Jadi, tidak ada interaksi canggung antara sepupu Arleena dan sepupu Hugo.
"KITA MULAI MENGAMBIL GAMBAR, YA?!" seru fotografer pria itu segera setelah memastikan bahwa situasi yang bersemangat perlahan mereda.
Arleena dan Hugo hanya mengiyakan, menunggu beberapa sepupu dan orang tua mereka masing-masing untuk mengambil posisi. Dengan gaya mengangkat kedua tangan ke udara, termasuk Arleena yang memegang buket bunga.
"SATU..."
"DUA..."
KLIK!
Momen pemotretan masih berlangsung cukup lama. Arleena dan Hugo merasa sedikit kewalahan karena mereka menyapa seluruh keluarga dengan antusias.
"KEDUA PENGANTIN, TOLONG DEKATAN!" seru pria fotografer itu sekali lagi setelah mengambil beberapa foto.
Arleena dan Hugo saling memandang dengan canggung. Mereka bingung mau berpose lebih mesra seperti apa?
"PENGANTIN PRIA, AYO RANGKUL PINGGANG PENGANTIN WANITA!"
Hugo tersentak. Dia tidak bisa bereaksi sejenak, sebelum akhirnya mengulurkan tangan. Pandangan Hugo meminta izin pada Arleena agar mereka mengikuti arahan fotografer.
Sementara mereka berdua tersenyum canggung, Arleena membiarkan lengan Hugo melingkari pinggangnya dan kemudian menarik tubuhnya lebih dekat. Tidak ada jarak di antara mereka.
KLIK!
Satu kali potret didapatkan.
Lalu, Arleena mengangkat kepalanya, memandang Hugo yang juga menatapnya melalui mata yang teduh. Pada saat itu, mereka berdua langsung terpana oleh tatapan masing-masing.
"SIAP!" Fotografer memberikan seruan.
Arleena melengkungkan senyum, begitu pula Hugo.
"SATU!"
"DUA!"
"TIGA!"
Begitu kilatan kamera menyala, Arleena tersentak oleh tindakan Hugo—pria itu menciumnya di bibir!