20. Seorang Pengkhianat Akan Tetap Menjadi Pengkhianat
[Erlica Carldon: Kita ketemu di Motel Red Mardona besok malam]
[Ann Rennita: Gak nyangka bakal jatuh cinta sama sentuhanmu]
[Sabrian Adelle: Kayaknya kita harus lebih dari sekadar teman ranjang semalam]
Jijik banget.
Muka Arleena langsung berubah jadi geli setelah baca tiga pesan itu di *screenshot*. Sebentar aja, Arleena natap layar *hape*-nya gak percaya.
"Apaan nih?" Arleena terus tiba-tiba ngakak. "Dia selingkuh sama cewek lain? Bahkan *one night stand* juga?"
Di samping Arleena, Gabriel, naruh cangkir teh di meja. Sebagai orang yang berhasil ngedapetin info tunangan Arleena, Gabriel pasang senyum bangga.
Tepatnya bangga sama dirinya sendiri yang berhasil nyediain info ini.
"Jadi, ini..." Arleena natap satu lagi info. "Lo dapet tanggal dia *check in* hotelnya? Dan... lo dapet bukti reservasi?"
Gabriel naikin alisnya tanda setuju. "Gue kan udah bilang, gue pasti bisa cari tau info tentang dia."
Arleena ketawa miring. Ada kepuasan di wajahnya setelah denger jawaban Naura.
"Lo dapet dari mana?"
"Sepupu jauh. Seseorang yang dateng ke acara keluarga dua minggu lalu. Lo gak pernah ketemu orang itu," jawab Gabriel santai.
Arleena mikir sejenak. Beberapa detik kemudian, setelah inget, wajahnya langsung berseri-seri.
"Oh! Sepupu lo itu? Dia yang ngasih ini ke lo?"
"Dia manajer hotel tempat cowok brengsek—tunangan lo—*check in* sama cewek lain," kata Gabriel, yang sengaja nekenin ucapan 'cowok brengsek'.
Arleena gak bisa nahan senyum geli. Dia terus naruh *hape* Naura buat dikasihin ke pemiliknya. Dengan hela napas santai, Arleena nyenderin punggungnya ke sandaran sofa.
"Ah, ya ampun. Gue udah curiga dari awal," kata Arleena sambil cekikikan, "Firasat gue ternyata bener. Kalau dipikir-pikir, dia asik-asikan nikmatin malam seks sama cewek lain."
"Kesan gak enak?"
Arleena ngelirik Gabriel. "Apaan sih?"
"Gimana perasaan lo sekarang. Sakit gak?" ulangnya.
"Enggak. Harusnya sih sakit, tapi gue udah prediksi ini dari awal," kata Arleena santai. Kayak beneran gak peduli sama fakta yang baru aja didapetin.
Gabriel natap Arleena. Bibirnya membentuk senyum miring, tapi di dalam hatinya, Gabriel marah. Tentu aja dia gak terima liat sahabatnya diperlakukan kayak gini.
"Seminggu sebelum nikah, Arleena. Lo gak sedih sama sekali?" tanya Gabriel lagi. Wajahnya keliatan penasaran banget.
Arleena tau Gabriel cuma niat ngeprovokasi dia. Tapi Arleena gak mau nunjukin perasaan aslinya sekarang.
Walaupun diem-diem, sesak nyelinap ke dada Arleena. Campuran perasaan marah, lega setelah tau kebenarannya, dan gak berharga beradu.
Gimana bisa Arleena, yang udah ngeluarin banyak duit buat kontrak dan resepsi pernikahan, kalah sama cewek *booking*-an?
Arleena udah curiga sebenernya. Tapi tetep aja, setelah tau fakta kalau firasatnya bener, ini sakit.
"Sedikit. Agak sakit," akhirnya Arleena ngaku.
Gabriel lebarkan senyumnya. "Gitu dong. Jangan sok kuat terus. Gue tau lo sakit. Jadi gue punya alasan buat bantu lo balas dendam."
"Gak perlu," tolak Arlerna, mainin sedotan minumannya.
Gabriel hampir kaget sama jawaban Arleena. Ekspresinya langsung berubah jadi khawatir di antara kaget.
"Gak perlu balas dendam?" tanyanya. "Serius?"
Ketawa Arleena lepas. "Enggak, bukan gak perlu balas dendam, tapi... lo gak perlu bantuin gue."
Saat Gabriel mengerutkan kening, Arleena tersenyum senyum tahu. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapan matanya yang natap minumannya sekilas.
"Gue tau cara yang tepat buat bales cowok brengsek itu," kata Arleena percaya diri.
Gabriel natap Arleena, antara penasaran dan gak sabaran. Tapi karena Syerin ngomong gitu dengan nada percaya diri, Gabriel tau: dia gak perlu ragu sama Arleena.
"Oh ya, lusa lo bakalan dateng ke acara keluarga gue bareng keluarga Justin, tunangan gue. Mau liat sesuatu yang menarik, kan?"
Gabriel nyenderin kursinya ke arah Arleena. Tatapan penasaran keliatan di wajahnya.
"Tontonan apa?"
Mata Arleena berbinar nakal. Sengaja mau mancing rasa penasaran Gabriel.
"Sesuatu yang gak bakal bisa dilupain sama semua anggota keluarga," jawab Arleena, yang sama sekali gak ngejawab rasa penasaran Gabriel.
Kesel, Gabriel bikin gerakan seolah mau nonjok Syerin. Sementara Arleena cuma cekikikan di pinggir sambil nyeruput minumannya.
"Kalo mau ngasih tau, jangan tanggung-tanggung dong!" bentak Gabriel udah kesel.
Selesai nyeruput, Arleena ngadepin telapak tangannya ke Gabriel.
"Daripada marah-marah, kasih gue kontak sepupu lo yang jadi manajer hotel itu," kata Arleena.
Gabriel hampir keselek denger ucapan Arleena, bikin Arleena natap dia kaget dan bingung. Mata Gabriel langsung melotot.
"Jangan bilang lo mau nge-date sepupu gue?" tuduh Gabriel to the point.
Beneran, Arleena ngerasa pengen ngejitak kepala Gabriel kalau aja dia inget mereka lagi ada di mana sekarang.
Karena omongan Gabriel selalu aja random, hampir tiap hari Arleena harus nahan diri.
"Lo mau nambah anggota keluarga kayak gue?" tanya Arleena balik.
Polos, Gabriel geleng kepala. "Enggak, gue tau lo emang anjing gila. Gue gak bakal mau setiap ada acara keluarga atau acara keluarga lainnya, gue denger cerita dari sepupu gue soal kelakuan lo."
Arleena gak bisa nahan ketawanya. Dalam sekejap, amarah yang udah bersarang di dadanya memudar.
"Nih, kasih gue nomor sepupu lo. Gue ada urusan penting! Gue ada yang harus diurus buat acara keluarga lusa."
***
Acara Kumpul Keluarga Arleena dan Justin, Dua Hari Kemudian.
Suara *microphone* dari panggung yang lagi diperiksa sama seorang cewek terdengar. Mengalihkan perhatian semua anggota keluarga dan tamu undangan pribadi yang diundang di acara ini.
Suara percakapan berangsur-angsur menghilang. Tamu yang berkumpul dalam posisi duduk atau ngobrol dalam posisi berdiri juga melihat ke satu arah.
Panggung dihiasi dengan bunga dan lampu dinyalain dari dalem kelopaknya.
"Halo semuanya, selamat datang di acara kumpul keluarga Arleena dan Justin." Seorang cewek berdiri di panggung mengenakan gaun merah dengan lengan menjuntai.
"Saya Arleena, sebagai tunangan Justin, saya beneran seneng banget kalian mau dateng. Acara ini diadakan sebagai ajang pertunangan antara dua belah pihak keluarga. Gak cuma inti, tapi juga keluarga besar."
Semua tamu diem. Gak ada satupun yang gak senyum liat Arleena berdiri anggun. Di belakangnya, cahaya memantul kecantikan Arleena kayak dewi di cerita Romawi.
Di antara orang-orang di depan panggung, ada orang tua Arleena bareng sama orang tua Aldo. Jangan lupa Gabriel dan Sessy, dua sahabat terbaik Arleena. Bahkan ada Gibran, sepupu Gabriel yang bantu Gabriel cari tau soal Justin.
Juga, Justin berdiri dengan senyum bangga. Kecantikan Arleena mampu memikat perhatiannya.
"Karena tadi ada sesi pertemuan antara anggota keluarga atau tamu pribadi yang mungkin diundang, sebelum masuk ke sesi makan bersama, saya akan menampilkan sesuatu.
Tampilan ini saya dedikasikan untuk Justin, tunangan saya."
Arah mata Arleena tertuju pada Justin, bikin arah mata lainnya juga ikut bergerak.
Seketika hampir semua tamu bersorak menggoda Justin. Sementara Justin, yang berdiri bareng omnya dan dua sepupunya, geleng kepala. Malu.
Saat mata tamu lain teralih ke Justin, beda sama Gabriel, Sessy dan Gibran yang saling lirik. Senyum miring mereka terbentuk setelah liat reaksi malu-malu Justin.
"Reaksi yang menjijikkan," komentar Gabriel soal Justin sambil bergidik.
Sessy terkekeh. Dia udah tau soal perselingkuhan Justin di belakang. Sessy santai nyeruput minumannya tanpa sedotan.
"Dia gak tau apa yang udah disiapin Arleena buat dia malam ini."
Sementara di panggung, Arleena udah ngasih Gabriel senyum yang berarti.
"Gak sabar ya? Oke. Mari kita nyalain layar proyektornya." Arleena ngasih kode ke Keenan, sepupunya, yang ia minta buat bantuin penampilan.
Keenan melebarkan seringainya, karena ini yang dia tunggu-tunggu dari dua hari yang lalu. Arleena udah cerita semuanya ke dia sebelum minta bantuin penampilannya malam ini.
Layar proyektor dinyalain. Masih nunjukin warna hitam.
Semua tamu keliatan gak sabar dan semangat.
"Penampilan ini spesial buat Justin, seseorang yang udah gue jalanin hubungan selama hampir tujuh tahun," kata Arleena, yang kemudian minggir biar gak ngehalangin layar proyektor.
Setelah layar proyektor item, muncul layar *loading*, sampe akhirnya *loading* udah nyentuh 100 persen.
"Silakan ditonton!" kata Arleena antusias.
Terus layar proyektor nyala.
Di depan semua anggota keluarga Justin dan Arleena, serta beberapa teman dekat mereka, layar ngeblak video.
Kamar kayak kamar hotel. Video diambil dari depan ranjang putih besar.
Senyum Justin perlahan memudar menyadari seorang cewek yang cuma make bra dan kain segitiga nutupin sesuatu di antara selangkangannya.
Cewek itu berlutut di kasur, tangannya terulur seolah mau nyambut seseorang. Gak lama kemudian, muncul seorang cowok yang menyapa kamera sebelum akhirnya merangkul cewek itu, nempelkan bibirnya ke tengkuknya.
Detik berikutnya, di depan semua anggota keluarga di pihak Arleena dan Justin, video nunjukin pemandangan erotis. Perselingkuhan Justin dan cewek *booking*-an.
Suasana hening. Semua tamu saling pandang. Kecuali Keenan dan Gibran, sepupu Gabriel—manajer hotel itu, yang udah tau kalau Arleena bakalan nunjukin video ini.
Justin langsung nyaringin suaranya, "ARLEENA! APAAN ITU?!"
Arleena membentuk senyumnya. Begitu tenang, tapi tajam.
"Ini kan lo, sayang? Tadi malam, pukul sebelas lewat dua belas menit, di Hotel Tree Tycoon."