Bab VI Jari Patah untuk Menyelamatkan Orang
Lauren tiba-tiba ngangkat muka, matanya yang kayak salju langsung natap tajam ke Herbert, raja yang punya kuasa atas hidup dan mati orang lain. Apa dia masih Herbert yang mereka kenal? Sekarang dia penuh tatapan membunuh dan gak punya belas kasihan!
"Lo tahu gue bakal bela dia mati-matian, tapi lo malah nyuruh dia dibunuh. Apa lo mau bunuh gue juga?"
Pupil mata Herbert menyempit dan pedangnya mengarah ke Lauren. "Gue perintahkan lo minggir sekarang juga!"
"Gak mau." Dia bahkan gak ngumpet. Malah, dia ngebuka tangannya dan ngejaga Shaw Joyce di belakangnya.
Dia ngamuk dengan kasar: "Gue rasa lo udah gila!"
"Lo yang gila, Herbert. Lihat darah siapa ini. Lihat siapa dia. Apa lo beneran mau bunuh dia bareng gue?"
Lauren ngulurin tangannya, dan jari-jarinya yang berlumuran darah bergetar hebat. Ini darahnya Shaw Joyce, saudara yang tumbuh bareng dan rela mati buat ngejaga dia!
"Pangeran Kecil berontak dan pantas mati!"
"Kok bisa dia berontak? Herbert, ada apa dengan lo!"
Apa yang sebenernya bikin dia kayak gini, bahkan saudara terdekatnya pun udah gak dipercaya lagi.
Lauren natap dia kayak orang asing, dan akhirnya merangkak di tanah terus ngehantem kepalanya ke tanah. "Hamba mohon pada kaisar untuk menyelidiki kasus pemberontakan Pangeran Kecil secara menyeluruh, dan biarkan hamba menebus darah di depan kuil William!"
Dia tahu, bahkan kalau pemberontakan Pangeran Kecil dipulihkan, kesalahan Pangeran Kecil dan dirinya gak bisa ditebus. Buat ngejaga Pangeran Kecil, dia harus menebusnya dengan darah.
"Gimana cara lo menebusnya?"
Pedang udah keluar, dan para pengawal udah berdarah. Keahlian hebat apa yang Lauren punya buat menebusnya?
"Hari ini, Pangeran Kecil mencabut pedangnya buat membela diri. Kalau Pangeran Kecil gak berontak, dia gak bersalah dalam urusan hari ini. Semua dosa ditanggung oleh istana gue. Istana gue bersedia memotong satu jari hari ini dan meminta kaisar buat menyelidiki pemberontakan Pangeran Kecil secara menyeluruh."
Kata-kata selesai, pisau naik, darah muncrat.
Lauren bahkan gak ngedip dan mengayunkan pisaunya buat motong jarinya.
"Yaohua!"
Di depan kuil William, cuma ada Pangeran Kecil yang hampir pingsan, dan raungan sengit yang hampir gila.
Para prajurit dan pejabat kekaisaran begitu ketakutan sampe mereka semua merangkak di tanah dan gak berani napas. Lauren, Permaisuri, motong jari kelingkingnya!
Pupil mata Herbert menyempit, dan matanya tertuju pada jari kelingking yang terpotong di atas lempengan marmer. Dia rela motong satu jari buat Shaw Joyce. Dia gila, dia gila!
Dia mencabut pedangnya dan mengarahkannya keras ke Lauren. Dia beneran pengen ngebunuh dia pake pedang. Dia di depan kuil William, motong jarinya buat laki-laki lain. Dia mau mati!
"Minta belas kasihan dari kaisar!"
Wajahnya memutih, tapi matanya berapi-api. Darah udah ngalir dari jari kelingkingnya yang terpotong, mewarnai roknya merah, kayak bunga poppy yang mekar.
Mata Herbert cuma tertuju padanya, dan bagian dasarnya hampir berdarah.
"Kalau kaisar merasa belum cukup, hamba bersedia..." Lauren tiba-tiba ngegoyangin tubuhnya dan pingsan ke tanah.
Herbert ngebuang pedang di tangannya dan setengah berlutut di tanah buat ngangkat dia. Dia ngebuka matanya lagi dengan lemah. "Gue mohon kaisar buat berbelas kasihan dan mengampuni Pangeran Kecil."
"Lauren!"
Dia nggeretakin giginya dengan marah, dan dia dalam bahaya. Dia masih mikirin Shaw Joyce, sihir apa yang Shaw Joyce punya!
"Gue mohon!"
Dia ngulurin tangannya dan megang tangannya. Herbert nundukin matanya. Tangan gioknya yang halus dan sempurna udah kotor kena darah, dan jari yang terpotong udah putus. Darahnya masih netes.
Mata dalamnya menegang. "Masukin Pangeran Kecil ke penjara, biarin dia diadili lagi, dan biarin semua dokter kekaisaran masuk istana segera. Cepat!"