Bab 14: Apakah Kamu Tidak Ingin Punya Bayi Denganku?
"Cinta aku?" Dia mengulangi.
"Iya." Aku menyentuhnya di dadanya, "Aku suka banget badan kamu, otot perut kamu, dan bokong kamu."
Aku bersumpah, **Elias** kayak pengen ngelempar aku ke tanah setelah denger itu.
Begitu di mobil, aku duduk miring di kursi penumpang sementara dia memasangkan sabuk pengaman ke aku sebelum masuk ke kursi pengemudi.
Hari ini dia pake sweater turtleneck putih tipis. Dia punya aura sensual yang bikin terpukau meski cuma pake pakaian simpel gitu.
Nonton dia kayak gini, sebuah sosok perlahan muncul di pikiranku...
"Kenapa kamu terus-terusan natap aku?" Dia bertanya.
Aku mendekat ke dia, "Karena kamu keliatan cakep."
Dia mulai nge-blush lagi setelah aku godain, tapi dia tetep ngeluarin tangan, mendorong kepalaku menjauh, dan bilang, "Duduk diem. Aku nyetir."
Pas kita sampe rumah, **Elias** naruh aku di sofa dan pergi buat ngisi air di bak mandi.
Pas dia lagi nyalain air, aku jalan ke kamar mandi. Pas aku liat dia lagi jongkok di depan bak mandi, aku gak ragu buat meluk pinggangnya dan berbisik lembut di telinganya, "Sayang."
Dia berusaha menghindar tapi gagal, telinganya merah, "Berhenti main-main."
"Aku gak main-main." Aku meluk lehernya, mataku berkaca-kaca, "Aku seneng, seneng..."
"Seneng karena apa?" Dia bertanya.
"Aku seneng akhirnya kita nikah, dan aku seneng... seneng banget orang yang udah ninggalin aku dulu juga akhirnya ditinggalin."
Tangan besar dan hangat membelai wajahku dan menyeka air mata dari wajahku.
Suara rendah **Elias** terdengar di telingaku, "Kenapa kamu nangis kalau kamu seneng?"
"Karena kamu dateng ke aku."
Mata **Elias** jadi lebih lembut, "Kalau aku gak dateng ke kamu, siapa lagi?"
"Iya, makanya aku paling cinta kamu." Aku memegang wajahnya dan mau cium dia pas tiba-tiba aku mual. Aku muntah di bak mandi.
**Elias** natap aku dengan tatapan membunuh.
Pas aku selesai mandi, **Elias** nyerahin aku semangkuk sesuatu yang bau dengan wajah serius.
"Minum ini."
Aku mundur jijik, "Apa ini? Baunya gak enak banget."
"Minuman penawar mabuk."
"Aku udah gak mabuk." Aku gak mau minum cairan menjijikkan ini.
Dia duduk dan bilang, "Kamu punya waktu satu menit buat minum itu."
Sejak kapan dia yang nyuruh-nyuruh aku? Aku mau bales, tapi pas aku liat wajah seriusnya, aku agak gugup entah kenapa, jadi akhirnya aku gigit bibir, ngambil mangkuknya, dan nelan minumannya dengan mata tertutup.
"Pahit." Aku cemberut, "Minuman apaan ini? Kok bisa lebih pahit dari sawi pahit?"
"Kamu pernah makan sawi pahit?" Dia memutar matanya ke arahku, ngeluarin permen mint dari entah mana, dan nyerahin ke aku, "Buka mulutmu."
Aku buka mulut buat makan permen mint itu sementara lidahku gak sengaja ngejilat ujung jarinya.
**Elias** tersentak dan narik tangannya, natap aku gak percaya.
Aku pura-pura gak liat dan fokus sama permennya.
"Oke, udah malem, aku mau tidur." Dia mau tidur pas aku narik dia balik.
Aku natap dia dengan mata ngantuk, "Temenin aku malem ini."
Dia ngangkat alisnya, "Kamu gak janji kita bakal tidur di kamar terpisah? Kamu mau ingkar janji?"
Sebenarnya, **Elias** nyaranin kita tidur di kamar terpisah karena takut aku maksa dia tidur sama aku.
Setelah tidur sama aku dua kali, cowok ini malah ngasih saran kayak gitu.
Aku gak setuju di awalnya. Gimana bisa pasangan tidur di kamar terpisah? Tapi cowok ini dikenal keras kepala banget jadi aku gak bakal dapet apa-apa kalau aku harus tawar-menawar sama dia.
Jadi, aku sementara setuju dan berencana buat ubah pikirannya perlahan.
"Aku gak berusaha ingkar janji, cuma..." Aku lagi nyari alasan pas angin berhembus kencang di luar. Jelas banget kalau badai mau dateng. Aku meluk lengannya kayak koala, "Aku takut petir."
Belum selesai aku ngomong, kita denger suara gemuruh petir.
Bahkan langit pun ikut bantu aku.
**Elias** ngeliat ke luar jendela sebentar, terus natap aku, dan akhirnya menghela napas, "Kalau gitu aku bakal nemenin kamu sampe kamu tidur, dan aku bakal balik ke kamarku."
"Oke deh, sip."
Aku nepuk kasurnya dan ngangkat alis ke arahnya, "Sini."
Dia ragu-ragu sebentar dan ngelepas jaket yang dia pake.
**Elias** emang orangnya rapi banget. Dia gak pernah tidur di kasur bahkan pake jubah tidurnya. Aku udah beliin dia banyak piyama cowok dan aku milih kebanyakan yang model V-neck biar bisa nikmatin tubuhnya yang bagus. Begitu dia gerak sedikit, aku bisa liat pemandangan yang indah.
Tapi...
"Sejak kapan kamu ganti piyama?" Aku depresi.
Dia pake piyama kotak-kotak dan ngebungkus dirinya begitu ketat sampe antusiasme ku hilang seketika.
Pemandangan indahnya udah gak ada.
Dia ngangkat selimut dan naik ke kasur. Setelah mikir sebentar, dia ngambil bantal panjang dan naruh di tengah. Aku marah sekaligus geli ngeliat dia ngelakuin ini.
"Sayang, kamu ngapain?"
Dia ngelirik aku, "Buat jaga-jaga."
Aku mikir dalam hati, "Oke, aku harus kasih kamu penghargaan suami paling setia."
Aku ngelempar bantalnya ke samping, mendekat ke dia, dan ngedipin mata ke dia, bercanda, "Gimana caranya kita punya bayi kayak gini?"
**Elias** narik napas dalam-dalam, "Cuma itu yang ada di pikiranmu?"
Apa lagi?
Apa lagi yang akan dipikirkan pasangan kalau mereka gak mikirin hal ini? Apa aku punya suami cuma buat dipajang sebagai karya seni di rumahku? Aku gak tahan cuma nonton tanpa nyentuh dia.
"Kita obrolin deh." Aku menyarankan, "Walaupun kita nikah karena perjanjian, kita adalah pasangan sah dan diizinkan buat ngelakuin hal-hal yang sah, kan?"
**Elias** gak jawab tapi langsung beraksi.
Pas aku liat diri sendiri yang udah terbungkus rapi, aku menatapnya dengan getir, "**Elias**, kamu bukan laki-laki."
"Kamu laki-laki kalau aku bukan laki-laki?" Dia balas nyolot.
"Aku jauh lebih laki-laki daripada kamu." Aku mendengus.
**Elias** keliatan biasa aja, gak terpengaruh sama kata-kata ku. Dia nepuk kepalaku, "Kamu gak bilang kamu ngantuk? Tutup matamu dan tidur."
"Nyanyiin buat aku dong." Aku sengaja minta.
"Nyanyi?" Seperti yang diharapkan, dia mengerutkan keningnya, "Lagu apa?"
"Lagu apa aja. Dulu waktu kecil, ibu ku bakal nyanyiin lagu pengantar tidur pas ada petir dan hujan, kayak 'Tidur Lebih Awal'. Kamu tau gak?"
Dia jawab cepat, "Enggak."
"Gimana sama 'Lima Monyet Kecil'?"
Dia bilang dengan wajah serius, "Enggak, juga."
"Gimana sama 'Laba-laba Kecil'?"
"Enggak."
"Kok kamu gak ada yang tau sih? Kamu punya masa kecil atau enggak sih?" Aku bercanda.
Sebenarnya, aku cuma ngomong gitu aja, tapi **Elias** keliatan muram pas denger itu. Dia kayaknya teringat masa lalu yang gak enak dan dia ngerasain otot-ototnya mengeras, dengan beberapa emosi yang gak diketahui di matanya.