Bab 55: Anakku Membantu Orang Asing Itu, Bukan Aku
Anakku bikin hatiku cenat-cenut.
Tapi aku gak tega marahin Nicholas, jadi aku cuma bisa ngamuk ke Elias, "Tolong jangan deket-deket aku lagi, jangan rusak hubungan aku sama Nicholas."
Elias sama sekali gak kesel denger omonganku yang nyinyir, malah dengan santainya nyiapin telur rebus buat aku, "Kesukaan kamu."
Aku singkirin telurnya pake garpu, "Aku udah gak suka lagi."
Dia kaget.
"Kamu pikir selera dan kesukaanku gak berubah dalam lima tahun terakhir? Makanan favoritku sekarang sunny-side-up, yang dibuatkan Ian buat aku."
Aku sengaja menekankan kata "Ian".
Bener aja, pas dia denger nama Ian, mukanya yang tenang langsung jadi cemberut.
Dia marah.
Aku lanjut, "Aku sadar Ian itu yang terbaik buat aku dalam lima tahun terakhir. Soalnya, dia cinta pertamaku pas kuliah, dan dia paling ngerti aku."
"Cukup." Elias memotongku, "Aku ada kerjaan. Nanti kalau kamu udah selesai makan, aku balik lagi buat beresin."
Abis itu, dia pergi tanpa nunggu Nicholas minta dia buat tetep di situ.
Ngeliat punggungnya, harusnya aku seneng banget, tapi aku sama sekali gak bahagia.
Aku menghela napas.
Apa yang lagi aku lakuin?
Beberapa hari berikutnya, Elias dateng ke rumahku tiap hari buat masak, nyuci baju, dan ngepel lantai. Dia malah lebih kayak ibu daripada ibuku sendiri.
Aku mikir, kenapa dia gak ada kerjaan lain sebagai pewaris harta melimpah?
Apa dia beneran mikir dia lagi main drama romantis?
Ngeliat dia naruh sepiring buah potong di depanku, akhirnya aku gak tahan buat bilang, "Elias, kamu banyak banget waktu luang ya?"
Aku ngomongnya sarkas, "Aku gak sanggup deh, Young Master dari Silva Consortium, ngerjain kerjaan rumah buat seorang presiden gak terkenal kayak aku tiap hari."
"Jacqueline," katanya pasrah, "Kapan sih kamu mau ngomong baik-baik sama aku?"
Aku buang muka dan mikir dalam hati "Kenapa aku harus ngomong baik-baik sama kamu? Emang kamu pantas?"
Elias kayaknya mau ngomong sesuatu lagi, tapi bel pintu bunyi, dan dia langsung berenti dan buka pintu.
Pintu kebuka dan suara Ian masuk, "Nicholas, Ayah beliin kamu mainan..."
Suara Ian tiba-tiba berhenti.
Aku gak bisa liat "pertempuran" mereka di ruang tamu, tapi aku tau kalau mereka berdua lagi gak enak hati tanpa mikir panjang.
Mereka ketemu sebagai saingan dan gak bakal ramah satu sama lain.
Aku nunggu kucingnya loncat di sofa.
Jujur, aku udah keabisan kata-kata pas aku ngebuli Elias.
Kedatangan Ian malah bikin aku semangat.
Aku lagi gigitin apel sambil diem-diem ngeliatin mereka berantem.
Tapi aku kecewa.
Mereka gak langsung berantem, apalagi ngomong kasar.
Malah, mereka berdua sopan banget.
Elias tersenyum tipis dan bilang dengan sopan, "Tuan Yates, selamat pagi. Apa sudah sarapan? Kalau belum, ada sisa di panci. Nanti saya ambilkan."
Aku speechless.
Sisa... Apa dia lagi nyindir Ian?
Gimana bisa seorang bangsawan kayak gitu kekanak-kanakan?
Tapi Ian juga gak mau kalah, "Gak usah, makasih. Saya udah makan. Saya libur hari ini dan mau main sama Nicholas."
"Nicholas masih tidur." Elias keliatan nantangin, "Saya sama Nicholas main game sampe malem tadi."
Aku pegang keningku.
Ya, mereka emang "berantem".
Tapi caranya aneh.
Aku kayaknya ngerti, gak peduli seberapa dewasa dan stabilnya seorang pria, dia bakal jadi kekanak-kanakan kalau cemburu.
Mereka selesai sapa-sapa dan natap aku serentak seakan nunggu keputusanku.
Aku batuk pelan, "Ian, jangan beliin Nicholas mainan terus. Kamu udah beliin dia banyak banget mainan."
Ian tersenyum ramah, "Nanti saya perhatiin lagi."
"Kenapa kamu ada waktu buat mampir hari ini? Apa udah selesai dekor rumah barumu?"
"Hampir selesai."
"Bagus. Nanti kalau kamu pindahan, aku ajak beberapa temen buat ngerayain."
"Oke."
Ngeliat kita ngobrol kayak gak ada orang lain, seseorang yang berdiri di samping jadi cemburu, "Saya mau bangunin Nicholas buat sarapan." Dia sengaja biar diperhatiin.
"Gak usah." Aku nolak, "Kamu boleh pergi sekarang."
Elias natap aku gak percaya seakan aku ini "perempuan tak berperasaan" yang udah pake dia dan kemudian ngebuang dia tanpa ampun.
Ian diem aja sambil senyum tipis.
Suasananya agak bikin sedih.
Butuh waktu lama sebelum Elias ngomong, "Kamu mau aku pergi?"
"Iya." Aku bilang dengan tegas.
Elias ngelirik Ian dan kemudian ke aku, akhirnya ngangguk, berbalik, dan pergi.
Begitu dia pergi, Ian naruh mainannya dan jalan ke sofa dengan muka serius, "Jacqueline, ada apa ini? Kenapa dia di sini?"
Aku gak ngomong apa-apa.
"Kamu..." Dia ragu-ragu dan ngerendahin suaranya, "Kalian berdua mau balikan?"
"Gak." Aku langsung menyangkal.
"Masa sih?" Ian tertawa agak sedih, "Tapi dia udah di rumahmu."
"Aku keseleo."
"Kenapa kamu gak bilang aku duluan waktu kamu keseleo? Kamu kan benci dia? Kenapa kamu mau biarin dia nongkrong lagi di depan hidungmu?"
Dia natap aku dengan muka serius dan tulus, "Jacqueline, apa kamu emang belum move on dari Elias?"
Gak gampang buat lupain seseorang.
Tapi bukan berarti aku gak bisa.
Aku cuma butuh waktu.
"Jangan bahas ini lagi, oke? Aku janji sama kamu kalau aku dan Elias gak akan pernah ada hubungan apa-apa lagi."
Ian bilang dengan suara dalam, "Memang, kalian gak bisa ada hubungan apa-apa lagi, dan udah waktunya mengakhiri pernikahan."
Aku bingung.
Dia natap aku, "Kamu gak tau itu? Elias mau tunangan sama Tina Charleson dalam tiga bulan lagi."
Aku makin merasa kayak lelucon.
Elias, gimana sih caranya kamu bisa nusuk hati aku pelan-pelan dan nyakitin harga diri aku?
Dia gak balik buat minta maaf. Dia balik cuma buat tetep baik sama aku pas kita pisah dan buat bawa Nicholas pergi kalau memungkinkan.
Dia berharap!
"Jacqueline, kamu gak apa-apa?" Ian nanya aku hati-hati.
"Aku baik-baik aja." Aku ngencengin gigi, "Aku gak bisa lebih baik lagi."
Ian pergi setelah makan malam di sini.
Dia yang masak makan malamnya.
Nicholas jadi pilih-pilih setelah makan makanan yang dibuatin Elias selama beberapa hari.
Ian biasanya bercanda sama Nicholas, dan hari ini dia nanya seakan gak sengaja, "Nicholas, gimana iga babi lada garam yang Ayah bikin?"
"Enak."
Sebelum Ian bisa bernapas lega, anak kecil itu nambahin, "Tapi Om Ian, aku gak bisa bohong. Menurutku, iga babi lada garam buatan Om Elias malah lebih enak."