Bab 22: Pria-ku Tergantung Padaku
Denger kata-kataku, napasnya Elias berhenti sesaat. Mungkin dia kesel, dia tiba-tiba bangun waktu aku takut jatuh terus meluk dia sebadan, nempel kayak kukang.
"Jadi... Kamu mau main yang agak seru, ya?" Aku senyum sambil kakiku ngerangkul dia, "Sayang, ayo ke kamar."
Elias gendong aku dan bawa aku masuk kamar dengan gampangnya.
Aku pikir waktunya pas dan dia gak bakal punya keraguan atau penolakan lagi, tapi malah dia malah mau pergi setelah naruh aku di kasur.
Hah?
Dia berhenti di titik tanpa balik?
Dia pendeta yang gak pernah gituan?
Aku narik dia balik, pasrah, "Elias, kamu biksu? Aku cewek cantik gini kamu gak peduli."
Elias nutupin aku pake selimut, "Kamu udah minum banyak anggur, cepetan tidur."
Gimana bisa tidur?
Aku pengen nendang mukanya.
Aku tau kenapa Elias gak tidur sama aku. Dalam artian, dia tanggung jawab sama aku. Tapi tanggung jawab ini konyol banget buatku.
"Elias, kamu pikir aku bakal ninggalin kamu, makanya kamu takut tidur sama aku?"
Dia mengerutkan dahi, kayak gak nyaman sama apa yang aku omongin.
Aku ngomongnya beda, "Kamu takut kita akhirnya pisah, makanya kamu gak mau punya banyak ikatan sama aku dan kamu takut aku hamil anak kamu, kan?" Aslinya, aku pengen nambahin, "Kalo kamu takut gitu, sekarang banyak banget kok alat kontrasepsi, kamu gak perlu khawatir sama sekali."
Tapi, sebelum aku selesai ngomong, dia udah ngaku, "Iya."
Iya apa?
Aku gak bereaksi semenit, dan setelah aku bereaksi kalau dia jawab aku, aku ngerasa kesal dan benci. Aku pikir aku yang terbaik di dunia bisnis, aku bisa dapetin angin dan hujan, tapi sama Elias, aku cuma bisa nyerah.
"Jacqueline, ini bukan waktu yang tepat." Kamar cuma ada lampu tidur redup dan mukanya ketutupan kegelapan.
Aku gak bisa liat ekspresinya, tapi keseriusan dan rasa bersalah dalam kata-katanya nyata banget.
"Aku denger apa yang orang-orang itu omongin di rumahnya Nellie."
Aku langsung nyalain lampu dan biarin dia liat mataku, "Aku, Jacqueline, bersumpah demi Tuhan kalau aku sama sekali gak ada niat buat bohongin kamu. Aku beneran mau nikah sama seseorang dan kebetulan kamu yang aku cari. Mungkin kita masih harus banyak usaha sekarang, tapi yakinlah kalau kamu bukan yang mereka sebut 'mainan'.