BAB 6
Mereka melewati Kota Willow dan di sana walikota sedang menunggu dengan kereta kudanya. Dia sudah dengar cowok itu ikut dengan mereka. Kereta walikota ikut bergabung dan perjalanan mereka dimulai. Dengan naik kuda, butuh sehari penuh buat sampai ke ibu kota, tapi dengan cara Sang Santa bepergian, dia bakal butuh waktu berhari-hari buat sampai sana. Dia selalu benci kalau terburu-buru.
Mereka menghabiskan seharian penuh di jalan dan berhenti di kota lain tempat mereka sudah memesan seluruh penginapan untuk malam itu. Penjaga sudah dikirim lebih dulu buat mengintai tempat itu dan memastikan gak ada kejutan. Ada sekte lain yang pengen lihat gunung itu runtuh.
Dia ngelihat Nora dan dia ngangguk. Untungnya buat dia, dia tahu banget apa yang dia maksud.
"Aku akan pergi dan nyiapin kasurnya," katanya ninggalin dia di dekat kereta.
Dia buka pintu dan dia ngelihat dia tanpa senyum.
"Tolong, jangan marah lagi sama aku. Aku bakal lakuin apa aja biar kamu bahagia," dia memohon.
"Keluari aku dari sini dulu," katanya sambil mengulurkan tangannya dan dia ambil.
Dia bantu dia turun dari kereta dan genggam tangannya.
"Kamu mau masuk ke dalam?" dia tanya.
"Kalau aku gak masuk, mau ke mana lagi emangnya?" dia tanya sambil ngelihat dia.
"Aku punya ide. Ayo," katanya.
"Kita mau ke mana?"
"Cuma dekat kok dan aku bakal ajak para penjaga," katanya dan nuntun dia ke tempat yang dia mau.
Enak banget bisa genggam tangannya selama beberapa menit. Dia benci kalau terburu-buru jadi bahkan cara mereka jalan pun penuh perhatian. Orang-orang biasa pada ngeliatin, tapi dia gak peduli. Dia lihat tempat yang dia cari dan lepas.
"Aku bakal cari tempat duduk, jangan ke mana-mana," katanya dan buru-buru pergi.
Dia nemuin manajer dan ngasih dia dua lembar emas.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan," kata cowok itu.
"Kasih aku salah satu tempat duduk terbaikmu," kata Xavier.
"Siap," kata cowok itu dan Xavier balik lagi buat jemput nyonyanya.
Dia nuntun dia melewati orang-orang dan berharap gak ada yang kepikiran buat ngelakuin hal bodoh. Dia gak mau lihat pertumpahan darah sama sekali.
Cowok yang baru dia bayar itu nunjukin mereka ke kursi depan dan dia bantu dia duduk.
"Gak nyaman sih, tapi cukup lah," katanya.
"Karena kamu udah lama gak keluar, aku pengen kamu nonton wayang kulit. Aku harap kamu suka," Xavier jelasin.
"Aku harap aku suka, atau aku bakal hukum kamu lebih berat karena udah bikin aku batal istirahat," dia ngasih salah satu ancamannya.
"Kamu bakal nikmatin kok," dia yakinin.
Wayang kulit dimulai; ceritanya lumayan seru. Itu cerita cinta kaisar sebelumnya; dia cowok hebat dan punya banyak selir. Suatu hari dia pergi ke kota dengan menyamar dan dia jatuh cinta sama seorang penyanyi.
Dia punya suara paling indah yang pernah dia dengar. Dia bawa dia balik ke istana dan ngejadiin dia selirnya. Mereka berdua saling cinta, tapi selir yang lain cemburu dan ngelakuin segala macem buat nyelakain dia.
Maisuri bahkan ngasih dia racun yang bikin dia mandul. Kaisar marah banget sampai dia marahin Maisuri, tapi gak ada yang bisa dilakukan.
Mereka semua pengen Kaisar berhenti cinta sama penyanyi itu, tapi cintanya ke dia malah makin besar. Kaisar bahkan naikin jabatannya sampai pas dia meninggal dia jadi Janda Permaisuri Agung.
Cewek itu yang pegang jabatan tertinggi di istana kerajaan sekarang. Cerita itu bikin dia mikir kalau apa aja bisa terjadi selama kita cukup tulus.
Dia mau bilang ke Sang Santa tentang perasaannya. Dia bakal terima semua konsekuensi asalkan dia kasih tahu dia. Dia ngelihat dia dan lihat ekspresi di wajahnya. Jarang banget lihat wajah dia penuh emosi kayak gitu. Dia harus ajak dia pergi sebelum sesuatu terjadi.
"Ayo pergi sekarang. Kayaknya makan malam udah siap dan kamu pasti laper," katanya dan dia ngelihat dia.
"Kita harus pergi, aku udah cukup lihat," katanya dan mulai berdiri.
Dia berdiri bareng dia dan genggam tangannya dan nuntun dia pergi dari orang-orang.
Mereka gak ngomong sepatah kata pun balik ke penginapan, dia gak tahu harus ngomong atau ngapain apalagi setelah semua itu. Pas mereka sampai di penginapan tempat Nora udah nunggu dengan cemas, Sang Santa berhenti dan ngelihat dia.
Dia pikir dia bakal marahin dia dan hukum dia lebih berat bikin dia sedih, tapi dia malah senyum ke dia. Dia udah gak lihat dia senyum selama berhari-hari, tapi dia malah ngelakuin itu sekarang.
"Ikut makan malam," katanya sambil masuk ke dalam.
Masih gak percaya sama apa yang baru aja terjadi, Nora nepuk pundaknya dan bilang, "selamat ya, dia udah maafin kamu."