Bab 14
Nendang-nendang batu di jalan sambil tangan disilang ke belakang, gue ngedumel nggak sabar. Udah nunggu lama banget, dan Wales belum keluar juga.
"Akhirnya," gue nghela napas lega banget, terus jalan ke dia pas dia keluar dari pintu belakang.
Gue pulang dari sekolah, terus nyuruh Wales nemuin gue di belakang buat ngambil buku catatan keluarga. Dia telat bikin gue khawatir, gue kira ada yang lihat dia ambil buku itu. Gue mutusin nggak masuk ke dalam, soalnya kalo ada yang lihat gue keluar dari akademi pas jam pelajaran, gue yakin bakal kena masalah. Ayah pasti nggak suka, soalnya dia pengen banget gue lulus sekolah, dan di sinilah hidup gue berubah. Tapi nggak ada yang lebih penting dari tujuan balas dendam gue. Gue nggak nyamar cuma buat ayah, gue setuju dan ngelakuin semuanya buat balas dendam atas kematian orang-orang yang gue sayang. Dan itu cuma bisa dilakukan kalau gue ganti identitas.
Ngambil buku dari Wales, gue bersihin sampulnya dari sarang laba-laba. Kayaknya nggak pernah dipake. Gue buka bukunya nggak sabar, terus ngebalik-balik halamannya sampai mata gue berhenti di nama WenLing.
Sekarang seratus persen yakin kalau ayah gue bukan orang biasa.
Megangin buku berat itu lebih erat, gue angkat biar bisa lihat lebih jelas. Pas gue perhatiin, ada tulisan 'anak tiri' di samping namanya, dan tanggal dia masuk istana ditulis di bawahnya.
Semua yang udah yakin di pikiran gue, jadi berantakan lagi.
Ayah kandung gue adalah saudara dari ayah tiri gue?
Apaan nih, gue nggak pernah tahu soal ini, bahkan nggak ada yang nyebutin soal ayah gue, bahkan ibu?
Apa dia tahu semua ini dari awal?
"Ayah lo kerja di sini dulu, kan?" Gue ngelihat ke arah paman Wales yang lagi merhatiin gue, alisnya berkerut penasaran.
"Iya."
"Apa ayah lo pernah nyebut-nyebut soal WenLing?" gue nanya, nungguin jawabannya nggak sabar.
"Gue sih pernah denger ayah cerita soal dia, tapi kita jarang ketemu, jadi nggak banyak ngobrol," suaranya pelan di akhir kalimat, bikin gue nggak enak karena nyungkit topik soal ayahnya yang udah nggak ada.
"Eh, maaf ya, lo nggak usah cerita soal ini."
"Nggak, nggak apa-apa kok," dia ngebuang omongan gue dengan santai, sambil pasang senyum di wajahnya. "Gue rasa ayah gue deket banget sama Tuan WenLing, dia sering muji-muji dia kalau kita ngobrol."
"Lo pernah lihat dia?" gue nanya, maju selangkah karena tertarik.
"Nggak, gue baru di sini beberapa bulan sebelum lo dateng."
"Serius? Gue kira lo udah lama gabung. Terus gimana dengan ayah lo?"
"Dia meninggal beberapa minggu setelah Adipati WenLing meninggal."
"Ohh," gue maju selangkah, terus nyolek bahunya, bikin dia keluar dari lamunannya setelah lama diem. "Umur berapa lo pas dateng ke sini?" sambil naruh tangan di bahunya, kita jalan bareng.
"Waktu umur delapan belas," dia ketawa pelan.
"Wah, sekarang gue ngerti kenapa lo selalu nyuruh gue manggil lo abang," gue ketawa keras, dan dia ikutan. Setiap kali gue manggil dia paman Wales, dia selalu nyuruh gue manggil dia abang, tapi gue nggak pernah ngelakuinnya sejak saat itu, karena gue suka banget waktu dia mohon-mohon biar gue nggak manggil gitu, tapi akhirnya jadi kebiasaan manggil dia paman.
"Dan akhirnya gue nyerah," dia senyum, kita berhenti. Gue lepasin tangan gue dari bahunya, gue lihat dia sambil senyum lebar. "Gue selalu bersyukur lo ada di samping gue," suara gue lirih, gue maju, meluk dia erat-erat. "Gue nggak ngerasa kesepian cuma karena ada lo."
"Sama, adik kecilku," dia cekikikan.
Ngelepasin pelukan Wales, gue mundur dan ngeliatin dia, dia nepuk kepala gue, bikin rambut gue berantakan, sementara mata gue masih merhatiin dia.
"Mau gue temenin ke Gunung Tian?" dia nawarin, suaranya khawatir.
"Gue bisa sendiri kok," mundur sambil tetep merhatiin dia, senyum gue nggak lepas dari wajah, dia beneran abang yang semua orang butuhin. "Gue pergi dulu ya," gue dadah.
"Hati-hati ya," dia teriak, balas dadah.
"Iya, lo juga hati-hati. Gantiin bukunya tanpa ninggalin petunjuk, dan makasih paman Wa... Nggak... nggak... abang Wales," cekikikan, gue balik badan buat mulai perjalanan ke gunung.
Berhenti di tengah jalan, gue nengok lagi ke belakang, ini udah keempat kalinya gue ngelakuinnya, buat nanggepin firasat gue yang bilang ada yang ngikutin. Jalan lagi, gue berhenti mendadak dan balik badan, mata gue bergerak ke segala arah di belakang buat ngecek.
Balik badan, gue lari ke gang sempit yang berlawanan secepat kilat.
Ngesot di tembok bata, gue pegang kerah baju, berusaha nutupin gaun hitam yang gue pake.
Nyangga kepala di tembok, gue lihat ke kiri, sudut bibir kanan gue bergerak pas mata gue ngelihat orang yang lagi nyari seseorang, punggungnya ke arah gue.
Maju selangkah, gue narik dia dari bahunya dengan cepat dan dorong dia ke tembok, tangan kanan gue di tulang selangkanya.
"Kenapa lo ngikutin gue?" nanya dengan suara rendah dan tegas setelah ngejebak dia, gue naikin bola mata buat ngelihat dia. Cengkeraman gue kendor otomatis pas wajahnya kelihatan di depan gue. "Fang Lei?" namanya keluar kaget, penasaran, dan sarkasme.
"Ngapain lo di sini?" gue cemberut, mundur selangkah, ngasih jarak di antara kita.
"Jalan-jalan," dia ngangkat bahu, merhatiin gue dari atas sampai bawah. "Lo bolos kelas buat ke pasar di jembatan ketiga, ya?" dia nanya seolah-olah 'lo ngelakuin itu demi ini'.
"Kenapa? Nggak boleh ya?" garuk tengkuk, gue ketawa licik. "Gue belum pernah jalan-jalan pas festival ini," ngalihin pandangan dari tanah, gue hadap dia. "Sekarang giliran lo, ngapain lo di sini?" nyilangin tangan di dada, gue maju buat dengerin dia.
"Sama, gue juga belum pernah jalan-jalan pas festival langka ini."
"Lo bolos kelas?" suara gue keluar kaget tanpa gue sadari, tapi gue yakin kalau suara obrolan dan kebisingan di lingkungan nggak ada, suara gue bakal kedengeran ke semua orang.
"Menurut lo?" dia nanya sambil naikin alis, ekspresinya lucu, bibirnya bergerak tipis ke arah senyum.
Senyum?
"Gue nggak nyangka lo senyum," maju selangkah, gue deketin wajah gue ke wajahnya, jarak kita tipis buat ngelihat dia lebih dekat. "Lo kelihatan bagus kalau senyum," gue ngomong pelan, ngegambar jelas dia, sementara dia natap gue, matanya ngeliat langsung ke mata gue.
"Lo ngapain d....."
Teriakan keluar dari bibir gue pas ngerasain berat di belakang gue dari orang yang dorong gue waktu ngelewatin gue, kehilangan keseimbangan, gue maju ke depan di atas jari kaki kanan gue, yang bikin gue jatuh ke depan ke badannya, mata gue keluar dari soket karena horor pas ngerasain bibirnya nempel ke bibir gue.
Ini nggak seharusnya terjadi, meskipun ini kecelakaan!