Bab 18
Duduk di atas tembok, FengLei melompat turun dan sembunyi di balik batang pohon yang gede banget.
Nempelin telapak tangan ke batang yang kasar, dia ngintip dari samping ke kirinya, merhatiin dua penjaga gerbang utama yang lagi jalan-jalan. Dia kaget pas denger suara *thud* di tanah, kerutin alisnya penasaran dan noleh pelan-pelan. Dia gigit pipi dalemnya buat nahan ketawa.
"Kamu darimana aja sih, udah malem gini?" Dia maju selangkah pelan-pelan, naruh kaki di atas ranting kering.
"Serius," aku buang napas keras-keras, ngibasin telapak tangan satu sama lain, tanganku maju kayak mau narik aku ke atas, "Bantuin aku dulu, dong."
"Aku lagi keluar sama Xu," kataku sambil megangin tangannya yang dia majuin, "Kamu ngapain sih jam segini?" tanyaku langsung berdiri, suaraku keluar lebih keras, ngejek, pikiran liar memenuhi otakku.
Dia nutup mulutku pake telapak tangannya dan pindah ke belakang batang pohon gede, sembunyi di kegelapan. Aku sandarin bahuku ke batang pohon dan nyender, nyodorin diri ke kayu pas dia nyenggol badanku buat ngintip dari balik batang pohon dan celingukan.
Mata aku membelalak pas ngerasain badannya di atas badanku, adrenalin ngalir deras pas napasnya nyentuh titik sensitif di belakang telingaku. Dia ngehela napas lega dan nengok ke belakang, mata kita saling bertemu. Aku natap dia penasaran, merhatiin tampangnya yang kayak familiar, tapi sensor identifikasi aku lagi nggak berfungsi.
Apalagi mata itu, aku harus jernihin pikiran dulu buat mecahin teka-teki kecil ini.
Dia balas natap aku, merhatiin aku, baca sesuatu di wajahku. Senyum kepuasan muncul di bibirnya, dan aku nggak tau kenapa.
Aku balik ke kesadaranku pas adegan yang terjadi beberapa jam lalu melintas di pikiranku, si idiot itu. Aku nggak seharusnya cuma ngejauh dari dia dan biarin dia gitu aja. Dia pasti mati kalo dia muncul di depan mataku lagi.
Mengerutkan dahi, aku dorong dia pelan-pelan dan berbalik. Meluk batang pohon, aku ngintip dari bahu kiriku buat ngeliat dua penjaga yang lagi jalan-jalan.
"Kenapa penjaganya ada di dalem gerbang?" tanyaku pelan-pelan, mastiin suaraku pelan.
Naro lengan kanannya di atas batang pohon, dia nyender ke arahku dan ngeliat ke arah yang sama, "Kayaknya sih gara-gara rumor itu."
Rumor?
Kok aku nggak tau apa-apa ya?
Apalagi kalo itu rumor dan gosip.
"Rumor apa?" Berbalik, aku nyenderin bahuku ke batang pohon yang bikin dia mundur, ninggalin jarak di antara kita.
Kata 'jarak' udah nggak berlaku hari ini.
"Tentang seseorang yang jalan-jalan malem-malem."
"Terus?" aku nyuruh dia ngomong lagi karena dia selalu cuma ngomong satu kalimat.
"Suara air bisa kedengeran dari tempat mandi, beberapa temen sekelas bilang itu hantu," dia mundur selangkah lagi dan celingukan, mastiin kita ada di kegelapan dan nggak keliatan.
Aku naikin alisku, bibirku membentuk senyum canggung mikirin yang namanya rumor itu.
Jalan-jalan?
Malem-malem?
Di tempat mandi?
Hantu?
Anjir... itu aku.
"Ada yang liat nggak?" Aku maju, mainin jari-jariku gugup.
"Nggak," dia melepaskan pandangannya, masih fokus ke sekeliling, ngamatin gerakan penjaga buat menghindar pas mereka jalan ke arah berlawanan.
Maju selangkah lagi, aku ngeliatin dia, mataku ngamatin dagu dan garis rahangnya, "Kamu liat nggak?" tanyaku semangat tapi pelan.
"Aku..." dia ngeliat aku, "Nggak juga sih," dia ngusap dagunya dramatis, kayak lagi mikir sesuatu.
"Maksudnya gimana?" Aku berbisik-teriak, kehilangan kesabaran.
"Kok kamu keliatan gugup sih?" Dia naikin alisnya, iseng, sementara aku natap dia kaget, mikirin jawabannya tadi dan kelakuannya sekarang kayak dia tau sesuatu.
Dia nunduk dikit dan deketin wajahnya ke wajahku, "Kenapa?" Dia nanya lagi, suaranya keluar bahaya banget.
Mata aku terpaku ke dia, sementara otakku nyoba nyari kata-kata dan ngebentuk kalimat. Otakku lagi sibuk banget sekarang, sampe nggak tau harus mecahin suara hatiku yang bilang suaranya kayak familiar atau bikin jawaban buat pertanyaannya 'kenapa'.
Sisi kanan bibirnya naik pas dia ngeliat dalem-dalem ke aku, "Kamu takut hantu ya?" Dia nyindir.
"Emang aku keliatan kayak orang yang takut hantu?" Aku ngejek, nyilangin tangan di dada, hidungku ngeluarin banyak udara.
"Iya, keliatan," dia jawab dan maju ke kanannya, "Ayo, pergi," dia nyerocos dan ngegerakin tangan nyuruh aku cepetan.
Aku lari di belakangnya, ngebungkuk, langkah kaki pelan di tanah biar suara sepatu nggak kedengeran di atas batu.
Kita berhasil sampe ke asrama tanpa ketahuan. Nempelin telapak tangan ke lututku, aku tarik napas dalem-dalem, berdiri, aku genggam telapak tangan dan mukul pelan-pelan ke bahuku, sedikit mijit otot-ototku. Masuk, aku duduk di pinggir kasur, nyatuin kedua tangan, nyantai.
"Kamu beneran keluar sama Xu?" Berbalik ke kanan, aku ngadep FengLei yang lagi duduk di kasur, kakinya nyilang.
"Iya, dia pengen ke Gunung Tian," jawabku santai, buang muka.
"Udah malem gini?"
"Iya, kita keliling semua stan,"
"Terus?"
"Terus, nggak ada apa-apa."
"Jadi ada lip tint di lengan bajumu," aku langsung ngadep dia, mata lebar, dia naikin alis ke aku iseng dan nunjuk, nunjukin aku noda itu. Ngeliat lengan baju, ke arah yang dia tunjuk, mata aku makin melebar ngeliat noda darah di lengan bajuku.
"Ohh," aku nutupinya pake tangan, bangun dari kasur, aku lepas ikat pinggangku, nggak ngeliat dia sama sekali.
Udara di sekelilingku mencekik dengan rasa pandangannya yang menusuk.
"Oke, kamu ngapain sih malem-malem gini?" Aku berbalik, ngeliat dia, nyoba nenangin suasana.
"Bukan urusanmu," dia ngangkat bahu dan rebahan di bantalnya.
Bibirku ngebentuk huruf 'o' pas aku natep dia, kesel sama kelakuannya. Kalo mata aku panah, aku yakin aku udah nembak dia selusin panah.
"Tapi aku kan udah jawab semua pertanyaanmu," aku menggerutu, nginjek-injek kaki di lantai, marah.
"Kamu bisa aja nggak jawab," dia jawab blak-blakan, nutup mata.
"Apa? Kamu...kamu..." aku nunjuk dia, ngumpulin kata-kata di pikiranku buat ngejek dia.
"Berisik," dia balik, lengan kanannya nyilang di dada, mata tertutup.
Mengerutkan hidung, aku ngamuk, "Bajingan," aku berbisik-teriak, nahan huruf 'n' buat beberapa saat, nyalurin kemarahanku.