Bab 35
"Lo mikirin apa sih?" Hen Yu bikin gue keluar dari lamunan tentang apa yang terjadi beberapa hari lalu.
Otak gue nggak pernah lupa tentang itu dan setiap gue sama dia, gue nggak bisa santai kayak biasanya, karena batin gue memperingatkan gue tentang apa yang dia pikirkan tentang gue.
Mungkinkah dia suka sama gue, meskipun dia nggak tahu kalau gue cewek?
"Lo ngelamun mulu, ya," dia melingkarkan tangannya di leher gue, narik gue lebih dekat. "Lo kelihatan pucat, ada apa?" Dia nanya pelan sambil senyum jail.
"Nggak ada apa-apa," gue lepasin tangannya dari leher gue, terus jalan maju masuk ke toko.
Feng Lei dan gue nggak banyak ngobrol setelah kejadian itu, nggak ada yang buka topik. Gue ngejauh dari dia dan kita nggak pernah tatap-tatapan. Kita ngobrol kalau ada yang penting, sisanya cuma senyum yang kita lewatin.
ChengLi dan Hen Yu curiga sama kita sehari setelahnya, tapi gue bilang nggak ada apa-apa.
Jantung gue berdebar kencang pas dia mendekat dan setiap gerakannya bikin gue merasa spesial, atau mungkin gue halu.
Gue ajak Hen Yu ikut setelah kelas, janji mau traktir dia makan kalau dia bantuin gue beliin sesuatu buat Xu Xu, soalnya besok ulang tahun dia.
Gue putusin buat kasih tahu dia tentang identitas gue besok, gue nggak mau nyembunyiin lagi dari dia setelah kenal lama.
Gue ambil wadah blush on, buka tutupnya, dan mencium aromanya yang feminin banget, isinya kelopak mawar yang dihalusin. Gue kasih wadahnya ke Hen Yu, terus perhatiin barang-barang lain yang ada di rak kayu.
"Wah," dia narik gue ke sampingnya. "Lihat deh, XingXing," dia cekikikan kayak anak kecil, bersikap seolah kita di sini buat dia.
Mata gue berbinar kagum ngelihat tusuk konde ukiran itu, milih tiga yang paling menarik, terus gue coba pilih satu. Hen Yu dan gue terus-terusan merhatiin satu per satu buat milih yang terbaik.
"Mana yang bagus?" gue nanya ke dia sambil kagum ngelihat ukirannya yang rapi.
Gue belum pernah beliin dia tusuk konde, jadi gue pikir ini bakal bikin dia senang, bener-bener nggak salah ngajak dia.
"Beli yang itu," dia nunjuk yang lagi gue pegang, gantiin dua pin lainnya, terus ambil yang dari tangan gue. "Kayaknya desain baru, deh, gue belum pernah lihat," dia merhatiin lebih dekat.
"Kayaknya lo lebih tahu soal ini,"
"Iya, gue tahu," dia deketin benda itu ke matanya, terus mengusapnya seolah lagi merhatiin detailnya.
"Ngapain sih lebay banget?" gue sewot ngelihat tingkah lakunya.
"Jangan ngomong," dia nutup matanya, terus narik napas dalam-dalam. "Tusuk konde ini buat hadiah orang spesial," katanya sambil menghadap gue dengan dagu terangkat bangga.
"Beneran?" gue rebut tusuk konde dari tangannya, merhatiin lebih dekat sambil menyipitkan mata, terus nengok ke kanan ngelihat dia yang masih keasyikan dengan kebanggaannya. "Lo pikir gue bodoh?" gue pukul lengannya, bikin senyum lebarnya jadi lemah.
Di bagian atas tusuk konde di bawah ukirannya ada tulisan 'Kamu Spesial' yang bisa dilihat kalau kita merhatiin atau mengusapnya.
"Simpan ini," gue kasih tusuk kondenya ke Hen Yu yang langsung masukin ke kantongnya, terus gue keluarin batu perak buat bayar ke penjual, biar kita bisa cepat pergi.
Jalan utama ramai banget karena ada acara pernikahan di dekat sini, jadi gue dan Hen Yu lewat jalan pintas. Pemandangan orang-orang yang buru-buru berubah jadi tempat di mana serangga beterbangan, bikin sekitar cuma ada suara alam yang bercampur dengan langkah kaki kita, bikin pikiran gue balik lagi ke pikiran tentang dia.
"Awas!" Hen Yu narik gue tiba-tiba, gerakan mendadak itu bikin gue keluar dari lamunan dan sadar apa yang terjadi di sekitar kita, gue noleh buat lihat arah sebaliknya, ada anak panah nancap di tanah berlumpur di samping kolam di jembatan tempat kita berdiri.
Suara bilah yang menembus udara sampai ke telinga gue, gue langsung lihat ke atas buat lihat anak panah lain datang ke arah kita. Gue pegang tangan Hen Yu, terus narik dia, bergerak zigzag karena banyak anak panah yang datang ke arah kita.
Tetap membungkuk, gue rangkul dia di leher. Anak panah terus ditembakkan ke arah kita entah dari mana. Gue coba berhenti buat ngecek siapa di sisi lain, tapi gue nggak punya waktu karena banyak anak panah yang datang ke arah kita.
Gue dorong Hen Yu ke bagian bawah jembatan yang berlumpur dan dindingnya melengkung ditutupi tumbuhan, gue minggir buat lihat tiga orang di atas kuda dengan setengah wajah ditutupi kerudung, megang busur dengan sekeranjang anak panah di belakang punggung mereka.
Langit mendung dan kabut yang terbentuk di pepohonan bikin penglihatan gue nggak jelas, melangkah maju, gue berdiri di ujung jari kaki buat melihat rintangan yang menutupi mereka, tapi gue nggak bisa lihat jelas dari jauh.
Insting gue bilang itu Jiang Yi, tapi gue nggak yakin karena dua orang lainnya kayak pengawal, soalnya mereka pakai seragam pengawal kerajaan. Rasa penasaran bikin gue nggak aman. Pegang dahan yang menjulur, gue maju selangkah lagi, gerakin kepala gue dulu karena anak panah ditembakkan sembarangan.
"Lo ngelihat apa sih?" Hen Yu berbisik, keluar dari tempat aman, dia narik gue ke atasnya, bikin gue jatuh ke atas dia.
Langsung duduk tegak, gue lihat ke luar, dengerin tetesan air yang jatuh dari daun, lingkungan langsung jadi hening pas mulai gerimis.
"Kenapa mereka nyerang kita?" Dia mulai bertanya sambil ngomel. "Siapa mereka? Lo kenal mereka? Ada apa sih? Gue takut! Gue nggak mau ma..."
"Sst," gue putar mata, terus letakin jari telunjuk gue di bibirnya, sementara mata gue fokus ke luar, telinga gue fokus ke suara-suara. "Mereka pergi," sambil mengerutkan kening, gue perhatiin suara kuda yang lagi lari, langit cerah, nggak ada tanda-tanda hujan.
"Kenapa lo banyak banget nanya sih?" Gue ngambek, terus keluar dari tempat perlindungan, berdiri, gue lihat sekeliling buat mastiin mereka udah pergi.
"Itu bener-bener serem," dia tepuk-tepuk tangan buat ngebersihin, terus maju sedikit. "Lo olahraga nggak sih, kasih tahu gue apa yang lo lakuin?" dia tepuk tangan dengan semangat.
Miringin kepala ke belakang, membentuk dagu ganda, gue lihat dia dengan alis berkerut. "Nggak, kenapa emang?"
"Lo punya dada yang keras," dia senyum misterius sambil naikin alisnya, bikin gue natap dia dengan tatapan 'Lo gila ya?'.
Coba gue cek, dia maju buat nyentuh. Mulut gue kebuka tanpa sadar pas dia deketin tangannya. Buat ngehentiinnya, gue mundur selangkah, mata gue melebar pas ngerasain licin di bawah sepatu gue, gue coba pegang tangan Hen Yu yang dia ulurkan buat nolong gue, tapi gue nggak bisa, tubuh gue kehilangan gravitasi.
"YuYu, gue bunuh lo!" gue teriak marah pas tubuh gue masuk ke air.
Tolong gue, gue nggak bisa berenang.