Bab 16
"Dia baik-baik saja kan?" tanyaku khawatir, sambil ngeliatin Dokter ZongHua yang nggak sadar diri di kasur, muridnya lagi ngobatin lukanya. Baju-bajunya berceceran di lantai, basah kuyup kena darah.
"Udah aku obatin lukanya, tapi dia butuh waktu buat bangun," jelasnya, matanya tertuju ke gurunya yang lagi berjuang buat hidup.
"Dia kena racun?" Maju selangkah, aku periksa keadaannya. Aku jongkok, duduk di lantai, nyender di tepi kasur sambil mengerutkan alis.
"Iya, tapi aku udah nyedot racunnya," katanya sambil membalut lukanya.
"Mereka udah nunggu hari ini," Aku bangun dari lantai, natap dokter itu.
Semuanya kayak udah direncanain, mereka mau ngebunuh dia.
Tapi kenapa?
"Bawa dia ke tempat yang aman," Aku kasih perintah sambil berbalik buat cari jawaban hari ini.
"Mau kemana?" Berhenti, aku noleh ke kiri, mataku turun ke tanganku yang dipegang.
Baru pertama kali denger dia ngomong, dan suaranya familiar, tapi alat pemindai identifikasi di otakku lagi nggak berfungsi sekarang.
Nggak ngeliatin tanganku lagi, aku angkat pandanganku buat ngeliat orang yang lagi natap aku. Aku balas natap dia, nyoba buat baca pikirannya, merhatiin matanya, tapi pikiranku udah kayak gado-gado sekarang.
"Bukan urusanmu," Aku tepis tangannya, narik pergelangan tanganku dari genggamannya, terus keluar.
Buka topengku di hutan, aku celingukan buat mastiin nggak ada yang ngeliat. Aku harus balikin surat itu, buat tau apa yang Ayah tulis, dan balik ke akademi sebelum gelap.
Aku buang napas panjang, terus nendang pintu kasino yang udah rusak. Pintu kayu tua itu roboh, jatuh ke lantai, dan aku maju selangkah, ngarep semua orang bakal berhenti dari kegiatan mereka dan ngeliatin ke arah pintu, tapi ironisnya, suara di tempat ini lebih bising dari suara pintu yang roboh. Banyak banget cowok dengan model rambut dan ukuran tubuh yang beda-beda di sini, teriakan, sorakan, dan umpatan memenuhi ruangan, bikin suasana makin parah karena tempatnya sempit. Aku jalan, nyantai ke meja ujung di pojokan.
"Woi... gue pasang," Aku keluarin kantong batu perak dari saku, terus lempar ke meja, mata orang-orang di sekitar meja kayu itu tertuju ke aku.
"Ayo, dong," Aku senyum mengejek, nyodorin kaki orang yang berdiri di samping meja dengan naruh kakinya di bangku, nyemangatin ketuanya.
"Lo keliatan lumayan juga di sini," Orang yang duduk di depanku tertawa sinis, rambutnya yang acak-acakan bergoyang kesana kemari.
"Gue emang jagoan di game," Aku angkat alis, bibirku sedikit terangkat senyum mengejek "Lo mau pasang apa?" Aku tanya sambil ngangkat dagu, ngeliatin batu perak yang ada di meja di samping tangannya "Kayaknya matahari lagi bersinar buat lo," Aku ketawa.
"Lo bisa ambil semua," Dia mencibir, badannya maju tertarik.
Aku dorong kantongku ke arahnya, aku maju, wajah kami tinggal beberapa senti lagi "Ngapain gue judi buat uang," Aku natap dia dengan tatapan seolah-itu-nggak-ada-artinya-buat-gue.
"Terus?" Dia nanya, suaranya kering dan kasar.
"Nanti gue kasih tau," Aku ambil toples, pandanganku naik "Aturannya," Aku cibir, naruh kaki kananku di bangku, aku nyender maju dengan posisi nyaman.
"Pemenang dari dua game menang," Orang yang berdiri di antara kita ngasih instruksi "Siapa yang punya kredit lebih banyak, dialah pemenangnya."
"Siapa duluan?"
"Coba kita liat apa yang dimiliki anak kecil ini,"
"Oke," Aku gulung lengan baju, aku ambil toples dan angkat ke udara, aku kocok keras, bikin tiga dadu itu saling berbenturan di dalam wadah.
Main dadu itu sesuatu yang gue nggak jago, soalnya yang namanya keberuntungan nggak pernah dateng pas gue butuhin, dan gue nggak pernah judi karena dapet tiga angka enam itu kayak nyebur ke laut beku.
Aku banting toples itu ke meja, aku buka tutupnya, nunjukin tiga dadu dengan dua angka enam dan satu angka lima.
Suara tawa keras dan kering dari orang-orang di sekitarku masuk ke telingaku, bikin gue sadar kalau gue bakal kalah dan hasil ini bukan masalah besar.
Orang gemuk yang duduk di seberangku ngangkat tangannya, bikin semua orang diam, dia maju dengan mata tertuju ke gue, bibirnya sedikit terangkat senyum mengejek, nunjukin deretan giginya yang kuning.
Dia berdiri, dia ambil tutup toples dan menutupnya, natap gue dia kocok toples itu dengan kuat, ngambilnya dari telinga kananku ke kiri, sementara gue natap dia dengan tenang, tapi batin gue udah nggak sabar mau liat hasilnya.
Dia jongkok, dia banting toples itu ke meja, dan buka tutupnya dengan santai, nunjukin dadu dengan tiga angka enam. Dia duduk santai kayak udah ngarep hasilnya.
Nggak ada yang sesuai rencana gue, dan game ini lebih susah dari yang gue kira. Gue kira ini nggak ada hubungannya sama stamina dan kecerdasan kita, tapi kayaknya ada hubungannya, deh.
Dia dorong toples itu ke arahku dengan jarinya dan nyender, ngeliatin gue dengan tatapan seolah-ayolah-kita-liat-apa-yang-lo-punya.
Aku ambil toples itu, aku kocok, merhatiin suara dadu yang berbenturan, berentiin gerakan, aku taruh toples itu pelan-pelan di meja, natap toples keramik coklat itu beberapa saat, aku angkat perlahan, senyum muncul di bibirku setiap inci toples itu naik, dan akhirnya muncul tiga angka enam.
Aku ambil toples dengan cemas, dia bergerak lebih cepat dari sebelumnya dan banting toples ke meja, buka tutupnya dia nyender ke belakang dan berteriak pelan.
"Masing-masing menang satu game, game ketiga yang nentuin pemenangnya," Orang lain ngumumin.
Aku kasih isyarat dia buat mulai dengan nyengir licik, dia ambil dan natap gue "Sebutkan taruhanmu?" dia nanya sambil megang toples di udara buat mulai.
"Surat itu," Aku taruh lengan di meja, aku maju natap wajahnya yang penasaran "Surat yang lo curi dari Gunung Tian."
Dia angkat alis, dia natap gue terus ngeliat sekeliling, ketemu pandangan orang-orangnya.
"Oke," Dia menggerutu dan mulai mengocok toples.