Bab 44
Kekhawatiran Feng Lei tentang hilangnya WanKe udah gak ketulungan, matanya gak pernah lepas dari pintu kelas selama ujian, nungguin WanKe nongol. Pagi sebelum ujian, Feng Lei udah nyamperin rumah Tuan Wen, tapi penjaga gak ngebolehin dia masuk. Katanya WanKe lagi sakit dan istirahat. Dia sih gak percaya gitu aja, soalnya sakit kan bukan alasan buat bolos ujian, apalagi ini hari yang udah dia tunggu-tunggu banget.
Begitu ujian selesai, Feng Lei langsung keluar kelas, pikirannya masih mikirin WanKe. Dia bahkan gak sempet latihan buat tes fisik besok, pikiran sama hatinya gak fokus.
"Kenapa WanKe belum balik juga?" HenYu menyamai langkah FengLei, jalan di sampingnya di halaman sekolah. "Udah hampir dua hari, dia belum balik. Gue khawatir," dua kata terakhirnya keluar lirih, kelihatan banget khawatirnya.
"Gue nyariin dia ke rumah," jawab Feng Lei.
"Terus, dia ada di sana?" tanya Hen Yu.
"Gue bahkan gak boleh masuk. Penjaga di gerbang bilang dia sakit," balas FengLei.
"Sakit?" Hen Yu kaget.
"Gue rasa sih gak bener," sanggah FengLei.
"Dia baik-baik aja kemarin pagi," timpal Hen Yu.
"Gue tau. Bahkan guru-guru juga khawatir, dia gak ikut ujian," sahut FengLei.
"Tuan Huang juga nanya tadi pagi, dia bilang sayang banget Keke gak ikut ujian," kata HenYu.
"Ada yang gak beres," kata FengLei.
"Maksudnya?" HenYu bingung.
"Gue cuma punya firasat dia ada di rumah itu," jawab FengLei.
"Kenapa penjaga bohong soal Pangeran di kerajaan?" HenYu bertanya.
"Gue...." FengLei gak bisa jawab.
"Gue nyariin kalian semua," tiba-tiba ChengLi lari ke arah mereka sambil ngos-ngosan. "WanKe udah balik belum?" ChengLi berdiri tegak, nelen ludah, terus lanjut ngomong karena udah tau jawabannya dari ekspresi mereka, "Ah, Xiang bilang kalau XuXu ngikutin seorang cowok beberapa hari sebelum kejadian." ChengLi ngambil sapu tangan biru muda dari sakunya dan nyerahin ke FengLei. "Xiang bilang XuXu jait ini buat WanKe sebagai hadiah sebelum ujian dan...."
Jempol FengLie ngusap-ngusap bordiran di kain yang dilipat. Jantungnya kayak kejepit pas lihat bordirannya, ada gambar anak cowok dan cewek lucu yang saling berdekatan. Ada tulisan "Kamu kakak terbaik," dibordir di atas gambar itu. Dia buka lipatan kainnya, terus mundur selangkah waktu ada sesuatu yang jatuh.
"Kak Cheng nanya soal WanKe, dia bilang pemakaman ibunya hari ini," kata ChengLi.
"Ibunya?" HenYu kaget banget.
FengLei ngambil secarik kertas kecil yang jatuh, terus ngernyitin dahi dan ngebuka kertasnya. "Ada yang gak beres," katanya tiba-tiba, terus langsung lari keluar gerbang. HenYu dan ChengLi ngejar di belakang.
WanKe ngangkat kelopak matanya yang berat, terus ngeluarin erangan kering. Dia gerakin badannya biar nyaman, tapi malah jerit pelan waktu rasa sakit di dadanya nyebar kayak kesetrum ke saraf-sarafnya. Dia nghela napas pelan, dalam hati dia udah tau kalau tangan kanannya diiket ke tiang di samping ranjang, dan tangan kirinya mati rasa. Dia gak panik atau takut di tempat itu, pikirannya cuma mikirin ibunya. Nelen ludah buat ngebasahin tenggorokannya, dia buka matanya lebar-lebar, ngeliat sekelilingnya dan sadar kalau dia ada di kamarnya.
Menggigit bibir bawahnya, dia berusaha duduk bersandar ke tembok di samping ranjang. Dia kaget waktu pintu kayu dihempas terbuka.
"Ibu di mana?" WanKe berteriak waktu Tuan Wen masuk ke kamar. Duduk di tepi ranjang, dia ngadepin WanKe dengan senyum licik di bibirnya.
"Gimana bisa kamu teriak kalau kamu lemah?" Tuan Wen tepuk tangan, terus langsung berdiri. "Kalian semua salah," katanya, natap WanKe yang lagi natap dia dengan marah dan penasaran.
Tuan Wen berbalik, jalan ke meja di pojok ruangan. "Pertama ayahmu," dia membungkuk, ngangkat teko dan nuangin air ke cangkir. "Terus ibumu," dia berdiri dengan cangkir berisi air hangat. "Dan sekarang kamu," dia minum seteguk air, terus jalan ke arah ranjang dan merangkak di atasnya.
"Pasti haus," Tuan Wen mendekat ke WanKe, terus ngarahin cangkir ke mulut WanKe, menyentuh bibirnya yang kering. Dia deketin wajahnya, matanya natap lurus ke mata WanKe yang lemah. "Gue kasihan sama lo karena," mata Tuan Wen yang jahat ngamatin mata WanKe yang kelelahan, seringai muncul di bibirnya. "Lo gak bisa dateng ke pemakaman ibumu."
WanKe ngambil cangkir dari tangan Tuan Wen yang diarahin ke mulutnya pake tangan kirinya yang udah gak punya kekuatan lagi. Dia ngehantamkan cangkir itu ke dahi Tuan Wen, bikin dia kaget. WanKe maju sedikit, terus ngusap-ngusap belakang kepala Tuan Wen pake tangan lemahnya dan dorong kepalanya ke tembok, bikin Tuan Wen mengerang waktu cairan merah panas ngalir di wajahnya.
"Dasar brengsek," Tuan Wen teriak, ngeraih kerah baju WanKe dan nariknya, bikin rantai yang nahan tangannya makin nusuk. Mendekatkan wajahnya, jaraknya cuma beberapa inci, dia teriak, "Sayang banget gak ada cowok yang bisa ngeliat," seringai muncul di wajahnya, matanya natap WanKe yang matanya gak nunjukin rasa takut sedikitpun. "Cewek cantik kayak kamu," dia mendorong WanKe ke ranjang, bikin dia meringis kesakitan. Dia merangkak di atas WanKe, terus naruh telapak tangannya di atas luka, neken luka itu. "Gue bakal bikin lo menderita karena apa yang udah lo lakuin," dia bergumam, nyentuh pita baju WanKe buat ngebuka bagian atas bajunya.
WanKe nutupin wajahnya pake telapak tangan kirinya, berusaha menjauhkan wajahnya dari rasa sakit yang luar biasa. Tenaganya yang udah terkuras habis. Jeritan keluar dari bibirnya waktu dia ngerasain kulitnya meregang, darah panas mulai membasahi bajunya yang udah kering dan bernoda.
"Jangan lakuin ini," suaranya keluar cuma kayak bisikan, waktu dia sadar bajunya longgar karena dia ngerasain jari Tuan Wen nyentuh kulitnya. Merem, dia narik napas dalam-dalam, berdoa sama Tuhan buat ngambil nyawanya sebelum sesuatu terjadi, karena dia gak bisa melawan, kepalanya mulai terasa berat dan tubuhnya gak bisa dia kendaliin, akhirnya dia pingsan.