Bab 22
Habis makan pangsit terakhir dari mangkuk ketiga, gue taruh sumpit di meja, terus berdiri dari kursi. Gue majuin badan, telapak tangan gue nempel di meja.
"Gue selesai," gue bilang, noleh ke kanan. Mata gue langsung gede pas ngeliat Hen Yu sama ChengLi masih makan. Senyum tipis muncul di bibir gue pas mata gue ngeliat lima mangkuk yang numpuk di samping mangkuk yang mereka lagi pake sekarang.
"Serius, kalian berdua makan mangkuk keenam, sedangkan gue cuma tiga," berdiri tegak, gue silang tangan di dada, mata gue merhatiin mereka berdua yang lagi sibuk. "Makan kayak babi," gue komen, sambil ngernyit.
Hen Yu ngeliat gue, mulutnya penuh pangsit, pipinya ada dua benjolan bikin dia kayak boneka otafuku okame. "Ini cuma mangkuk keenam kita," dia ngomong dengan makanan di mulut, suaranya kayak kakek-kakek.
Sudut bibir gue sedikit berkedut pas gue noleh ke sisi lain, nemuin Feng Lei lagi nikmatin makanannya dan ada dua mangkuk numpuk. Gue nunduk, nyenderin siku di meja dan naruh dagu di punggung telapak tangan, wajah gue agak jauh dari dia.
Mata gue ngamatiin wajahnya, mulai dari dahi terus turun, berhenti di bibirnya. Pandangan gue fokus ke bibirnya pas dia ngunyah dengan mulut tertutup. Detak jantung gue makin cepet pas bayangan bibir kita nabrak muncul di pikiran, bikin gue ngerasa aneh.
Nggak, ini nggak boleh terjadi. Kenapa gue malah merhatiin dia?
Maksa pikiran gue buat minggat, bibir gue malah membentuk senyum jail, terus gue maju dikit.
"Enak banget, ya?" Suara gue keluar lembut, dengan nada ngeledek yang bikin gue seneng mau ngecengin dia.
Nelen makanan yang ada di mulutnya, dia naruh sumpit di mangkuk dan ngegeser mangkuknya ke samping. Mata gue melebar pas dia maju, matanya natap gue.
"Lo mikirin itu selama ini?" dia ngejek, naikin alisnya dengan lucu.
Apa?
Gue baru aja kena tebas hidung, nih.
Gue nampar diri sendiri dalam hati karena tadi merhatiin dia.
Narik bibir atas, gue ngeliatin dia pas bibirnya membentuk seringai. Lupa sama fakta kalau gue yang lagi diejek, otak gue malah mulai ngehargai fakta kalau dia keliatan ganteng pas dia senyum atau nyengir.
"Otak lo emang lama banget buat merespons kalau lagi canggung, ya?" dia nyindir, matanya nggak pernah lepas dari gue.
Telat... ada sesuatu...
Gue mundur tiba-tiba. "Astaga," suara gue keluar keras karena kaget, bikin semua orang merhatiin.
"Apaan?" Hen Yu langsung nanya, ngeliatin gue dengan penasaran.
"Kita nggak telat masuk kelas?" gue hadap ChengLi, gerakannya berhenti, pangsit yang dipegang sumpitnya jatuh ke mangkuk. Dia ngeliat gue, bibirnya kebuka, ekspresinya nunjukkin kalau dia beneran kaget.
Suasana di meja kita hening selama beberapa detik, terus suara langkah kaki kita yang lebar memenuhi telinga. Ngelewatin pandangan dari tanah, gue ngeliat lurus ke Hen Yu dan ChengLi yang lagi menjauh.
Berhenti, gue nunduk sambil megangin perut, ngos-ngosan. Kaki gue masih kebas karena lari tadi pagi dan sakit, apalagi perut gue ngasih tau kalau tamu bulanan gue dateng.
Jeritan keluar dari bibir gue tanpa sadar pas gue ngerasa ada yang megang tangan gue dan narik gue. Gue ngeliat, mata gue capek ngeliatin rambutnya yang goyang ke sana kemari.
"Sedikit lagi," dia noleh, ngelirik gue pas gue berusaha nyamain langkahnya.
Kaki gue goyang pas mata gue fokus ke tangan kita, telapak tangannya di pergelangan tangan gue, bikin kilas balik muncul di pikiran gue. Gue ngeliat ke atas, ngeliat WanKe hadap gue, maksa gue lari. Suara daun kering dan air yang mengalir nangkap pendengaran gue, akhirnya gue nyerah. Gue jongkok, megangin kepala sambil nutup telinga dengan lengan, telapak tangan gue di kulit kepala, mata gue fokus ke tanah, penglihatan yang kabur makin jelas setiap detiknya. Narik napas dalam-dalam, gue ngebuangnya, terus ngejalanin proses buat nenangin detak jantung gue yang cepet. Merem, gue narik napas dalam-dalam dan ngebuangnya dengan helaan napas yang capek.
Megang ujung lengan baju dengan empat jari, gue ngusap keringat yang terbentuk di dahi gue. "Lo nggak apa-apa?" gue ngeliat Feng Lei dengan tangannya maju, senyum meyakinkan muncul di wajahnya.
"Iya," megang tangannya, gue berdiri.
"Gue kira lo kuat."
"Gue emang kuat," gue nggerutu pelan, ngejauhin lengannya, terus jalan ke arah Hen Yu dan ChengLi yang lagi nempel di tembok, ngintip di sisi gerbang, ngeliat kalau ada orang di sekitar.
"Kayaknya kita telat," kata Hen Yu, ngeliatin murid-murid keluar dari kelas. Kita berempat nempel di tembok, berdiri horisontal kayak kereta api, Hen Yu paling depan, ChengLi kedua, gue ketiga, dan FengLei di samping gue.
"Kayaknya absennya nggak diambil kayak yang pagi," gumam FengLei, maju selangkah, mimpin. "Ayo, nyampur sama mereka," dia ngeliat ke kanan, kiri, dan kanan lagi, terus ngendap-ngendap masuk pelan-pelan, kayak pencuri mau nyolong berlian di museum.
Kita berhasil nyampur sama temen sekelas, senyum puas muncul di bibir gue karena kita nggak kena masalah.
"Kalian berempat, berhenti di situ juga," suara Tuan Huang bikin senyum gue langsung ilang. Gerakan kita berhenti, kita semua berdiri tegak di tempat, ngeliat lurus kayak patung yang membeku.