BAB 10: Kejutan
Jordan berdiri tanpa ekspresi. Dia sudah biasa melihat mereka berdebat. Kalau yang satu nggak nyerang, yang satunya lagi pasti nyari celah buat berantem.
Jordan udah lama terbiasa sama mereka, dan kadang-kadang malah bikin kerja jadi seru. Tapi dia sayang sama mereka apa adanya, soalnya kalau lagi kerja, mereka jago banget kalau lagi *brainstorming* bareng.
Mereka tahu kapan harus serius dan kapan harus santai. Kunle dan Isabella punya masa lalu, tapi Kunle masih sayang sama dia.
Dia nggak tahu persis apa yang bikin mereka putus, tapi entah kenapa, Kunle masih ada rasa sama dia di hatinya.
" Mereka berhenti berdebat dan berdiri di depan Jordan, mereka hormat dan mendekat.
Jordan tertawa kecil dan basa-basi sama mereka. Dia nanya kenapa mereka nggak pernah berhenti berantem.
Kunle bilang Isabella selalu nyari gara-gara sama dia. Isabella bilang Kunle kepo banget. Mereka berdua mulai lagi berantem pas Jordan bilang dia bakal ngeluarin mereka kalau mereka nggak siap kerja.
"Simpan debat kalian buat waktu santai. Tapi sekarang, ada penyelidikan yang harus kita lakukan…" Jordan mulai.
Dia cerita tentang kasus pembunuhan itu dan apa yang Komisioner bilang. Dia nambahin kalau mereka bakal punya anggota baru yang bakal kerja bareng mereka.
Dia berharap anggota baru yang bakal bikin tim mereka dari tiga jadi empat ini bisa dipercaya.
" Oh, cewek?" Kunle nanya dan Jordan ngangguk. " Wah, mantap nih. Semoga dia cantik dan menarik?" Kunle nambahin dan Jordan jadi nggak bisa berkata-kata.
Dia cuma natap Kunle. Cowok macam apa sih Kunle ini? Dia ngomong gitu buat mancing Isabella. Isabella tertawa kecil dan Jordan senyum tipis.
" Bahkan kalau dia cantik dan menarik, gue nggak bakal biarin kalian berdua jadian biar lo nggak gangguin dia kayak lo gangguin Isa" Jordan bilang.
Dia sering nyebut nama Isabella jadi Isa, dan itu udah mulai diterima sama hampir semua orang di departemen.
Tapi Isabella nggak masalah. Dia suka dipanggil Isabella atau Isa, sama aja. Dia mah santai aja.
" Bukan soal gue. Cuma mikir aja, mungkin lo akhirnya tertarik sama cewek. Siapa tahu tembok es yang lo bangun di hati lo akhirnya bisa meleleh sama cewek cantik" Kunle bilang.
Mereka udah coba bujuk Jordan buat cari cewek lain setelah istri Jordan meninggal, tapi dia nggak mau.
Mungkin kerja bareng cewek cantik bisa bikin dia mikir buat mulai hubungan sama dia.
Jordan nggak bisa ngomong apa-apa.
Dia masih mikir gimana mau jawab Kunle pas kepala departemen kejahatan dan penyelidikan masuk sama seorang cewek muda.
Sebelum dia sempat ngelihat, teleponnya bunyi dan dia pamit. Kepala departemen mulai ngobrol sama Kunle dan Isabella.
Dia bilang cewek baru itu bakal jadi rekan kerja dan anggota tim. Kasus yang mereka hadapi mungkin agak berat, makanya ada tambahan anggota baru.
Anggota tim langsung akrab. Mereka memperkenalkan diri dan nunggu Jordan selesai telepon.
Nggak lama kemudian dia balik lagi, "Ini anggota tim baru yang gabung di grup kalian, detektif.." Felix Freeman bilang.
Jordan noleh ngelihat cewek itu dan mereka berdua berdiri, terpaku dan saling natap.
Cewek ini lagi? Mereka ketemu lagi dan kayaknya mereka nggak bakal jauh-jauh lagi.
" Gue Jordan Duro" dia memperkenalkan diri, ngambil tangan cewek itu dan dia jawab " Gue Tina Smith" Tina jawab, berusaha nenangin kebingungan yang muncul di hatinya.
Dia ketemu lagi sama dia dan kayaknya mereka bakal kerja bareng. Tina menghela napas pelan dan narik tangannya cepat-cepat dan senyum tipis buat nutupin rasa canggung di udara.
" Kalian berdua udah pernah ketemu?" Felix Freeman nanya, ngelirik Jordan terus Tina.
" Nggak juga" "Kita lanjut aja ya" Tina dan Jordan jawab barengan dan saling tatap tajam.
Yang lain pada kaget. Ada sesuatu tentang pertemuan dua detektif ini. Mereka udah pernah ketemu tapi nggak mau ngaku di depan mereka semua.
" Hmmm.." Felix Freeman berdehem dan ngelihat mereka berdua lagi sebelum ngasih detail penyelidikan.
Mungkin mereka berdua punya masa lalu bareng dan mereka kaget buat ngakuinnya di depan semua orang. Ada sesuatu tentang mereka yang dia belum bisa tebak.
Tina Smith ngerasa nggak nyaman banget berdiri di depan Jordan. Cowok ini detektif dan ketua tim yang baru dia gabung?
Dia berharap kerja bareng dia bakal ninggalin dampak positif buat dia. Dia noleh pelan buat ngelirik dia dan mata mereka bertemu.
Dia buang muka dan yang lain saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua, nggak diragukan lagi.
Felix Freeman senyum tipis tapi cepat dan ninggalin Jordan sambil ngedipin mata, sebelum balik lagi ke kantornya. Mungkin udah waktunya Jordan cari cewek lain atau mungkin udah nemu.
"Kalau ada yang perlu kita tahu, kasih tahu aja Jordan. Lo tahu gue suka cewek cantik kayak ratu kecantikan di depan gue ini" Kunle ngejek dan fokus ke sistem seolah-olah dia bukan orang yang nanya.
Dia udah curiga kalau Jordan dan detektif baru itu punya hubungan sebelumnya, mungkin *one night stand*.
"Lo ngomong apa sih?" Jordan nanya, masang muka datar. Dia ngelihat Isabella dan Isabella cuma ngangkat bahu.
"Nggak ada apa-apa," Kunle jawab.