BAB 44
"Tina" berseru. "Ada apa sama dia? Apa dia kena tembak? Apa dia bakal mati gitu aja?"
"Tina" nanya sejuta pertanyaan di kepalanya. Tapi dia gak dapet jawaban, dia udah gak bisa diem. Dia langsung lari ke arah yang tadi "Jordan Duro" ambil, pas "Kunle" nahan dia.
"Kunle" narik dia ke pelukannya dan ngeliat ke arah "Jordan Duro" pergi. Apa dia dalam bahaya? Apa dia dijebak ke sana?
Atau jangan-jangan dia yang nembak ke udara? Pelurunya kan ditembak ke atas, bukan ke orang. Suara yang kedengeran setelahnya juga buktiin itu.
"Tina" protes keras sambil "Kunle" masih meluk dia. "Lepasin aku, "Kunle"!" "Tina" teriak ke dia.
"Isabella" bingung kenapa "Kunle" nahan dia. Harusnya mereka udah nyari "Jordan Duro" kan? Tembakan tadi udah cukup jadi tanda buat mereka bergerak.
Tim cadangan nunggu, mereka harus dapet perintah dulu sebelum bergerak, kalo enggak, mereka bakal diem aja.
"Kita harusnya udah nyari 'Jordan Duro'," "Isabella" nanya. Dia ngeliatin "Kunle" dengan tatapan membunuh. Berani-beraninya dia nahan "Tina" pas nyawa "Jordan Duro" dalam bahaya?
"Kamu harus hati-hati, 'Tina', jangan biarin emosi bikin kamu gak mikir jernih. Kamu denger suara tembakan atau cuma suara bising yang bikin kamu merinding? Peluru itu ditembak ke udara, bukan ke siapa-siapa. Insting detektif kamu mana? Gak tau itu strategi musuh buat nipu dan jebak orang polos ke kematiannya?" "Kunle" nasehatin mereka.
"Jordan Duro" dikepung sama beberapa orang, sekitar sepuluh orang kekar dengan senjata mereka mengarah ke dia. Dia berdiri dan ngeliatin, indra keenamnya aktif.
Dia tau, seberapa pinter pun dia, dia gak bisa ngalahin sepuluh orang sekaligus. Dia lagi mikir mau ngapain pas ngeliat ketua geng keluar dari semak-semak, dengan rokok di tangannya.
Dia jalan ke arah "Jordan Duro" dengan gagah. Satu tangannya megang rokok, satunya lagi di pinggang.
Dia ketawa keras dan lebih lama dari biasanya. Dia berdiri beberapa inci dari "Jordan Duro" dan nyengir, ngisep asap rokok dan ngehembusinnya ke muka "Jordan Duro".
Seolah-olah dia tau si brengsek itu bakal ngasapin mukanya, "Jordan Duro" buang muka dan ekspresi wajahnya jadi pucat.
"Tsek tsek, liat siapa kita punya di sini? Jadi beneran ada sesuatu yang berharga buat kamu selain istri sialan kamu yang tulangnya udah membusuk…" ketua geng ngejek.
Itu titik lemah "Jordan Duro". Berani-beraninya orang sipil ini ngejek ceweknya, almarhum istrinya "Rachel"?
Dia ngangkat tangan mau mukul ketua geng, pas itulah peluru ditembakkan ke udara dan temen-temennya denger.
"Satu kata lagi tentang almarhum istriku, gue bakal potong kemaluan lo dan kasih makan ke anjing," "Jordan Duro" ngancam.
"Hahahaha…" ketua geng ketawa terbahak-bahak, sengaja ngejek "Jordan Duro". Dia ngeliat dia kayak orang bodoh dan ketawa lagi, sampe matanya berair.
"Kamu pikir kamu bakal hidup sampe lima menit ke depan? Kamu harusnya ngitung sisa menit hidup kamu di jari-jari kamu. Ngomong-ngomong, sebelum gue ledakin kepala lo, lo punya hak buat bawa kebenaran ke kuburan lo. Gue yakin sekarang lo udah tau siapa yang bunuh 'Kitty'? Setiap gerak-gerik lo dipantau dari dalam, kita tau kapan lo dapet laporan otopsi dan isinya…." ketua geng ngomong dan "Jordan Duro" dengerin tapi juga ngirim sinyal dari jam tangannya.
Di sisi lain, itu berkedip. "Kunle" dan yang lain tau, ini saatnya bertindak cepat.
Tim cadangan udah siap, sementara tiga detektif lainnya pergi terpisah tapi menuju ke arah "Jordan Duro".
"...jangan main pintar sama gue, 'Jordan Duro'. Suruh anak buah lo mundur, kalo enggak, kalian semua bakal mati bareng. Jangan kira gue gak tau lo udah ngasih mereka sinyal?" Dia natap "Jordan Duro" dengan ganas.
"Iya, kita semua mati bareng. Gue tau apa yang udah lo lakuin, bajingan. Kalo lo berani ngomong lagi, gue bakal mulai dengan nembak tenggorokan lo," "Jordan Duro" ngamuk.
"Itu kalo lo berhasil tetep hidup?" Ketua geng mendesis dan ngarahin senjatanya ke "Jordan Duro". Dia nyuruh dia ngangkat tangan di atas kepala.
"Jordan Duro" udah naik pitam. Orang ini harus memastikan dia membunuhnya. Karena kalo enggak, dia bakal bikin dia ngerasain nasib yang lebih buruk dari kematian.
"Jordan Duro" hati-hati ngangkat tangannya di atas kepala. Orang yang megang senjata adalah penguasa dalam setiap konfrontasi. Seberapa besar kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh satu peluru dari senjata, mampu bikin seseorang menutup mata dan gak pernah membukanya lagi.
Ketua geng nyuruh salah satu anak buahnya menggeledah sakunya, ngosongin semua isinya. Orang itu maju dan lagi nyari-nyari di saku "Jordan Duro" pas yang terakhir ngasih dia tendangan keras di perutnya.
"Jordan Duro" dengan cepat narik dia dan make dia sebagai tameng. Kalo dia berani nembak dia, dia bakal ngebunuh anggota gengnya dulu.
"Kamu pikir kamu bisa ganggu gue? Kalo gue ngebunuh anggota yang lagi di ranjang rumah sakit dengan petugas keamanan ngawasin pintunya, kamu pikir gue gak bakal langsung habisin tameng manusia kamu itu? Gue gak peduli sama nyawa, terutama mereka yang menghalangi jalan gue buat mencapai terobosan…" ketua geng nyatain dan nembak kaki anggota itu.
"Aahhhh... bos.." orang itu teriak kesakitan. Sebelum ada yang tau apa yang terjadi, ada suara tembakan dari berbagai arah.
Kekacauan terjadi, "Jordan Duro" tau anak buahnya lagi kerja. Dia ngelempar tameng manusianya dan make kesempatan itu, dia nyerbu ketua geng dan perkelahian terjadi.
Sementara empat orang dari para bajingan itu udah tumbang, yang lain kabur, nembak dan menyelamatkan diri. "Jordan Duro" dan ketua geng saling pukul.
"Tangkap mereka semua hidup-hidup!" "Kunle" ngasih perintah dan tim cadangan ngejar para penjahat itu.
Empat orang yang kena tembak tergeletak di lantai, dua mati dan dua lagi kesakitan. Orang yang "Jordan Duro" pake sebagai tameng lagi berusaha merangkak ke hutan pas "Tina" nyamperin dia, ngasih dia tendangan keras.
Orang itu ngeliat matanya pusing dan pingsan. Dia nyeret dia ke samping pas dia denger "Isabella" manggil ambulans.
Dia kemudian nyari "Jordan Duro". Dia nemuin dia di tanah dan senjatanya udah jatuh. Ketua geng udah nusuk "Jordan Duro" dengan tusukan pertama di lengannya dan lututnya di leher "Jordan Duro", bikin detektif itu gak berdaya.
Tapi yang terakhir juga udah ngelakuin hal yang buruk ke dia. Salah satu matanya hilang dan tangannya hampir patah.
"Jordan Duro" kehilangan darah dan sepertinya lengan itu berat buat dia angkat. Dia cuma bisa berjuang dengan satu tangan dan pemandangan itu bikin "Tina" marah.
Dia lari ke arah mereka pas orang itu ngangkat belati, ngarahin ke dada "Jordan Duro" kali ini pas "Tina" dateng dan ngasih dia pukulan siku.
Ketua geng kaget tapi gak punya waktu buat melawan atau menahan pukulannya. Dia jatuh tersungkur dan langsung berdiri lagi.
Ngeliat orang yang ngerusak kemenangan terakhirnya adalah seorang wanita, wanita yang sama yang ngalahin mereka sebelumnya.
"Ahhhh" dia teriak dan dengan amarah lari ke arah "Tina". "Jordan Duro" bangkit dan batuk. Dia hampir mati tadi.
Sambil batuk dia ngeliat siapa dari anak buahnya yang dateng buat nolong dia dan kaget pas dia ngeliat "Tina" lari ke arah ketua geng dengan tangan terkepal.
Dia nyeret dirinya sendiri tapi terhuyung, dia udah kehilangan banyak darah dan masih bisa berdiri. Dia harus mengikat lengannya dengan cepat buat menghentikan pendarahan.
Dia harus bantu "Tina". Dia mungkin gak bisa bertahan atau melawan binatang buas itu terlalu lama sebelum dia menghabisinya.
Tapi dia kaget pas dia ngeliat dia lagi berantem sama dia. Dia megang kepalanya dan narik dia ke sekeliling.
Lawannya megang pinggangnya dan mau memutar wajahnya ke bawah tapi "Tina" lepas dan ngasih dia tendangan di rahang bawahnya.
Ketua geng jatuh dan dia ngasih dia beberapa pukulan di wajahnya, menghancurkannya saat darah keluar dari mulutnya.
Buku-buku jari "Tina" juga berdarah tapi dia gak berhenti sampe lawannya jadi selemah air.
Dia sepertinya gak bisa ngapa-ngapain dan "Tina" keliatan lusuh dan rambutnya berantakan, itu memang pertempuran yang dia hadapi.
"Jordan Duro" berdiri dengan senyum cerah di bibirnya. Ceweknya hebat, dia bagus buat cadangan darurat.
Saat dia berdiri, orang itu ditinggal di tanah, gak bisa ngangkat jari dan bibirnya yang bengkak dan terluka berdarah.
Pukulan keras yang dia terima di perutnya juga bikin dia berdarah dari dalam. Seluruh sistemnya terluka.
"Kunle" dan "Isabella" lari ke arah mereka pas "Tina" berdiri dari orang di lantai, dia keliatan lemah dan kelelahan.
"Tina," "Kunle" manggil dan lari buat meluk dia. Dia tersenyum tipis dan minta orang itu diborgol dan dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.
"Ambulans lagi dalam perjalanan," "Kunle" jawab dan mau bawa "Tina" pergi pas yang terakhir ngerasa dia harus ngeliat si bajingan itu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
Mungkin itu insting atau keberuntungan, dia ngeliat dia ngeluarin benda tertentu dari sakunya…