BAB 15
SUDUT PANDANG BLAIKE IVERSON
"Bantu aku," katanya. Sambil mengatur napas.
"Lo bego ya?" kataku padanya sambil menyeringai. Dia udah kehilangan banyak darah, bentar lagi juga mati.
"Siapa yang nyuruh lo lakuin ini ke bos kita?" Rod nanya.
"Bantu aku," katanya lagi. Terus dia ngangkat tangannya yang penuh tetesan darah.
"Siapa? Bilang ke kita. Atau kita tembak lo," kata Rod lagi.
"To-tolong ban-tu sa-ya," kata orang itu. Dia mohon-mohon buat dibantu. Dia mohon-mohon buat hidupnya. Tapi, ya ampun! Orang kayak mereka emang harus mati.
"PERTANYAAN TERAKHIR, SIAPA YANG NYURUH LO LAKUIN INI?" Rod teriak keras ke dia. Gue udah kesel banget dan pengen langsung nembak dia.
"Tuan Walson," katanya. Sebelum dia kehabisan napas dan mati.
Meskipun dia udah mati, gue tetep nembakin peluru yang udah gue isi ulang ke dia. Rod dan temen gue yang lain langsung siaga pas denger suara tembakan. Mereka berdua cuma ngeliatin dia. Gue belum puas sampe gue selesai nembakin semua peluru yang udah gue masukin ke pistol gue.
"Cek mobil mereka," gue perintahin mereka berdua.
Soalnya mereka berdua natap gue kayak orang gila. Emang kenapa sih!? Gue cuma pengen bunuh dia doang. Bagus juga gue gak iris lehernya.
"Siap, Tuan," kata mereka berdua.
Kayak masih mikir apa yang barusan gue lakuin. Apa ini sesuatu yang baru? Apa gue baru aja ngelakuinnya buat pertama kali?
"Ada cewek di sini," Rod teriak kenceng.
Jadi gue langsung jalan ke arah Rod buat ngeliat cewek yang dia omongin. Pas gue liat muka cewek itu. Bibirnya keliatan merah dan lembut, hidungnya hampir sempurna karena mancung, dia juga pilek, dan bulu matanya panjang banget. Mukanya juga punya bentuk yang unik.
Gue rasa gue rasa-- gak mungkin. Jantung gue mulai berdetak terlalu cepet. Detaknya kayak lagi balapan. Gue denger itu dan makin keras dan keras. Makin cepet dan keras juga. Apa yang terjadi sama gue dan jantung gue?
"Blaike," Rod manggil gue. Terus nepuk bahu gue, akhirnya gue balik lagi ke kesadaran. "Kita mau gimana sama cewek ini?" lanjut dia nanya.
"Gendong dia dan masukin ke mobil. Kita bawa dia ke rumah sakit," gue perintahin dia.
"Siap, Tuan," katanya.
Terus dia gendong cewek itu, supir gue bantu dia. Buat gendong cewek itu dan masukin ke dalem mobil. Gue cuma ngeliatin cewek itu di samping gue. Kita lagi dalam perjalanan ke rumah sakit.
Beberapa jam kemudian, kita sampe di rumah sakit. Rod gendong dia masuk ke dalem rumah sakit. Gue cuma nunggu Rod balik lagi ke sini, ke rumah sakit.
"Gimana keadaannya?" supir gue, salah satu anak buah gue nanya.
"Dia masih tidur. Kata dokter dia kehilangan banyak darah. Tapi mereka lagi berusaha keras buat bikin dia baik-baik aja," jawabnya.
"Kalo soal tagihan rumah sakitnya gimana? Udah lo bayar?" gue nanya.
"Udah, Bos. Gue juga bilang mereka bisa nelpon gue. Kalo ada tagihan lain buat biaya rumah sakitnya," dia ngejawab gue balik.
"Kalo gitu kita harus pergi sekarang. Kita ada urusan penting yang harus dikerjain," kata gue ke dia.
"Oke," katanya.
Terus dia ngangguk, dan masuk ke dalem mobil. Kita lanjutin perjalanan ke tempat penting yang harus kita tuju. Kita gak jauh dari kantor pengacara. Siapa yang bakal bantu kita buat keluarin anak buah Tuan Walson? Rod bukain pintu buat gue. Sementara anak buah gue yang lain tetep di dalem mobil.
"Atty. Alvarez," gue manggil begitu liat nama di mejanya.
"Tuan Blaike Iverson?" katanya. Mukanya nunjukin ekspresi kaget. Kenapa mukanya kayak gitu? Dia jalan ke arah gue dan meluk gue. "Kita saling kenal? Kita pernah ketemu sebelumnya? Gue kenal lo sebelumnya?" gue nanya dia. Soalnya gue bingung.
"Maaf," katanya terus nunduk. Dia kayak sadar apa yang barusan dia lakuin. Dia kayak malu. "Gue seneng lo masih hidup," katanya di udara. Dia bilang ke dirinya sendiri sambil senyum. Dia kira gue gak denger apa yang dia omongin.
"Bisakah kita profesional aja dan balik ke tujuan kita kenapa kita ketemu?" gue nanya dia. Jadi dia balik lagi ke kursinya.
"Silakan duduk," katanya.
Terus nawarin gue buat duduk. Di samping mejanya. Kantornya gak terlalu gede. Tapi kantornya punya kamar mandi sendiri, keliatan bagus. Gue duduk di sisi kiri sementara Rod duduk di sisi kanan.
"Kita butuh bantuan lo. Gue harap Rod udah diskusiin semua info sama lo," kata gue langsung ke dia.
"Udah, dan kita udah bahas. Peluang lo buat menang seratus persen. Gue bisa bantu lo buat keluarin dia dari penjara," jawabnya.
"Berapa banyak uang yang lo butuhin buat kasus ini?" kata gue ke dia.
"Rod udah ngirim pembayarannya ke gue," katanya. Jadi gue liatin Rod.
"Udah, Tuan. Gue udah kasih pembayarannya tadi. Gue lupa kasih tau lo tentang itu. Gue udah beresin semuanya," kata Rod.
"Bagus, tapi lain kali. Jangan lupa kasih tau gue. Itu kan tugas lo," gue jawab Rod.
"Siap, Blaike," jawabnya.
"Jadi kayak yang gue bilang. Mari kita jadwalkan. Kalo kita bisa bayar buat dia bisa bebas dari penjara, kita bakal lakuin itu. Gue berharap sama lo Tuan Alavarez, gue harap secepatnya lo bisa lakuin itu," kata gue ke dia.
"Besok, gue mulai. Buat bantu itu mulai besok," kata Tuan Alvarez.
"Oke, gue rasa udah beres. Makasih atas waktunya, Tuan Alvarez. Kita pergi sekarang," kata gue terus berdiri. Terus salaman sama Tuan Alvarez.
"Senang bekerja sama dengan lo," katanya.
Rod bukain pintu buat gue. Tapi tiba-tiba Tuan Alvarez nanya ke gue. Sebelum gue akhirnya keluar dari ruangan.
"Lo masih inget Amelia?" dia nanya.
Dia ngeliatin gue. Dengan muka bingung. Soalnya gue gak kenal cewek yang dia omongin.
"Nggak," kata gue. Terus ngeliatin jendela di depan.
"Oke," dia cuma jawab.
Terus akhirnya kita keluar dari kantornya. Dan langsung pergi ke tempat parkir. Biar kita bisa naik mobil kita. Dan pergi ke tujuan akhir kita yaitu ketemu Ayah gue. Yang udah lama banget gak ketemu.
Tapi, gue bingung kenapa dia cuma nanya gitu. Kenapa dia nyariin gue cewek yang bahkan gak gue kenal? Tapi, siapa cewek itu? Dan kenapa dia meluk gue tadi? Apa kita pernah ketemu di masa lalu?
Gue punya banyak banget pertanyaan yang terus muncul di kepala gue. Gue pengen tau. Siapa cewek itu? Apa dia bagian dari masa lalu gue? Gue mecah keheningan di antara kita.
"Rod," gue manggil dia. Gue pengen tau siapa cewek itu.
"Lo tau, dia siapa?" gue langsung nanya dia.
"Siapa?" Dia nanya gue bingung. Dia ngeliatin gue soalnya gue duduk di belakang mobil.
"Cewek yang dia omongin. Cewek yang disebut Tuan Alvarez. Namanya Amelia, kan?" gue jawab dia.
"Iya, dia nyebut nama Amelia," katanya.
"Iya, dia. Lo kenal dia? Lo tau apa aja tentang dia?" gue nanya satu per satu pertanyaan. "Maksud gue gak usah dipikirin," kata gue. Gue udah sadar. Soalnya gue terlalu penasaran siapa sih cewek itu. Dia gak penting.
"Gue gak tau apa-apa tentang dia, Blaike," katanya.
"Oke," kata gue terus ngeliatin jendela mobil di samping gue.
"Lo mau tau apa-apa tentang dia? Kita bisa nyewa detektif swasta buat nyari tau keberadaannya," Rod nyaranin gue. Gue gak perlu buang-buang waktu buat cewek. Dia gak penting. Yang perlu gue lakuin sekarang adalah nyelesaiin misi gue.
"Nggak, kita gak boleh buang-buang waktu. Buat hal-hal penting. Kayak, misi kita. Kita harus rencanain dengan baik, dan lakuin dengan baik. Atau hidup kita bakal jadi taruhan atas kebodohan kita," kata gue ke dia. Terus kasih dia ekspresi kosong.
Terus gue cium bau udara segar. Datang dari jendela mobil yang kebuka di samping gue. Gue narik napas dalam-dalam. Gue harus lakuin misi ini dan nyelesaiinnya secepat mungkin. Biar gue bisa dapat kebebasan gue. Dan hidup normal, kayak orang normal.
"Oke, Blaike. Kalo itu yang lo mau. Bilang aja kalo lo mau tau apa-apa tentang dia," Rod ngejawab gue balik.
Gue ganti topik. Gue gak mau ngomongin cewek itu. Yang bahkan gak gue kenal.
"Apa kita udah sampe? Apa Ayah gue masih dipenjara jauh?" gue nanya dia buat ganti topik kita. Gue udah gak sabar ketemu Ayah gue lagi. Setelah 3 tahun gak ketemu dia.
"Udah, Blaike," katanya.
Setelah dia bilang gitu. Kita lanjutin perjalanan kita ke kantor polisi. Gue tutup jendela mobil di samping gue. Pas kita sampe di kantor polisi. Jantung gue berdetak makin cepet dan cepet. Sampe kita sampe di tujuan kita. Gue keluar dari mobil.
"Kantor Polisi," kata gue sambil ngeliatin tulisan di atas. "Kalian berdua tunggu di sini di mobil," gue perintahin mereka.
Gue masuk ke dalem kantor polisi. Dan salah satu polisi datang buat nanya gue.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" dia nanya gue.
"Apa saya bisa ngomong sama Tuan Iverson?" gue nanya dia.
"Tunggu sebentar. Ikut saya," katanya. Terus kita pergi ke area kunjungan. "Saya bakal ambil dia. Tunggu di sini aja," lanjutnya ngomong.
"Oke. Makasih!" gue jawab dia. Terus senyum ke dia.
Gue cuma nunggu beberapa menit. Terus polisi datang sama orang yang mirip banget sama gue. Tapi agak tua yang mirip gue. Gue udah lama gak ketemu dia. Gue kangen dia. Gue berdiri karena kebahagiaan yang gue rasain.
"Ayah," gue manggil dia. Sambil ngelepas borgol di tangan Ayah gue.