BAB 30
SUDUT PANDANG BLAIKE IVERSON
Kulihat ke langit, angin dingin menerpa kulitku. Langitnya biru kayak laut, matahari bersinar seterang bulan. Pelangi warnanya secerah dulu. Burung-burung pada terbang bebas di langit. Kicauan burungnya bikin rileks di telinga. Dan gimana ranting-ranting pohon bergoyang bikin suasana sekeliling jadi damai.
Terus, gue letakin semua jenis pistol di meja kayu samping gue. Ada 5 jenis pistol di sini, Pistol, Revolver, Handgun, Breechloader, dan Gun. Gue taruh pelurunya di sebelahnya. Gue masukin setiap peluru ke pistol masing-masing.
Gue letakin pelan-pelan di meja kayu, pas gue selesai masukin semua peluru, ke setiap pistol.
Gue pake headset elektronik yang ada kabelnya buat ngeblokir suara-suara impulsif, jadi gampang denger orang ngomong di samping gue, tapi sekaligus ngeblokir suara bising dari shotgun. Biasanya disebut headshots peredam bising karena mereka menetralkan suara yang datang dari luar, yang disebabkan pistol gue.
Gue bakal pake headset elektronik ini buat lindungin telinga gue dari suara bising dari pistol, dan setiap kali gue bidik target gue. Bakal gampang banget buat nembak dan bidik target gue karena pendengaran gue bagus. Juga nyaman dipake setiap kali gue latihan skill nembak gue.
Gue pake kacamata tembak yang ada lensa polikarbonat buat perlindungan UVA dan UVB yang bagus. Mereka juga anti pecah dan bantu lo tetap punya penglihatan yang bagus waktu berburu atau latihan di lapangan.
Gue juga pake kacamata tembak gue buat lindungin mata gue. Gue pake ini setiap kali gue latihan skill nembak gue. Ini ngebantu gue banget buat liat dengan bener dan nggak ganggu mata gue. Ini bisa bantu gue setiap kali gue latihan, dan bahkan tanpa itu, mata gue bisa liat target dengan bener. Tapi kacamata ini ngebantu gue banget.
Setelah gue pake headshots elektronik dan kacamata tembak gue. Gue ambil pistol gue dan mulai pasang buat bidik target.
Lima kaleng berdiri di meja kayu jaraknya 40 kaki dari gue. Gue bidik satu per satu dan mulai nembak satu per satu dan gue berhasil menjatuhkan mereka ke tanah dengan gampang, cuma dengan satu tembakan setiap kaleng.
Gue lihat kaleng-kaleng yang digantung, gue juga bidik dan tembak mereka satu per satu. Gue jatohin semuanya. Terus gue alihin perhatian gue ke 10 gelas dan nembak mereka satu per satu dan langsung pecah. Semua pecahannya sekarang berserakan di tanah, pecahan-pecahan ini berserakan di sekeliling.
Gue berhenti nembak dan naruh pistol gue di meja kayu. Gue ambil kursi plastik di deket gue dan minum minuman dingin yang gue beli tadi.
"Blaike," suara yang gak asing manggil gue.
Gue minum dulu sebelum liat ke arahnya.
"Kenapa?" Gue tanya dia.
Cuma Rod, nggak ada orang lain.
Gue nggak tau apa yang dia butuhin!
Soalnya dia lagi ngajak Ayeisha kencan beberapa hari ini. Gue biarin aja dia sebelum kita interogasi anak buah Tuan Walson lagi.
Gue berharap kali ini anak buah Tuan Walson bakal ngasih tau kita informasi penting yang bakal kita pake buat ngelawan. Lebih baik selesaiin misi ini lebih awal dari yang diperkirakan bakal selesai. Gue udah selidikin kasus ini minimal 3 bulan. Gue masih punya 6 bulan lagi buat selidikin kasusnya, tapi gue berencana buat nyelesaiin lebih awal.
Soalnya mereka janji sama gue, begitu gue selesaiin misi ini, bokap gue bakal dibebasin dari penjara juga. Gue beli rumah dan tanah di Zambales biar gue bisa tinggal di sana sama bokap gue. Bokap gue satu-satunya keluarga yang gue punya sekarang. Tanpa dia, gue nggak tau kenapa gue harus lakuin hal kayak gini, itu ngebunuh gue karena tau bokap gue menderita di penjara. Jadi gue putusin buat nyelesaiin misi ini secepatnya biar bokap gue dibebasin.
"Kita mau interogasi anak buah Tuan Walson hari ini?" Dia nanya.
Gue liatin dia sambil minum coca-cola gue.
Seluruh tubuh gue masih keringetan karena hari ini panas. Dan matahari hampir ngebunuh gue.
"Mungkin, nanti. Gue istirahat dulu. Gue baru selesai latihan," Gue jawab dia. "Kenapa lo nggak latihan skill lo juga?" Gue tanya dia.
"Lo punya peluru dan pistol cadangan?" Dia nanya gue.
"Pilih aja pistol yang ada di sini," Gue jawab sambil nunjukin peluru dan pistol di samping gue
Gue liatin dia.
Dia lagi nyoba mikir, mau pake apa buat latihan skillnya.
Setiap kali kita ke tempat latihan ini. Ini cuma 30 menit dari mansion gue. Nggak ada tetangga di sini, makanya gue suka di sini. Nggak ada yang bisa denger suara tembakan setiap gue dan Rod latihan di sini.
Bahkan gue jago banget nembak dan bidik target. Gue nggak bisa salah sasaran. Makanya gue selalu ke sini di waktu luang buat latihan skill nembak gue. Skill gue hampir sempurna karena kadang gue bikin kesalahan dan salah sasaran. Dan buat gue, nggak masalah karena gue nggak bisa sempurna kayak fantasi dalam mimpi mereka. Gue nggak bisa sempurna dalam hal ini, gue juga manusia yang bisa bikin kesalahan kayak mereka.
Gue liatin Rod pas dia milih pistol yang biasa gue pake buat nembak.
"Isi ulang peluru di dalamnya. Soalnya gue pake, dan gue udah pake semua peluru di dalamnya," Gue bilang ke dia.
Dia milih pistol yang sama kayak yang gue pake karena nggak berat, dan gampang dipake. Makanya dia milih itu juga, lebih bagus dipake daripada pistol lain. Gue juga bakal milih itu kalo gue yang disuruh.
"Siap," dia jawab.
Gue cuma ngangguk ke dia.
Dia mulai isi ulang peluru di pistolnya. Gue cuma natap pistol itu sepanjang dia isi ulang. Setelah dia isi ulang pistolnya dengan beberapa peluru, dia pake headshots elektronik dan kacamata tembak.
Itu beneran berguna setiap kali kita berdua latihan di sini. Kita berdua pake itu buat telinga dan mata kita kapanpun kita lagi latihan skill nembak kita.
Gue denger suara tembakan setiap kali Rod nembak target. Dia nembak dan bidik botol kaca dan kaleng, dia bisa jatohin mereka dengan gampang. Tapi beberapa kali dia salah sasaran dan nembak lagi.
Skillnya nggak sempurna tapi hampir sama kayak skill gue. Dia juga belajar selama dia sama gue. Dia bakal jadi yang terbaik dari semuanya pas gue keluar dari dunia bawah tanah. Gue yakin dia yang bakal gantiin gue di posisi itu begitu gue berhenti karena dia udah belajar banyak tentang gue. Gue ajari skill yang berbeda, dan dia hampir sempurna. Dia pilihan terbaik buat gantiin gue nanti.
"Lumayan!" Gue komen setelah dia lepas kacamata dan earphone dan naruh pistolnya di meja kayu.
Dia cuma nyengir dan duduk di meja.
Gue cuma liatin gelas dan kaleng yang berserakan di tanah.
**************************************
Salah satu anak buah naruh alat-alat buat nyiksa.
Jenis perlengkapannya ada sabuk kejut, tongkat kejut, tongkat berduri, borgol, pisau beracun, pisau, cambuk, borgol kejut listrik, palu, pistol, belati, revolver, senapan, Pisau Parit M1918, Pisau U.S Marine KA-BAR, Pisau Tempur Faibarin-Sykes, Jarum Beracun, dan Bayonet Segitiga. Semua alatnya bersinar seterang matahari.
Gue sentuh permukaannya yang perak tanpa cela, sambil gue jalan di ruangan, nyentuh satu per satu sambil gue jalan, milih salah satu alat, gue bakal pake buat nyiksa orang di depan gue.
"Mau siksaan? Sakit? Penderitaan?" Gue tanya dia dengan jahat dan nyengir ke dia.
Sementara dia duduk di kursi, diikat tali.
Gue ambil beberapa belati dan main-mainin.
Gue bisa liat dari logam belati yang gue pegang, rasa takut yang dia coba atasi. Pas gue liat matanya, mata kita ketemu, dan dia langsung buang muka.
Rambut di tubuhnya mulai berdiri, gue bisa denger detak jantungnya yang kencang, lututnya melemas, seluruh tubuhnya mulai gemetar, dan tangannya bergetar. Matanya nunjukin rasa takut, dan bibirnya gemetar kayak mau ngomong sesuatu, tapi nggak ada suara yang keluar dari mulutnya, dan dahinya mulai berkeringat karena takut dan gugup.
"J-jangan," dia gagap ngomong.
"Kalo gitu, kasih tau gue semua yang perlu gue tau!" Gue perintah.
Gue lempar belati ke dinding. Ada luka di lehernya karena gue lempar belati ke arahnya. Belatinya sekarang nempel di dinding. Darah netes dari lehernya, karena luka yang disebabkan belati yang gue pake.
"Mau gue iris leher lo? Copot mata lo? Copot organ lo? Atau potong bagian tubuh lo satu per satu?" Gue ejek dia.
"Tolo-ong," dia mohon.
Gue liatin dia, dengan rasa kasihan di mata gue.
"Kalo gitu, kasih tau gue apa yang harus gue tau," gue bilang.
Dia geleng-geleng kepala.
Dia takut dan gugup di saat yang sama.
Kalo dia masih nggak mau ngomong, bahkan kalo dia nggak mau ngomong apa-apa. Kita bakal lakuin dengan cara yang keras. Dalam hal itu, gue harus nyakitin dia.
"Kalo gitu, kita bakal lakuin dengan cara yang keras," Gue ejek dia dan nyengir ke dia.
Gue tutup mata dan jalan buat ambil beberapa senjata. Gue sentuh permukaannya, dan setelah sedetik gue berhenti terus gue liat alat apa yang gue pilih.
Gue pilih belati, nggak jelek.
Gue ambil dan sayat kulit anak buah Tuan Walson di lengan kirinya, sementara dia diikat di kursi.
"Tolong! Berhenti," dia mohon gue.
"Lo mau kasih tau gue semuanya sekarang!" Gue tanya dia.
"Bisa! Gue nggak bisa karena mereka bakal bunuh gue. Tuan Walson bakal nyuruh seseorang buat bunuh gue. Kalo gue kasih tau lo semuanya, mereka bakal bunuh gue. Gue nggak mau mati. Tolong! Gue mohon sama lo. Tolong!" Dia mohon sama kita.
Gue taruh belati di meja, sambil ada darah di atasnya.
Darah terus netes di lantai dari luka-lukanya.
Gue jalan di depan dia dan naruh kursi sejauh satu meter dari dia. Terus duduk, di depannya.
"Kita bakal lindungin lo, lo, dan keluarga lo. Tapi kasih tau kita informasi yang kita butuhin dari lo," Gue bilang dengan serius ke dia.
"Apa itu bener?" Dia langsung nanya gue.
"Iya!" Gue jawab.
"Kalo hidup gue tergantung pada itu. Gue bakal percaya kata-kata lo. Terus gue bakal kasih tau lo semua informasi yang lo butuhin, sebagai ganti keselamatan gue, dan juga buat hidup gue," Dia nyatakan. "Di Zambales, bakal ada pengiriman besar obat-obatan terlarang, lo bisa cari mereka di sana dan hentikan mereka," Dia lanjut.
"Lo yakin?" Gue tanya dia buat mastiin.
"Iya," Dia ngangguk.