Bab 5
SUDUT PANDANG ORANG KETIGA
Waktu mereka masuk ke ruangan, angin dingin menerpa kulit mereka yang telanjang, bikin seluruh tubuh mereka menggigil. Seluruh ruangan gelap, dingin, dan mengerikan. Gak ada jendelanya, penuh sama sarang laba-laba dan bau ruangan yang berasal dari tetesan darah yang tersisa di lantai, yang berasal dari mayat yang mereka pindahkan beberapa hari lalu, hal pertama yang mereka lihat adalah darah yang berserakan di seluruh lantai, baunya busuk sampe orang normal gak tahan.
Tapi pas mereka lewat, mau ke kursi, mereka udah biasa banget sama bau itu, malah udah gak peduli lagi.
Mereka cuma duduk di kursi mereka dengan nyaman, meskipun suasana seluruh ruangan sangat gak enak, dan mulai ngobrolin sesuatu yang penting.
"Lo udah kirim emailnya ke Renzo?" tanya seorang wanita di pertengahan usia 40-an.
"Udah, bos! Tapi dia belum bales email gue nih. Padahal gue udah nunggu balesan dia dari kemarin," jawabnya sopan.
Mereka ngobrol di sudut ruangan, tempat yang gelap. Baunya darah makin lama makin nyengat. Soalnya mereka ngobrol di ruangan itu dengan pelan.
"Kita tunggu aja dia sampe sini," katanya terus ketawa jahat.
Senyum sinis terbentuk di wajah mereka. Rencana jahat udah disetujui, diputuskan, dan dibuat.
Mereka berdua terus ngobrol dan ngebahas rencana mereka.
Sementara itu, Renzo udah baca email mereka. Dia langsung ngebut ke markas bawah tanah, tempat dia akan ketemu sama mantan atasannya. Soalnya dia udah keluar dari organisasi itu tiga tahun lalu.
Begitu dia masuk pintu, dia langsung masuk tanpa ngasih tau penjaga, para penjaga ngikutin dia dan coba buat berhentiin dia. Renzo buka pintu ruang konferensi, tempat rapat lagi diadain. Penjaga nahan dia, tapi atasannya nyuruh mereka berhenti.
"Berhenti!" kata salah satu atasan dengan nada kasar.
"Keluar! Dan biarin kita sendiri," suara cewek terdengar.
"Renzo, lo dateng tepat waktu. Kita udah nungguin lo,"
"Lo pada mau apa sih!?" Renzo nanya dengan marah.
Mata dia penuh amarah, tubuhnya kayak ngepul api, dan tatapan matanya kayak pisau tajam yang mau nusuk lo. Dia ngepalin tangan dan rahangnya mengeras. Dia lagi berusaha nahan amarahnya.
Di sekelilingnya ada orang-orang yang haus ambisi, keserakahan, kekuasaan, dan uang. Darah bakal berceceran di tanah, mereka bakal mengotori tangan mereka demi tujuan mereka.
"Tenang, Renzo!" kata salah satu atasannya dengan tenang. "Duduk sini!" lanjutnya.
"Langsung aja ke intinya. Lo mau apa dari gue!" kata Renzo setenang mungkin.
"Kita kirim email ke lo soalnya, Blaike Iverson udah keluar dari grup ini. Lo salah satu orang yang paling mampu buat ngerjain misi ini, jadi kita mau lo yang ngerjain, tanpa penjelasan dan briefing tambahan. Rod Azrael akan jadi asisten lo, lo bakal ambil alih tim dia. Mantan ketua mereka Blaike," mereka jelasin ke Renzo dengan lancar.
"Dan misi itu apa?" Renzo nanya dengan penasaran, dan ngangkat alisnya.
"Kita dapet informasi ada perdagangan manusia besar-besaran yang lagi terjadi di negara kita. Orang di balik itu mengarah ke CEO RCC atau yang dikenal sebagai Rivera Corporation Company, dan dia adalah Amelia Rivera-Smith," kata atasannya.
Denger kalimat itu bikin tubuh Renzo lemes. Kakinya mulai gemeteran, matanya pengen keluar, ekspresinya bahkan gak bisa dilukiskan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar.
"I-i-istri gue?" kata Renzo dengan suara gagap.
Buat mastiin dia denger yang bener.
"Iya! Istrimu,"
Renzo bingung dan hancur dalam waktu yang sama. Dia gak percaya sama apa yang baru dia denger. Tangannya gemeteran, matanya mulai nunjukkin rasa takut, matanya jadi item semua, dan seluruh tubuhnya kayak membeku kayak es soalnya dia bahkan gak bisa gerakin satu langkah pun.
"Lo punya dua pilihan Renzo bunuh dia atau serahin dia ke kantor polisi," katanya.
"Gue tau lo orang yang paling deket sama dia. Bahkan lo keluar dari organisasi bawah tanah udah lama. Lo masih punya urusan yang harus diselesaiin soalnya, kalo kita, organisasi gak bantuin lo. Lo gak akan ketemu dia dan punya kekayaan kayak gitu," salah satu atasannya lanjut ngomong.
"T-t-tapi---," Renzo bales tapi, mereka gak biarin dia nyelesaiin kalimatnya.
"Gak ada tapi-tapian!" mereka motong omongannya. "Sekarang, mikir Renzo! Mikir baik-baik, rapat ini selesai kita serahin ke lo. Kita kasih waktu empat bulan buat misi ini," katanya.
Atasan Renzo mulai pergi satu per satu setelah ngomong gitu. Mereka ninggalin dia di sana dengan hancur dan gak berdaya. Pikirannya lagi kacau banget sekarang. Seluruh tubuhnya kosong saat ini.
Dia jalan ke arah meja, dan dalam amarahnya, dia ngelempar kertas-kertas dan mereka jatuh ke tanah. Dia mukul meja beberapa kali dan narik rambutnya sambil ngelihat ke bawah ke meja. Dia bener-bener lagi dalam kesulitan sekarang.
Soalnya dia harus ngebunuh orang yang dia cintai.
"Bukan lo! Bukan lo, Amelia!" dia berteriak marah, bergema di seluruh penjuru ruangan.
Dia ngelihat ke atas, dia kumpulin semua akalnya. Kehadiran buruk mulai muncul di seluruh tubuhnya. Dia meremas rahangnya, terus ngepalin tangannya. Tatapannya kayak jarum beracun yang bakal membunuh lo langsung, tatapannya penuh amarah, dan juga ada rencana yang lagi dimainin di kepalanya.
"Gue gak bisa bunuh istri gue!" kata Renzo dengan marah.
Terus dia pegang gelas di sampingnya dan ngelemparnya ke dinding. Gelas itu pecah berantakan di seluruh lantai, sama anggur di dalamnya.
"Tapi gue bakal lakuin apa aja buat lo, cintaku,"