BAB 27
SUDUT PANDANG AMELIA RIVERA
Aku lagi ngeliatin diri sendiri di cermin.
Harusnya gue ngelakuin hal yang bener gak sih?
Apa gue cinta sama Renzo? Apa gue punya perasaan sama dia?
Apa ini hal yang bener buat dilakuin?
Tapi gimana dengan Blaike?
Gimana kalau dia nemuin gue, terus dia pengen sama gue lagi?
Banyak banget pertanyaan yang berkecamuk di pikiran gue. Pengen banget ada jawabannya, tapi bahkan gue sendiri gak tau harus jawab apa buat diri gue sendiri.
Pertanyaan ini bikin hati gue hancur berkeping-keping. Nikah sama orang yang gak dicintai rasanya kejam banget.
Tapi, Blaike...
Gue gak tau!
Tiga tahun lalu, waktu dia mau masuk penjara. Beberapa orang gak dikenal menculiknya, atau ngebunuhnya, gak ada yang tau. Beberapa polisi nyoba nyari dia karena mereka mikir itu anak buahnya yang nolong dia kabur, tapi ternyata enggak. Mereka nemuin mayatnya di danau, dan dia meninggal.
Blaike kesayangan gue meninggal.
Tapi di dalam diri gue, ada sesuatu yang bilang dia masih hidup, dan gue juga mikir ide gila itu. Sampe sekarang, gue percaya kalau cinta sejati gue masih hidup.
Tapi kalau Blaike masih hidup, kenapa dia gak pernah ngehubungin gue selama ini?
Tapi kata lab, itu bukan Blaike, mayatnya bukan dia.
Gue gak tau harus percaya sama yang mana!
Mau dia hidup atau enggak. Gue gak bakal tuker perasaan gue ke dia buat apapun di dunia ini.
Gue ngelirik diri sendiri di cermin, waktu gue lagi nyisir rambut.
Sambil dandan, banyak banget pikiran yang berkeliaran di kepala gue.
Renzo orangnya baik, keren, tapi sekeras apapun gue coba, gue gak bisa punya perasaan sama dia, mungkin bahkan gak sedikitpun.
Setelah tiga tahun cinta sama dia, gue nyoba tapi nyerah. Gue gak ngerti apakah gue udah jatuh cinta sama dia atau belum. Gue bahkan gak ngerti diri gue sendiri.
"Sayang," suara lembut dan merdu memanggilnya.
Gue naruh sisir dan ngeliat ke pintu yang manggil gue.
"Renzo?" bisik gue manggil namanya.
Gue langsung natap matanya, dan mata kita saling bertemu.
Mata bengkak yang dia punya yang bikin cewek manapun jatuh cinta, bulu mata lentik yang panjang, bibirnya yang merah kayak mawar, hidungnya yang mancung, dan rambut hitamnya yang berantakan. Badannya yang maskulin keliatan banget di balik kemeja putihnya. Maskulin banget, dan di balik kemejanya ada perut six pack.
"Amelia," Renzo manggil nama gue lagi.
Gue balik lagi ke dunia nyata waktu dia manggil gue lagi.
Gue pengen nyubit diri sendiri karena malu.
Gue baru aja bilang ke diri sendiri kalau gue gak suka sama dia, tapi sekarang, gue malah ngelamun mikirin dia.
Malunya, Amelia!
"A-apa yang kamu lakuin di sini?" kata gue.
"Kamu gak inget kita mau ke toko gaun pengantin hari ini?" Dia ngingetin gue. "Elaine, Skyie, sama Kenzo udah di sana sekarang. Mereka nungguin kita," lanjutnya.
Oh! Sial.
Gue lupa!
Kenapa gue gak inget semudah itu?
Gue malu banget sama diri sendiri. Hari ini hari buat nyobain gaun pengantin buat para pengiring pengantin, tapi gue lupa sekarang. Gue kelelep dalam pikiran gue antara Blaike dan Renzo.
"Ayo! Kita udah telat," kata gue buru-buru ke dia.
Gue ambil hp gue dan masukin ke tas bahu, terus genggam tangan Renzo dan narik dia ke arah mobil.
"Umm," dia kaget karena gue narik dia ke sini.
Dia masih mikirin apa yang terjadi.
Gue ambil kunci mobil gue, waktu dia masih mikirin kejadiannya.
Gue pake kunci gue dan pencet buat buka mobil, itu juga bikin suara berisik, dan dengan itu Renzo balik ke kesadarannya.
"Ow! Oke. Kamu bisa masuk sekarang, Sayang," katanya kalem, bikin dirinya nyaman di suasana yang memalukan karena dia tadi lagi asik sama pikirannya.
Dia buka pintu mobil buat gue dan gue masuk. Dia juga masuk ke mobil, dan gue kasih kunci mobilnya. Dia nyalain mesin, dan kita pergi.
Gue ngeliatin dia waktu dia nyetir dan dia ngeliatin gue.
"Ada kotoran di muka aku?" Dia nanya, dan ngeliat ke jalan lagi.
Dia lagi nyetir, jadi matanya gak boleh lepas dari kemudi dan juga jalan. Karena kalau enggak, kita berdua bisa kecelakaan.
"Gak ada!" jawab gue.
Gue buang muka karena malu.
Gue buka jendela mobil dan ngeliat ke luar. Waktu suasana di antara kita jadi hening, udara dingin lewat di kulit gue yang terbuka. Matahari bersinar kayak bulan, langitnya cerah kayak air, dan burung-burung terbang bebas di langit.
Gue pengen bebas juga...
Tapi gue punya peran penting di perusahaan, apalagi di hidupnya Renzo.
Di hari, waktu gue setuju sama ibunya buat nikah sama dia. Gue gak pernah cinta, gue gak pernah, dan gue gak mikir gue bisa kalau gue masih cinta sama Blaike.
Gue kasih harapan ke Renzo kalau gue bisa jatuh cinta sama dia dengan setuju buat nikah sama dia. Gue gak ngerti kenapa gue setuju waktu itu. Mungkin gue mikir itu ide bagus karena Blaike ditangkap karena konspirasi buat ngebunuh orang tua gue. Dan gue pengen ngejalanin keinginan orang tua gue buat nikah sama pria pilihan mereka dan itu Renzo. Gue diajarin kalau gue setuju buat nikah sama dia, gue bakal bahagia dan akhirnya bisa cinta sama dia tapi gue salah.
Gue masih gak cinta sama dia setelah tiga tahun tunangan.
Gue masih gak cinta sama Renzo...
**************************************
"Amelia," suara yang familiar seorang wanita memanggil gue. "Lama gak ketemu!" Lanjutnya dan meluk gue erat.
"Elaine," gue panggil namanya dengan suara lembut gue.
Dia lepasin pelukannya, biar gue gak dipeluk lagi.
"Kita baru ketemu minggu lalu di kantor gue," kata gue sambil senyum ke dia.
"Maaf!" Dia ketawa kecil.
Gue tarik napas panjang dan menghela napas.
Gue ngeliat calon kakak ipar gue, Elaine. Dia cantik, perhatian, dan asik buat diajak ngobrol. Dia punya kepribadian yang baik, dia hampir sempurna. Makanya Skyie, saudara laki-laki gue, suka sama dia.
Pernikahan mereka bakal diadain empat tahun dari sekarang. Gue seneng buat Elaine dan Skyie. Gue harap mereka gak bakal berakhir kayak gue dan Blaike.
"Mbak! Lewat sini ya," seorang staf memotong percakapan kita.
Kita duduk di sofa hijau yang nyaman, dengan meja di tengah, dan beberapa majalah di meja juga.
Gue duduk nyaman, waktu Elaine duduk di samping gue.
"Mau jus, air, atau kopi, Mbak?" Dia nanya.
Gue ngeliatin dia!
Dan mikir sebentar sebelum jawab...
"Kopi, tolong! Tapi tanpa gula," jawab gue ke dia dan alihin perhatian gue ke Elaine. "Gimana sama kamu, kamu mau apa?" Tanya gue ke dia.
"Cuma jus aja," jawabnya dan senyum ke staf.
"Saya balik lagi ya! Mbak," dia jawab sopan.
Gue cuma ngangguk ke dia.
Gue ngeliatin dia sampe mata gue gak bisa liat dia lagi.
Gue alihin perhatian gue ke sekeliling. Ada banyak banget gaun, baju, dan tuksedo yang beda. Mata gue berhenti di gaun kristal yang cantik.
Gue berdiri buat merhatiin gaun pengantin yang gue rasanya bakal gue cinta.
Gaunnya putih, gue liatin dan pegang gaunnya, gue ngerasain bahan apa yang dipake buat bikin gaun ini, itu satin. Potongannya tube tapi ada selendang buat ditaruh di bahu gue. Sepanjang gaun, ada kayak kristal berlian yang dibordir di sini.
"Gue suka!" bisik gue ke diri sendiri dan berhenti buat nunjukkin kegembiraan gue.
"Hei! Kak. Kamu mikir gaun ini pas di hari pernikahan kamu?" Suara yang familiar nanya gue.
Gue ngeliatin dia dan lepasin tangan gue dari gaun.
Itu...
"Skyie," gue panggil namanya.
"Kita keliatan keren gak?" Dia nanya.
"Kamu keliatan ganteng," gue ketawa kecil.
Dia pake tuksedo biru dan dasi hitam dengan celana hitamnya. Cara rambutnya berantakan, dan cara dia senyum, dia keliatan lebih menarik.
Tapi, duh!
Dia saudara laki-laki gue...
"Ah! Udah deh! Kak. Bilang kalau kamu cuma bercanda," katanya.
Gue ketawa ke dia.
"Gimana sama gue, Kak?" Elaine memotong.
"Kamu keliatan cantik! Itu cocok banget buat kamu. Sayangku, calon kakak ipar," jawab gue dan senyum ke dia.
Elaine pake gaun tanpa lengan yang bikin tulang selangkanya keliatan, dan kaki serta kakinya sedikit keliatan karena ada belahan di sisi gaunnya.
Mereka keliatan bagus barengan.
"Itu yang kamu mau?" Gue nanya mereka.
"Kita cuma mau nyoba cari lagi," jawabnya. "Tunggu! Kak. Dan kita bakal nyoba cari lagi setelan dan gaun buat kita coba," Skyie pamit sama Elaine.
Gue cuma ngangguk dan biarin mereka pergi.
Gue terus ngeliat Kenzo lagi susah benerin dasinya.
(Kenzo itu saudara Renzo)
"Kamu ada masalah?" Gue nanya dia.
Terus bantuin dia benerin dasinya.
Dia cuma natap gue kosong.
"Selesai!" kata gue setelah selesai benerin dasinya.
Dia juga pake tuksedo biru dan dasi merah. Biru itu tema pernikahan gue.
"Gue bisa sendiri!" Dia jawab dingin dan pergi.
Apa masalahnya dia?
Mungkin dia dan Renzo kembar identik tapi kebiasaan mereka beda satu sama lain. Gue gak peduli dan biarin dia.
Gue ngeliat sekeliling semua orang sibuk nyari setelan terbaik buat mereka, bahkan Renzo sibuk. Semua toko gaun pengantin ini kita sewa, jadi gak ada orang di sini kecuali kita.
"Pernikahan gue cuma beberapa bulan lagi,"