BAB 3
SUDUT PANDANG XAVIER LIAM SCOTT
Gue masuk ke lorong gelap, cuma cahaya obor yang nyala menerangi tempat itu. Di dinding semen, ada obor, yang nyala jadi terang di lorong gelap ini. Langit-langit dan sisi dinding penuh sama jaring laba-laba. Di sini, dingin banget, bikin badan gue menggigil.
Angin dingin lewat di kulit gue yang telanjang. Gue cuma jalan-jalan di lorong panjang dan gelap ini. Semua pintu ditutup karena anak-anak serigala pada tidur.
Besok pagi banget bakal ada latihan keras lagi. Gue jalan di koridor panjang ini karena mau nanya satu hal penting ke salah satu atasan gue.
Tapi pertama, gue mau cari Daven dan nyuruh dia sesuatu yang penting...
Gue keliling markas sampai nemu Azeri. Dia lagi duduk di teras rumah. Gue samperin dia dan nepuk bahunya.
"Mau anggur?" Dia nanya dan minum anggurnya.
"Enggak. Makasih!" Gue nolak.
Gue liat bulan yang bersinar di langit, sinarnya sama kayak dulu. Langitnya gelap kayak gang. Ribuan bintang bersinar di langit, yang kasih cahaya ke sekeliling.
Gue cuma bisa denger burung berkicau. Malamnya sepi kayak beberapa hari lalu.
Cuma kegelapan yang datang tiap malam yang bisa bikin gue bahagia.
"Anak-anak udah belajar apa hari ini?" Gue nanya sambil natap bintang-bintang di langit.
Dia minum dulu anggurnya sebelum jawab.
"Iya!" Jawabnya singkat.
Gue gak pernah kasihan sama anak-anak itu. Karena mereka harus hadapin kenyataan yang kejam. Mereka harus belajar buat lindungin diri sendiri.
Di dunia ini, mereka harus berdiri sendiri, karena gak ada yang mau mempertaruhkan nyawa cuma buat lindungin mereka. Dan organisasi ini ngajarin gue itu. Makanya gue selalu keliatan kejam di mata orang lain. Mereka bahkan gak tau kalau cuma organisasi yang bikin gue kayak gini, dan gue gak pernah kayak gini sebelumnya.
"Gue denger organisasi mau berenti adopsi anak serigala muda buat sementara," Gue mulai pembicaraan sebelum tempatnya jadi sepi.
Dia natap gue dengan penasaran di wajahnya dan naruh anggur yang mau dia minum.
"Beneran?" Dia nanya gak percaya.
"Iya!" Gue jawab singkat.
"Itu berita bagus! Soalnya kita bahkan gak bisa nanganin anak-anak itu, susah banget buat diajarin dibanding tahun lalu," komentarnya.
Dia bener, susah banget buat latih anak-anak itu dibanding tahun lalu. Karena mereka lebih takut dari sebelumnya.
Tapi kita gak bisa bilang "GAK" buat kerjaan ini...
Gue gak ngerasain hal yang sama. Karena gue selalu dikasih misi dari atasan kita. Dan gue mau selesaiin secepat mungkin.
"Lo bener!" Gue jawab.
"Jadi, atasan udah kasih lo misi?" Dia nanya sambil ganti topik.
Oh! Sialan. Gue lupa mau nanya sesuatu yang penting ke atasan gue.
Gue bener-bener lupa!
Karena gue ngobrol sama Azeri kelamaan dan gak sadar waktu. Gue harus cari atasan keempat kita buat nanya sesuatu.
"Udah," Gue jawab.
"Bagus buat lo!" Dia jawab.
"Gue mau pergi, Azeri. Karena gue mau ngobrol sama atasan kita buat sesuatu yang penting," Gue bilang sebelum balik badan buat pergi.
Dia cuma ngangguk ke gue dan senyum sebelum minum anggurnya.
Gue keluar dari balkon dingin dan menuju koridor panjang. Banyak banget kamar di sini. Beberapa kamar buat anak-anak, ruang latihan, ruang rapat, dan banyak lagi.
Mungkin ada sekitar 400 kamar di sini di gedung 16 lantai ini. Setiap lantai ada 25 kamar, gue selalu pake lift biar jalan gue lebih cepet dan singkat.
Gue liat jam tangan gue sambil jalan. Sekarang udah jam 10 malem. Atasan keempat kita pasti ada di kamarnya yang biasa. Karena jam segini gue yakin rapatnya udah selesai.
Gue harus nanya dia buat beberapa file buat misi yang ilang dari file yang dia kasih ke gue. Gak lengkap, dan gue butuh file yang lengkap biar penyelidikan gue gampang kayak dulu.
Gue juga harus bilang ke dia kalau bisa gue mau istirahat seminggu aja. Karena Taurel bilang dia butuh gue buat nemenin dia. Dan gue udah janji, dan gue gak mau batalin janji itu. Gue sekarang berdoa semoga mereka bolehin gue istirahat seminggu, cuma buat seminggu.
Setelah beberapa menit jalan dan naik lift berkali-kali. Akhirnya gue nemu kamar atasan keempat gue. Tempat dia selalu mau istirahat sebentar.
Gue narik napas dalem-dalem dan menghela napas.
Ada sedikit ruang terbuka di pintunya, jadi gue bisa liat sedikit kamarnya dari ruang yang kebuka.
Gue mau masuk tapi gue denger dia lagi ngobrol sama seseorang.
"Kita udah nemu anak perempuan Sang Mantan Alpha yang hilang bertahun-tahun lalu. Alpha yang nikah dan bikin lunan*ya jadi serigala setengah darah," katanya.
"Beneran?" Atasan gue nanya.
Gue sadar itu dia meski gue gak liat dia karena gue tau suaranya.
"Siapa aja yang jatuh cinta sama dia gak bakal pernah disentuh. Sang Mantan Alpha bikin aturan kalau gak ada yang berani nyakitin putrinya, atau mereka bakal langsung dibunuh. Makanya kita gak bisa nyakitin dia," jawabnya.
"Gue tau ini bakal terjadi. Pikiran gue bener!" Atasan gue jawab.
Gue dengerin baik-baik buat denger mereka ngomongin siapa.
Sejak Sang Mantan Alpha meninggal, putrinya gak tau ada di mana.
Sekarang mereka ngomongin dia. Dia bener-bener punya takdir yang bagus karena gak ada yang berani nyakitin dia. Karena aturan yang dibuat ayahnya bertahun-tahun lalu.
"Siapa lagi namanya?" Atasan gue nanya.
Hal selanjutnya yang gue denger bikin gue kaget dan lemes. Lutut gue mulai gemeteran, dan gue mau duduk karena kaget.
Nama yang mereka sebut terus-terusan muter di pikiran gue.
Gue gak percaya!
Gimana?
Kenapa?
Kenapa harus dia?
"Taurel Leana Wilson,"