BAB EMPAT PULUH TIGA
Halo, Patrick, aku udah nungguin kamu nih.”
“Suka kejutan kecilku?” dia mengejek sambil memutar kursi kantornya untuk menatap tatapanku yang membara, tapi aku lebih kaget sama orang lain yang berdiri di kantornya.
Itu tetua kepala di dewan, orang yang aku temui untuk diskusi tentang situasi kawanan.
Dia komplotan sama badut ini?
“Apa-apaan sih yang terjadi di sini?” Aku membentak mereka.
“Santai aja, Patrick, selalu ada waktu buat penjelasan,” kata tetua.
“Lanjut, aku udah gak sabar pengen denger,” kataku datar.
Dia yang bertanggung jawab atas pembantaian bersama dengan Alpha Dickson?
Kawanan ini mau jadi apa sih?
Orang-orang yang ditugaskan buat lindungin kawanan malah jadi yang pertama bikin bahaya.
“Alpha Dickson udah ungkapin semua rencananya buat kawanan ini dan udah janjiin aku posisi bagus di dewan dia,” kata tetua dengan menyeringai.
Aku ngelihat dari dia ke Alpha Dickson yang lagi duduk di kursi dengan senyum meremehkan di wajahnya.
Aku lakuin satu hal yang gak mereka sangka bakal aku lakuin, aku meledak dalam tawa yang tak terkendali.
Mereka berdua natap aku dengan kaget, aku megangin dada sambil ketawa keras banget.
Mengusap air mata dari sudut mata, aku hadapin tetua. “Kamu sebodoh itu sampe gak sadar kalau dia cuma manfaatin kamu dan bakal nendang kamu begitu kamu udah gak berguna lagi?” aku nanya ke tetua.
Dia keliatan kehabisan kata-kata buat beberapa saat dan gak bisa ngomong apa-apa, aku tebak dia gak coba mikir dari sisi ini dan percaya aja sama apapun yang Alpha Dickson omongin.
“A…apa?” dia nanya.
“Aku bilang, kamu bantu bunuh 11 tetua kawanan, orang yang sama yang lindungin hukum yang mengatur kawanan ini dan kamu pikir kamu aman dari si pembunuh yang sama. Gimana caranya kamu bisa jadi tetua, kamu sebodoh itu,” aku bilang pelan.
Dia tersadar dari lamunannya dan natap aku dengan jijik di matanya.
“Patrick, aku gak percaya kamu mau nge-adu domba anak buahku sendiri,” kata Alpha Dickson.
“Jangan kurang ajar sama aku, Alpha Dickson!” Aku menggelegar, nge-lepas gelombang dominasiku, serigala aku minta penyerahan diri dan kalau dia gak nurut, leher bakal dipotong.
Aku natap Alpha Dickson lama dan keras sampe dia nundukin kepalanya dan yang aku bisa lihat cuma ubun-ubunnya.
Aku ngangguk puas sama penyerahan diri dan rasa hormat yang dia kasih meskipun terpaksa.
“Kamu harus hormati aku!” Aku nyatakan dengan tegas.
Dia ngelihat aku setelah beberapa saat dengan senyum meremehkan yang sama di wajahnya, tapi hal yang sama gak bisa dibilang buat komplotannya, tetua pucat ketakutan dan wajahnya kelihatan ketakutan.
Aku merendahkan diri ke kursi dan bikin diri aku nyaman, gak peduli sama tatapan di wajah mereka.
“Jadi, kasih tau aku lagi, apa sih rencana besar yang kamu bangga-banggain itu,” aku nanya, ngadepin tetua langsung biar dia tau kalau aku ngomong sama dia.
Dia gemetar ketakutan dari tindakan yang aku kasih, serigala aku joget kegirangan sambil makan ketakutannya.
“Aku gak tau apa yang kamu omongin,” katanya.
“Enggak, kamu keliatan tau banyak tentang sahabat baru kita dan bunuh pasangan. Tolong kasih tau aku tentang rencana hebat yang pasanganmu punya buat kawanan kita,” aku bilang dengan nada tegas.
Alpha Dickson gelisah di kursinya, aku rasa dia udah sadar kalau aku bukan tipe yang bisa dikelabuhi dan aku bakal bener-bener melawan kalau udah mentok. Dia pikir bunuh orang-orang itu bakal bikin aku goyah, tapi dia salah besar. Aku kaget, aku akui, tapi tau kalau dia komplotan sama tetua bikin aku mikir siapa lagi yang terlibat. Kita punya kesetiaan yang terbagi di sini di kawanan dan itu bisa bikin kerusakan serius.
“Aku mau bikin kita jadi kawanan nomor satu, rencana buat milikin hibrida dan bikin dia nurut sama aku bakal bikin aku jadi alpha yang paling ditakuti di seluruh utara,” Alpha Dickson menyatakan.
“Hibrida?” Aku nanya dia.
“Iya.”
“Kita udah gak punya itu selama berabad-abad sekarang dan tau kalau orang kayak kamu nyari mereka, aku punya alasan buat percaya kalau mereka lagi ngumpet,” aku bilang sebagai fakta.
“Aku tau, tapi aku bakal nemuin dan bawa dia ke sini,” katanya berani.
“Kalau ini rencana kamu, aku gak liat alasan kenapa kamu bunuh orang-orang itu,” kataku.
“Aku pikir kamu bakal kasih tau mereka tentang halaman yang hilang,” katanya malu-malu.
“Halaman apa?” Tetua nanya sambil ngelihat kita berdua. Dia ngikutin dia tanpa nanya kenapa dia bunuh sesama tetuanya.
“Tanya dia, sana,” aku desak dia.
“Kamu ngomongin apa sih?” Alpha Dickson bilang.
“Kamu ngapain?! Itu salah banget di kawanan. Informasi serius bisa masuk ke tangan yang salah?”
“Aku tau itu,” katanya pelan.
Tetua mondar-mandir di dalam kantor, kayak dia lagi berusaha bikin lubang di lantai.
“Alpha Dickson, kamu gak sadar ini? Kamu gak boleh ambil apa-apa dari perpustakaan, mereka disimpan di sana buat tujuan tertentu. Ada apa sama kamu?!” Tetua membentak dia.
“Jaga nada bicara kamu kalau lagi ngomong sama alpha kamu!” Alpha Dickson bilang dengan suara alpha-nya.
Tetua mundur karena dia takut sama Alpha Dickson.
Aku ngelihat semuanya dengan senyum di wajahku, tapi kemudian aku harus nanya.
“Sekarang kamu tau aku lagi bikin rencana jahat sama kamu, selanjutnya apa?” Aku nanya dia.
Dia berdiri hati-hati dan bilang dengan mata menyipit.
“Aku rasa kamu tau selanjutnya apa,” katanya tepat sebelum menerjang aku.
Matanya berubah kuning tepat sebelum dia udah ada di aku.