BAB LIMA PULUH TIGA
Sudut pandang Avilla
Pintu mobil kubanting keras banget sampai jendelanya bergetar, aku kesel banget sama diri sendiri, semua orang, dan mobil sialan itu!
Aku beneran emosi, aku ngamuk ke pintu dan kubuka pintunya.
Di sana, udah nungguin aku Camilla dengan kaki disilang.
"Lama bener nyampenya," katanya sinis.
"Ah, sana deh!" bentakku ke dia.
Dia kaget pas aku bentak, dan makin syok pas aku nggak nengok ke arahnya dua kali sebelum nginjak-nginjak tangga.
"Avilla, ada apa?!" tanyanya sambil ngejar aku.
"Nggak ada apa-apa!" jawabku, aku nyampe kamar dan ngelempar tas di lantai, terus ngelempar kunci di meja sembarangan.
"Avilla!" Dia minta perhatianku.
"Apaan?! Apaan?! Apaan?!" teriakku balik.
Pikiranku berantakan, aku marah dan bingung sama semuanya.
"Ada apa sih sama lo?!" tanyanya lebih lembut kali ini.
Aku nyungsep di kasur, tiba-tiba capek dan kecapekan dari kegiatan hari ini.
"Maaf, lagi nggak enak badan," kataku ke dia.
"Mau cerita nggak?" tanyanya.
"Iya, kasih aku waktu sebentar buat nenangin diri, nanti aku telepon," yakinku.
Aku narik napas panjang buat nenangin diri, aku nggak tahu apa aku mau cerita ke dia, dia pasti heboh, dan aku nggak butuh itu sekarang.
Aku balik badan buat ngadepin dia biar bisa ceritain kisahku.
"Aku lagi dandan buat ketemu Rohan lagi hari ini, kita udah sering banget jalan akhir-akhir ini.
Dia baik banget dan dia perhatian banget sama aku. Aku mau ngomong ke dia tentang aku yang seorang manusia serigala tapi aku mutusin buat nggak. Aku pikir lebih baik kita saling kenal dulu sebelum masuk ke rahasia.
Lagian kan lo tahu aku masih benci dia dikit karena udah bikin aku sakit hati.
Dia nelpon aku sambil mohon-mohon buat ketemu tapi aku nolak karena kita udah sering banget jalan akhir-akhir ini dan aku nggak mau bingung sama emosi aku.
Itu udah terlalu kuat buat akal sehatku dan aku nggak mau itu ngeblur penilaianku tentang dia tapi itu terlalu rumit.
Kita juga jalan hari ini dan aku mau kelihatan cantik.
Aku pake gaun yang aku simpan buat acara spesial, aku pikir ini waktu yang pas buat pake itu, aku lagi ngelilit rambut pas dia nelpon buat batalin, aku kesel banget karena dia yang mau kita ketemu duluan.
Aku pake dress kayak gitu buat makan siang. Aku lagi duduk sendirian di bilikku lagi makan siang sendirian pas aku lihat Ben, aku belum siap buat ada temen jadi aku nggak ngapa-ngapain buat narik perhatiannya tapi dia nemuin aku juga dan nyamperin mejaku.
"Hai Avilla" sapanya.
"Hai Ben, ngapain lo di sini?" tanyaku ke dia.
"Ya, aku mau makan siang," katanya.
Aku ngangguk ke dia tapi setengah hati, aku nggak mood buat ngurusin siapa pun.
"Ada apa sih sama lo?" tanyanya pas aku nggak ngomong sama dia beberapa saat.
"Aku lagi nggak mood aja sekarang," kataku ketus.
"Mau cerita nggak?"
"Nggak usah, makasih, aku nggak papa," yakinku.
Dia ngangguk tapi nggak ngomong apa-apa, aku makan makananku pelan-pelan karena aku mau diem lebih lama.
"Aku udah pengen ngomong sama lo dari dulu," katanya.
"Oh ya, soal apa?"
"Kita udah sering jalan bareng akhir-akhir ini dan aku penasaran apa lo udah berubah pikiran soal kita pacaran?" Tanyanya.
"Um... udah kubilang, Ben. Kayaknya nggak deh," kataku ke dia.
"Oke, apa ini bakal ngerubah pikiran lo?" Katanya tepat sebelum dia nyium bibirku.
"HAAAH?!!" teriak Camilla.
Aku ngangkat bahu, "Iya, dia nyium aku tepat di bibir"
"Dia beneran ngelakuin itu?" tanyanya.
"Iya, dia ngelakuin,"
Aku menghela napas, aku capek banget dan bingung sama tindakan Ben. Aku tahu dia suka aku tapi nggak sampai nyium aku di depan umum.
"Terus apa yang terjadi selanjutnya?" Dia nyemangatin aku.
"Kenapa lo ngelakuin itu?" tanyaku ke dia pas dia mundur.
"Karena aku mau lo ngerasain chemistry di antara kita, kita cocok banget," katanya.
"Ben! Udah kubilang kita nggak bakal pacaran, jalan kayak temen cuma buat kita bangun pertemanan aja," kataku ke dia.
"Dia ngegeleng ke aku dan dia pergi dengan marah dari restoran, ninggalin aku di sana ngeliatin punggungnya. Lo harusnya lihat mukanya, dia marah banget sama aku."
"Kenapa dia nyium aku?" tanyaku ke Camilla, yang sekarang rahangnya udah mau copot.
"Nggak tahu," katanya.
Butuh waktu buat kata-kata itu masuk, ekspresi mukanya berubah dari bingung jadi marah dalam dua detik.
"Gue mau bunuh dia!!!" Dia menyemburkan dengan beracun. Dia beneran marah ke Ben.
Aku benci jadi Ben sekarang.
"Gue lupa nambahin sesuatu," kataku malu-malu.
"Apaan?!" Camilla bertanya dengan nada mendesak.
"Rohan lihat semuanya"
"Rohan lihat kalian berdua?!!" Tanyanya.
"Iya, dia lagi duduk di meja sama gadis dan ngeliatin aku dengan muka kesel," kataku.
"Dia sama cewek lain tapi dia ninggalin lo?" Tanyanya lagi.
"Iya, gila kan? Dan dia punya nyali buat marah ke aku."
"Lo lagi dalam masalah, lo tahu gimana posesifnya cowok sama pasangan mereka?
Aku naruh kepala di tangan buat nenangin sakit kepala yang muncul di kepalaku sekarang. Aku lagi cerita ke Camilla apa yang aku pikirin pas pintu di dobrak dan cowok marah berteriak.
"Avilla!!!"